Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Militer. Tampilkan semua postingan

Satu Komando Untuk Menyatukan Unit Kontra Teror TNI & Polri

JAKARTA - Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri mengatakan, diperlukan satu komando untuk menyatukan unit-unit kontrateror yang dimiliki TNI dan Polri guna mengatasi terorisme.

"Kesatuan komando tersebut dalam koridor hukum dan kedudukannya di bawah Badan Antiterorisme Nasional," katanya dalam acara Simposium Nasional dengan tema Memutus mata rantai radikalisme dan terorisme di Jakarta, Rabu (28/7).

Dalam diskusi yang dimoderatori oleh Wapempelred Bidang Umum Perum LKBN Antara Akhmad Kusaeni, Kiki mengatakan, selain kepolisian yang sekarang menjadi penegak hukum, keikutsertaan anggota TNI juga diperlukan dalam memberantas terorisme.

Ia mengatakan, pada satu sisi Polri secara sendirian menghadapi aksi terorisme yang terorganisir secara global-regional, memiliki kesatuan komando, gerakannya bersifat multidimensi, dan dilakukan melalui gerakan bawah tanah.

Sehingga, lanjutnya, Polri mengalami kelebihan beban dan tidak mungkin mampu melakukan tugas memutus mata rantai radikalisme-terorisme dengan memadai. Menurut Kiki, pada sisi lain unit-unit yang dimiliki TNI dianggurkan, tidak diberi peran, paling jauh kebersamaan mereka hanya dalam latihan gabungan. "Kalau membiarkan tetap sendiri-sendiri justru akan berbahaya," katanya menambahkan.

Penyatuaannya, ujarnya, harus dari satu atap. Badan tersebut bersifat lintas organisasi dan lintas fungsi serta diberikan kewenangan dan anggaran yang cukup.

Ia menilai, terorisme akan berkembang luas ke depan karenanya diperlukan dibuat badan ini. Teknisnya dari mulai pencegahan hingga penindakan. Selain itu, ia juga mengimbau, untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan warga bangsa dan antar-bangsa melalui gerakan antiterorisme secara nasional yang terkoordinasi dalam lingkup global.

"Karena teroris bergerak 'senyap' sehingga sulit terdeteksi lebih awal jika kesadaran dan kewaspadaan rendah," katanya.

Kiki menilai, terorisme adalah musuh bagi kemanusiaan, kebangsaan, dan peradaban sehingga untuk mengatasinya diperlukan pendekatan yang bersifat multi aspek dan multi disipliner, dengan operasionalisasi terpadu, dan perangkat hukum yang cukup mendukung.

MEDIAINDONESIA.COM

Jangan Olok-olok Indonesia, Sir!

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kiri) tengah mendengarkan paparan Presiden Direktur PT Pindad Adik A Soedarsono mengenai produk munisi kaliber besar buatan pabrik industri pertahanan dalam negeri itu di Turen, Malang, Jawa Timur, Sabtu (8/5). (Foto: KOMPAS/Wisnu Dewabrata)

15 Mei 2010 -- Dalam perjalanan menuju salah satu pabrik munisi kaliber besar atau MKB PT Pindad di Turen, Malang, Jawa Timur, kepada Presiden Direktur PT Pindad Adik A Soedarsono dan Kompas, Direktur Jenderal Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Muda Gunadi bergurau ringan.

Menurut Gunadi, selama ini pemerintah biasa membeli MKB dari sejumlah produsen luar negeri. Namun, karena harganya yang mahal, ditambah alokasi anggaran negara yang juga kecil, pembelian setiap tahun selalu sedikit.

”Gara-gara mesannya selalu sedikit begitu, pihak penjual ada yang bergurau. Mereka tanya, ini kok belinya cuma segini? Sebenarnya yang membeli ini negara atau pemberontak?” ujar Gunadi tertawa miris diikuti Adik.

