Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara Liberia

Marinir TNI menjelajah wilayah maritim & udara Liberia

Korps Marinir TNI menjelajah wilayah maritim & udara Liberia dengan Menggunakan Helikopter MI-24(Foto Pralangga)

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaKedua mata ini terjaga sudah, meski waktu masuh menunjukkan pukul 4:00AM, waktu sholat subuh masih sekitar 1 jam lagi. Entah mengapa kantuk itu sirna sudah, tidak seperti kawan satu kamar, perwira menengah asal Ecuador yang masih terlelap dibalik selimutnya terlihat cukup jelas dari kelambu jejaring nyamuk yang membungkus rapi tempat tidurnya. Beginilah biasanya saat jadwal giliran saya tiba untuk memimpin patroli udara pada jam 08.30 AM nanti, pikiran ini tidak berhenti berputar akan apa-apa saja yang perlu dipersiapkan. Alarm pada ponsel itupun berdering, segera disambarlah dengan cepat untuk menghentikan jerit alarm agar si kawan tidak ikut terbangun. Pagi ini, saya memang terbangun lebih awal dari alarm itu.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaSebagai pengamat militer PBB, atau umumnya dikenal sebagai UNMO, dimana panggilan singkat profesi kami disebut sebagai MILOBS (Military Observer) pada misi PBB untuk Liberia (UNMIL), salah satu diantara tugas pokoknya adalah melaksanakan patroli menyeluruh terhadap area penugasan atau disebut AOR Area Of Responsibility baik melalui jalan darat, patroli udara dan patroli udara dilanjut jalan darat (AIFP – Air Inserted Foot Patrol) Dengan didukung oleh kontingen aviasi dari Ukraine, patroli udara biasanya diawaki oleh 2-3 perwira UNMO yang mencatat hasil pengamatan udara pada sebuah area yang diawasi, bisa saja area tersebut adalah areal hutan dan pesisir pantai dimana pada laporan terdahulu baik dari hasil patroli sebelumnya sulit dijangkau melalui jalan darat atau atas dasar masukan dari elemen operasional yang menyarankan agar pengamatan lebih lanjut dan lebih dekat oleh komponen militer dapat dilakukan pada sebuah daerah tertentu.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaPagi itu, pukul 8:30AM, kita sudah siap menunggu penerbangan. Menurut jadwal yang tertera, penerbangan air reconnaissance kali ini akan menggunakan 2 unit helikopter jenis Mil Mi-24 (???? ??-24), helikopter tempur buatan Russia dibuat oleh Mil Moscow Helicopter Plant dan heli tempur jenis ini mulai beroperasi sejak tahun 1972 oleh AU-Soviet (ketika itu). Helikopter jenis ini terbilang cukup besar dimensinya namun kapasitas daya angkut personil yang terbatas.

Setelah lepas pre-flight briefing, menjelaskan daerah yang akan dilalui dan jalur penerbangan serta informasi ketinggian terbang dan lain sebagainya, pada pukul 8.15AM kita semua sudah bergegas naik, dalam hitungan kurang dari 5 menit terbanglah si heli ini meninggalkan Greenville Airfield menuju Air Patrol Route E.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaSunnguh berbeda sekali rasanya menaiki dan terbang dengan menggunakan heli buatan Russia ini, interior kabin-nya dirasa cukup sempit dan agak kaku, namun demikian fokus saya kali itu adalah membaca peta dan mengamati pemandangan diluar. Headset yang dikenakan saat itu tidak cukup baik untuk meredam suara deru baling-baling dan mesin heli, apa boleh buat daripada telinga ini dibuat pekak mending terus dipakai saja.

Putaran pertama penerbangan waktu itu adalah menjelajah sedikit ke arah barat, dimana data pada recon-sheet details mengindikasikan pada koordinat tertentu, berdasarkan laporan ditenggarai adanya hamparan lahan tanaman ganja yang tumbuh dibawah perlindungan pohon-pohon tinggi di hutan itu. Selain itu, daerah yang biasanya diamati dari udara melalui air reconnaissance patrol ini adalah daerah dimana tidak ada jalan darat yang bisa dilalui oleh kendaraan patroli UNMIL, dan cukup beresiko bila dilakukan dengen patroli berjalan (foot patrol).

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaSesekali sang pilot diminta untuk terbang sedikit lebih rendah agar para UNMO dapat dengan lebih mudah mengamati dan mencatat kondisi dibawah dan pergerakan-pergerakan yang dapat diamati, khususnya bila menjumpai sebuah kampung atau pemukiman dan mencocokannya pada peta operasi dan data-data lain-nya.