Bersama rombongan Gunadi, Adik, dan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kompas berkesempatan mengikuti acara kunjungan kerja, Sabtu (8/5) pekan lalu.

Pengadaan MKB rutin untuk memenuhi kebutuhan ketiga matra angkatan TNI. Misalnya, peluru-peluru mortir dan meriam atau munisi kaliber 105 mm dan 155 mm untuk pasukan artileri dan infanteri. Atau bom jatuh (udara ke darat) untuk jet tempur F-16 milik TNI Angkatan Udara.

Meski begitu, seiring rencana pemerintah menggenjot alokasi anggaran belanja pertahanan lima tahun ke depan, dari besaran 0,7 persen menjadi 1,2-1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, hal itu diyakini secara otomatis juga akan menggenjot besaran anggaran pembelian senjata, termasuk munisi, baik kaliber besar maupun kecil (MKB atau MKK).

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memprediksi kenaikannya signifikan, bahkan bisa meningkat sampai separuh dari total alokasi anggaran pengadaan, pemeliharaan, dan perawatan biasanya. Namun, dirasakan, jika pemerintah masih bergantung pada MKB produksi luar negeri, kenaikan tersebut dipercaya tidak akan berpengaruh banyak, mengingat harga pasar senjata internasional yang juga tinggi.

”Kalau kita pesan dari dalam negeri, harganya pasti lebih murah dan kita bisa beli banyak. Selain itu, roda perekonomian kita juga bisa lebih berputar karena industri pendukung dalam negeri lainnya juga bisa hidup. Apalagi PT Pindad ternyata selama ini mampu dan punya kapasitas menganggur (idle capacity) untuk memproduksi MKB,” ujar Sjafrie.

Adik membenarkan hal itu. Dia bahkan memastikan PT Pindad sudah memiliki dan menguasai alat serta teknologi pembuatan MKB sejak awal 1990-an. Fasilitas produksi MKB bahkan sudah didirikan di Turen sejak 1992, sementara mesin dan peralatannya sudah dibeli dari Swedia sejak 1997. Dia juga mengklaim siap jika pemerintah serius ingin memesan MKB dari PT Pindad.

Memproduksi

Selama ini, untuk jenis munisi kaliber kecil (MKK), PT Pindad mampu memproduksi dan memasok 114 juta butir berbagai kaliber MKK per tahun untuk kebutuhan TNI. Selain itu, pihaknya, menurut Adik, juga memiliki cadangan stok bahan baku amunisi sampai 2 ton yang bisa diolah menjadi munisi kaliber berapa pun sesuai pesanan. Sebagai ilustrasi, untuk membuat granat tangan, per butir hanya dibutuhkan kurang dari 30 gram mesiu saja. PT Pindad mampu membuat MKB sampai kaliber 155 mm.

”Kami ini ibarat dapur. Bapak mau pesan nasi goreng atau bubur ayam, ya, silakan pesan. Kami mampu membuatnya. Dahulu kami diminta Pak Habibie (mantan Presiden BJ Habibie) memproduksi sistem persenjataan FFAR (Forward Firing Aircraft Rocket). Alatnya sudah kami adakan, beli dari Swedia. Khusus untuk membuat MKB. Namun, sampai sekarang order munisinya enggak pernah turun,” ujar Adik.

Selain kemampuan produksi, PT Pindad, menurut Adik, sampai sekarang juga tidak bermasalah dengan dukungan finansial. Hal itu mengingat untuk pesanan yang dikerjakan selama ini, terkait kebutuhan dalam negeri atau pemerintah, PT Pindad mendapat dukungan dari pihak perbankan nasional. Sekarang tinggal menyinkronkan saja kedua hal tadi dengan dukungan kebijakan pemerintah dalam arti komitmen untuk membeli dari PT Pindad.

Klaim Adik, pernyataan Sjafrie, serta lontaran ”gurauan pahit” yang dipaparkan Gunadi sebelumnya, seharusnya bisa ”diolah” menjadi ibarat pepatah lama, ”bak gayung bersambut, kata berbalas”. Secara teknologi dan pengalaman, industri pertahanan dalam negeri, seperti PT Pindad, punya kemampuan dan bisa diandalkan. Selain itu, dukungan dan komitmen pendanaan serta kepastian daya serap pasar, dalam hal ini TNI, juga bisa dijamin. Apalagi komitmen anggaran dari pemerintah pun juga dinaikkan.

Sekarang tinggal komitmen bersama membangun dan membesarkan industri pertahanan dalam negeri. Memang tidak mudah. Namun, jauh lebih baik daripada terus bergantung pada bangsa lain, apalagi sampai diolok-olok, padahal sudah membeli dengan harga mahal. Jadi, mulai sekarang, hati-hati bicara, Sir. Kalau cuma MKB, industri kami mampu bikin sendiri.

KOMPAS

Strategi Jepang Amankan "Negeri Migas"

Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut meledakkan ranjau sisa Perang Dunia II di kawasan pantai proyek pembangunan Pelabuhan Umum Nasional, Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Rabu (5/5). (Foto: KOMPAS/Albertus Hendriyo Widi)

09 Mei 2010 -- Dalam operasi Saber Ranjau, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut menemukan ranjau antikapal pendarat sisa Perang Dunia II, di kawasan proyek pembangunan Pelabuhan Umum Nasional, Desa Sendangmulyo, Kecamatan Sluke, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ranjau sepanjang 1,5 meter dan berbobot 400-500 kilogram itu berkekuatan ledak dalam radius 300 meter.

Ranjau-ranjau yang ditemukan berada di kedalaman 5,6 meter hingga 27,3 meter, dengan jarak terdekat 400 meter dan terjauh 4,3 mil. Kalau tidak disapu bersih, ranjau akan membahayakan pembangunan pelabuhan dan kapal-kapal yang akan berlabuh.

”Ranjau tersebut masih aktif. Jika terpicu, baik karena sentuhan maupun getaran, ranjau itu akan menghancurkan benda di radius terdekat,” kata Komandan Satuan Tugas Latihan Penyapu Ranjau TNI AL Kolonel Laut (P) Benny Sukandari di Rembang, Jumat (7/5).

Menurut Benny, ranjau-ranjau tersebut dipasang Jepang sekitar tahun 1942. Di Jawa Tengah, kawasan pemasangan ranjau berada di pantai utara Rembang bagian timur hingga pantai utara Jawa Timur, terutama Tuban dan Lamongan.

Ketika pembangunan waterboom Lamongan, TNI AL pun menemukan delapan ranjau antikapal pendarat. Karena tidak dapat diangkat ke permukaan, ranjau-ranjau tersebut diledakkan di dalam laut.

Selain kaya dengan sumber daya alam, seperti kayu jati, kawasan pantai utara Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan pintu masuk dan keluar ”negeri migas” (minyak dan gas bumi)”, baik Cepu di Jawa Tengah maupun Bojonegoro di Jawa Timur. Tidak mengherankan jika Jepang berupaya mengamankan negeri migas dengan berbagai cara, termasuk menanam ranjau di daerah-daerah yang memungkinkan kapal pendarat Sekutu merapat.

Sumber minyak Jepang

Dalam buku 100 Tahun Perminyakan di Cepu (PPT Migas, 1993) disebutkan, produksi minyak mentah saat Perang Eropa (1939-1940) rata-rata 49,3 juta barrel per tahun. Pada tahun-tahun berikutnya, sumber minyak sangat penting dalam peperangan Asia Timur (1942-1945), yang waktu itu dijagoi Jepang.