Sungguh menyenangkan rasanya mengikuti patroli udara ini, tidaklah begitu melelahkan ketimbang patroli jalan darat dengan berkendara off-road, hanya pekak saja kedua telinga ini jadinya.

Selepas usai mengamati daerah perbukitan dan hutan belantara, haluan helikopterpun berkeser ke arah pantai, dimana jalur pantai dan perairan disekitar pantai adalah lahan pengamatan berikutnya. Liberia dengan luas laut yang cukup luas ini semenjak pecahnya konflik telah menjadikan areal maritimnya terbuka tanpa terjaga.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaBanyak kapal-kapal penangkap ikan dengan tonase (bobot mati) kapal yang tergolong bukan nelayan tradisional acapkali terlihat masuk ke perairan Liberia, mendulang hasil laut secara illegal. Itulah salah satu tujuan air recon-patrol ini, memastikan, mendata integritas area udara dan maritim Liberia dan memberikan laporan hasil patroli ini kepada jalur komando UNMIL yang kemudian hasil rekomendasinya diberikan kepada pemerintah Liberia, dalam rangka pembenahan dan perbaikan program pembangunan serta keutuhan wilayah negara tersebut.

Hampir 2 jam kita berputar di udara, sebelum kembali ke pangkalan, jadwal patroli kita terakhir adalah mendarat di sebuah desa, menurut peta operasi, desa tersebut bernama; Banna Town. Desa ini tidak terhubung dengan jalur penghubung yang cukup baik untuk dilalui/jelajahi oleh kendaraan, meski itu kendaraan off-road sekalipun.

Setibanya dan mendarat disalah satu lahan terbuka, penduduk kampung sudah ramai menunggu disisi lapangan dengan rasa ingin tahu yang besar, mengingat belum pernah ada helikopter sebesar itu mendarat selama ini, dan bagi anak-anak kecil dikampung ini, melihat orang dengan warna kulit yang lebih cerah dari mereka merupakan sebuah peristiwa yang bagaimana ya..? (Mencari kata-kata yang tepatnya…) oh iya! – menakjubkan. Mengapa?, Karena begitu mereka melihat kita-kita turun dari heli dan berjalan menghampiri mereka, berbicara untuk mengetahui siapakah “Town Chief” istilah sebutan Pak Lurah dari kampung tersebut.

Sebelum bertemu dan melakukan wawancara para tetua kampung, seorang kawan baru saya di kampung itu mengajak untuk memperlihatkan sebuah bangunan. Dengan logat bahasa Inggris ala Liberia yang sulit dimengerti, namun saya sudah faham dari gerak-gerik dan bahasa tubuhnya ia minta agar tim UNMO dapat melihat dan memeriksa bangunan sekolah mereka.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaCukup memprihatinkan memang, tentu saja perjalanan nyasar ke ruang kelas ini adalah untuk membawa pesan agar pihak misi PBB dapat membantu membuatkan bangunan/ruang kelas yang memadai untuk anak-anak di kampung sini. Sudah dicatat, kok!. Kita serahkan laporan ini nanti ya dan ditunggu saja perkembangannya sambil terus rajin belajar ya.

Sekitar 30 menit wawancara team UNMO kepada para tetua kampung, data-data lengkap sudah terisi akan informasi demografi , infrastruktur, jumlah para ex-combatant (milisi) dan situasi kampung tersebut dan beberapa kampung yang berada disekitar Banna Town, beramah-tamah dengan penduduk setempat merupakan pengalaman unik yang ditutup dengan foto bersama sebelum pamit terbang kembali ke pangkalan.

Korps Marinir TNI Menjelajah Wilayah Maritim & Udara LiberiaMenjelajah wilayah pedalaman dan mengarungi ruang udara Liberia, adalah salah satu kegiatan rutin para UNMO/MILOBS yang bertugas di UNMIL, meski diakhir hari penat yang amat sangat dari 3-4 jam perjalanan pergi pulang, banyak kenangan seru dan cerita unik yang dialami oleh masing-masing anggota UNMO. Salam hangat dari afrika barat!….Sang merah putih selalu berkibar…..!!!!(Source : Pralangga)

1 komentar:

ZEEM CEELL 9 Juni 2010 pukul 21.36  

smoga sukses slalu tuk monocrom pdgl . . .ok . .?

Posting Komentar

Silahkan komentar pajak ditanggung pemilik blog ^-^

----------------------

Support Palestine