Jepang menyadari minyak adalah sumber vital untuk pergerakan angkatan perang. Untuk keperluan itu, Jepang menyerang sumber minyak di Tarakan (Kalimantan Timur), Surabaya (Jawa Timur), dan Cepu (Jawa Tengah), yang waktu itu dikuasai Belanda. Untuk mencapai Cepu dan Surabaya, pada 1 Maret 1942 Jepang mendaratkan 120.000 tentara di pesisir timur Rembang, Pantai Kragan, dan Sluke. Pasukan dipimpin Letnan Hitoshi Mikmaru.

Sejarawan Rembang, Slamet Widjaya, mengemukakan, saat pertama kali tentara Jepang mendarat di Rembang, yang menjadi sasaran adalah galangan-galangan kapal Belanda di Sungai Lasem, Kecamatan Lasem. Waktu itu, Sungai Lasem adalah pelabuhan dagang besar dengan komoditas kayu, beras, batik, dan candu. ”Kemungkinan, Jepang ingin membawa minyak dari Cepu ke Jepang dengan kapal-kapal tanker melalui Pelabuhan Lasem,” katanya.

Tidak mengherankan jika dengan bantuan romusha, Jepang membangun kowen (tempat penimbunan minyak dalam tanah) di Desa Ngelo, Cepu. Kowen berfungsi untuk menyimpan residu kilang yang dicampur minyak mentah yang diisikan dalam kaleng 20 liter.

”Kaleng-kaleng itu kemudian diangkut dengan kereta api menuju Pelabuhan Lasem. Jepang mengolah minyak itu menjadi bahan bakar pesawat dan kendaraan bermotor,” kata Slamet.

Untuk mempertahankan kawasan vital tersebut dari Sekutu, Slamet menambahkan, Jepang melatih para buruh perminyakan berperang. Mereka tergabung dalam Seinenta I. Sementara di Rembang, Jepang memasang ranjau-ranjau antikapal pendarat di pantai dan memperkuat armada perangnya di Pelabuhan Lasem.

Pembersihan ranjau

Ketika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rembang membangun Pelabuhan Umum Nasional pada 2009, TNI AL mengingatkan keberadaan ranjau-ranjau yang dapat membahayakan proyek pembangunan sekaligus kapal-kapal yang nantinya masuk dan keluar pelabuhan. Peringatan itu membuat Pemkab Rembang menghentikan pembangunan pelabuhan senilai Rp 386 miliar itu sementara waktu.

Pemkab Rembang juga mengalokasikan dana Rp 3,7 miliar dari APBD 2010 guna pembersihan ranjau. TNI AL mengagendakan penyapuan ranjau tersebut 18 April-17 Mei 2010. Penyapuan itu didahului dengan perburuan atau pendeteksian ranjau. TNI AL melakukannya dengan menggunakan KRI Pulau Rupat 712 yang dikomandani Letnan Kolonel Laut (P) Aries Sucahyo.

Di dalam kapal itu ada pula Tim Dinas Hidrooceanografi TNI AL Jakarta. Mereka mendeteksi dan menentukan lokasi ranjau dengan magnetomer, side scan sonar, dan sub bottom profile untuk mendapatkan pencitraan dasar laut, serta Differential Global Position System (D-GPS) untuk menentukan lokasi ranjau.

Menurut Benny, berdasarkan peta hidrooceanografi TNI AL, ranjau diperkirakan berjumlah 54 buah dan berada di area seluas 2.197.500 meter persegi. Sebagian besar ranjau ada di bawah sedimentasi pantai. Pada tahap pertama pendeteksian, TNI AL menemukan ranjau dan mine like (benda yang mirip ranjau) sebanyak 31 buah.

TNI meledakkan ranjau-ranjau itu dengan KRI Pulau Rupat dan tiga tim perahu karet yang bertugas untuk menyesuaikan letak koordinat ranjau dan memasang bom pemicu. Peledakan ranjau dilakukan dengan cara memicu ranjau dengan bom laut yang dipasang dan diledakkan dekat ranjau.

”Setelah 31 ranjau tersapu bersih, kami akan mengecek kembali perairan itu. Jika masih ada ranjau atau benda mirip ranjau, akan kami ledakkan. Jika tidak ada, area itu berarti sudah aman dan pembangunan pelabuhan dapat dilanjutkan,” kata Benny.

KOMPAS

Hino Pasok Sasis untuk Kendaraan Militer Nasional


28 April 2010, Jakarta -- Untuk memperluas pasar, PT Hino Motor Manufacturing Indonesia menjajaki segmen baru, yakni kendaraan militer. Merek yang berada di bawah bendera Toyota ini, berencana memasok sasis untuk kendaraan militer Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Gunadi Shinduwinata, Ketua Umum Asosiasi Industri Pertahanan Otomotif (AIPO) semalam mengatakan, saat ini seluruh anggota asosiasi tengah melakukan pengembangan kendaraan khusus militer. Untuk prototipe digunakan sasis Hino produksi lokal.

"Ini bukan masalah Hino saja, lebih tepatnya seluruh anggota AIPO. Hino dipilih karena memiliki kandungan lokal 70 persen," ujar Gunadi. Dijelaskan pula, asosiasi juga menggandeng PT Pindad dan perusahaan karoseri nasional untuk memenuhi kebutuhan TNI tersebut. Menurut Gunadi, terdapat sekitar 9-12 varian yang akan diciptakan.

"Untuk menciptakan satu prototipe, sudah menghabiskan dana Rp800 juta per unit. Ini kendaraan berat. Biayanya akan berkurang seiring tumbuhnya permintaan," papar Gunadi.

Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan kebutuhan kendaraan militer yang masih mengandalkan produk impor secara perlahan dialikan ke industri lokal. “Potensi pasar kendaran militer nasional mencapai 3.000 unit per tahun,” ungkap Gunadi.


KOMPAS.com

Manisnya Buah "Kemandirian"



Oleh : ES, Saepudin, SP.

Tragedi Thiananmen rasanya belum lama berselang, sebuah tragedy kemanusiaan sekaligus tragedy penegakan demokrasi dalam pandangan bangsa Erofa, meskipun tidak demikian bagi bangsa China.

Apa pendapat pemerintah China mengenai kasus ini?, dengan tegas pemerintah China mengatakan, kasus Thiananmen adalah kultimasi campur tangan, sekaligus juga adalah kultimasi perlawanan bangsa China terhadap campur tangan. Dalam bahasa lain diplomat China menegaskan, “…tanpa adanya tindakan tegas yang diambil pemerintah China pada waktu itu (thn 1989), belum tentu China berada pada posisinya saat ini”.

Pada periode itu juga, kurang lebih beberapa tahun sebelum kejadian Thiananmen, pemerintah China mengutus seorang jenderal sebagai diplomat ke negeri ini, khusus untuk bertanya kepada Bpk Prof, Dr, BJ Habiebie mengenai strategi penguasaan teknologi, Bpk. Soeharto sebagai presiden waktu itu mengijinkan hal ini.

Benarkah mereka ingin belajar?, setidaknya ada dua opsi jawaban, pertama mereka benar ingin belajar dari indonesia, dan kedua, mereka melakukan sebuah survai, sebuah cara untuk memperoleh masukan dan memperkaya persepsi untuk membuat keputusan final, langkah strategis dalam penguasaan teknologi.

Menjelang tiga dekade berselang China mengumumkan pembuatan pesawat tempur generasi ke empat menurut hitungan mereka, generasi kelima menurut hitungan orang Erofa dan Amerika. China memberinya kode J-XX, merupakan sebuah lompatan dari J-10 (ex Lavi Israel) dan J-11 (Duplikat SU-27/30 Rusia).

Pesawat ini diklaim China memiliki kemampuan setara F-22 Raptor Amerika, SU-37 Berkut atau T-50 Pakfa Rusia. Berbagai kalangan militer dan pengamat militer memperdebatkan klaim ini. Mereka yang konsern terhadap teknologi meragukan kemampuan China dalam penguasaan Airframe, Avionik dan Weapon Aiming Control (system computer pengendali senjata), sedangkan mereka yang konsern terhadap system operasi sebuah pesawat tempur yang syarat teknologi, meragukan kemampuan China dalam dukungan dan operasionalisasinya.

Secara nyata F-22 maupun F-35 adalah wujud seni teknologi tinggi, gabungan keindahan perancangan, kecanggihan teknologi komputer yang disandang (system komunikasi dan pemandu senjata) dan daya hancur/mematikan, tak salah kalau yang satu disebut “Raptor” dan yang lainnya “Lightning”.

Bagi sebuah bangsa sebesar China, yang jika dipandang dari sisi kesejarahannya telah berulang kali melahirkan dinasti besar, termasuk juga pemikir-pemikir besar (Pilsuf), bahkan dibidang militer, taklah mengherankan jika dalam tempo relatif singkat mereka sanggup mengklaim buah dari visi yang diretas semenjak kurang lebih 3 dekade ini.



Dalam tulisan saya di kaskus formil (Sebuah Visi Bagi seorang Visioner) saya membahas, “…., dibutuhkan setidaknya empat faktor utama untuk merealisasikan visi ini : Sumberdaya Manusia; Bahan baku/material; Infrastruktur; Modal”. Pertanyaannya, apakah Indonesia, tepatnya pemimpin-pemimpin Indonesia memiliki visi seperti ini?, karena meskipun setiap departemen mengklaim meiliki renstra, cetak biru, dan banyak istilah lainnya, kenyataan dilapangan berkata lain. Disepanjang penelusuran dari tahun 1994 – 2008, ganti pejabat ganti kebijakan, bahkan ganti renstra (lebih dikenal dengan istilah “kilometer nol”).

Bahkan jika pada awal dekade pertama itu China hanya memiliki sumber daya manusia saja (orang china sangat kosmopolit), tidak sulit bagi mereka untuk memperoleh insinyur lulusan Negara-negara maju (Jerman, Amerika, Perancis, Rusia, Jepang, dsb). Ditambah dengan kepiawaian mereka dalam memanfaatkan peranan kapital dengan nominal besar/sangat besar, Tak heran kalau mereka sanggup membeli teknologi “Lavi Israel” sesuatu yang sangat, bahkan paling sulit dilakukan, bukan bandingan kalau harus dibandingkan dengan membeli lisensi SU-27/30.

Dengan jumlah arsenal tak terkira, yang dipasok era Soviet di semua matra, artinya China juga memiliki material. Hasil penelusuran terhadap beberapa wawancara personil TNI yang dikirim ke Soviet/Rusia di media cetak, diketahui Soviet/Rusia memiliki konsep pendidikan dalam penguasaan dukungan operasional alat yang dibeli Negara sahabat, sangat komprehensif, jadi tidak aneh kalau setidaknya, konsep dasar fungsi alat diketahui dengan baik oleh teknisi-teknisi China.

Pada jamannya, desain perancangan teknik (Blue Print) dilakukan diatas kertas, sedangkan sekarang semua dilakukan secara elektronik/digital. Pada jamannya dulu, sebuah blue print bisa berujud ribuan lembar, sekarang bisa hanya berujud selembar chip seukuran kuku, terlebih jika kita libatkan juga kemungkinan penggunaan teknologi nano.

Pembatasan perdagangan pada jaman sekarang, sebagai bagian dari pencegahan resiko jatuhnya teknologi kepada pihak musuh atau saingan sungguh sangat sulit dilakukan.
Mencermati semua titik lemah ini, dan menyaksikan kecepatan gerak maju yang dimiliki China saat ini, dan dengan mencermati beberapa kasus peperangan di dunia maya, jelas sudah, China memiliki infrastruktur itu.

Hakikatnya, perangkat keras (hardware) teknologi adalah sama, apakah ketika dia digunakan sebagai perangkat sipil atau militer, hanya kemasan dan isi programnya saja yang akan berbeda. Sehingga tak aneh kalau akan terjadi substitusi fungsi-fungsi hardware dari sipil ke militer, hanya dengan cara menformat ulang kemudian mengisinya dengan program militer, kemudian dikemas dengan kemasan militer, jadilah dia perangkat mematikan.

Kamajuan China secara militer saat ini hampir telah merata disemua matra, kecerdasan mereka dalam menduplikasi sangat nyata terlihat, mulai dari “Crotale” atau “Roland” yang berubah ujud jadi system SAM persi mereka.

Kita juga bisa melihat metamorfosa rudal balistik, mulai dari pengembangan rudal balistik jarak dekat, jarak menengah, rudal jelajah, hingga ICBM.

Kata kuncinya, jika Negara Indonesia ingin mencontoh, sebuah ironi tentunya, maka pimpinan negeri ini harus memiliki Visi jauh kedepan, Nasionalis, konsisten dan piawai dalam memainkan kapital dengan nominal besar, maka tidak akan sulit untuk kembali melampaui mantan murid ini, tanpa harus memiliki Bom Nuklir tentunya.

Alutsista

Kapal Korea Selatan ditembaki Torpedo


21 April 2010, Seoul, Selasa - Hubungan negara serumpun Korea Selatan dan Korea Utara menegang lagi. Ketegangan muncul setelah tim penyelidik Korsel memastikan bahwa kapal korvetnya berbobot 1.200 ton, KM Cheonan, yang tenggelam 26 Maret, diduga ditembaki torpedo Korut.

Seorang aktivis berbasis di Seoul, Selasa (20/4), menuduh tentara Korut ada di balik insiden tenggelamnya Cheonan. Aktivis mengutip penjelasan seorang perwira militer dari Korut yang mengaku bertanggung jawab atas musibah ”peledakan” hingga kapal tenggelam. Saat itu 58 awak selamat dan 38 orang tewas.

Hasil investigasi tim Korsel tidak lama setelah insiden itu menjelaskan, kapal meledak bukan dibom, melainkan ditembaki torpedo. Penyelidik belum memastikan asal torpedo. Penjelasan aktivis semakin menegaskan dugaan pejabat Korsel sebelumnya bahwa torpedo itu ditembakkan Angkatan Laut Korut.

Terkait kasus Cheonan, Seoul tetap tidak terang-terangan menyalahkan Pyongyang. Korut menyangkal bahwa torpedo yang menyasar ke korvet Korsel itu berasal dari angkatan lautnya. Persoalan ini membuat hubungan kedua negara tegang lagi. Korut, Selasa, mengancam mengakhiri proyek kerja sama di sebuah kawasan industri di perbatasan kedua negara, tepatnya di Kaesong.

Kedua Korea ini memang tidak pernah menandatangani perjanjian damai sejak Perang Korea 1950-1953 yang berakhir dengan gencatan senjata. Meski begitu, kedua negara serumpun itu sudah tiga kali terlibat bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan laut. Terakhir terjadi pada November lalu.


KOMPAS

PT IPTN dan KAI Produksi bersama pesawat tempur

Jet tempur T-50B Golden Eagle melepaskan tanki bahan bakar tambahan, dimungkinkan PT. IPTN akan produksi bersama dengan KAI 200 jet tempur jenis ini. (Foto: DID)

29 Maret 2010, Bandung -- " Kita pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Di mana itu semua sekarang?" tegas B.J. Habibie, mantan presiden RI, di depan peserta kuliah umum bertema Filsafat dan Teknologi untuk Pembangunan di Balai Sidang Universitas Indonesia (UI), Depok, Jumat lalu (12/3).

Ya, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektare.

Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.

Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari N-250.

PT DI menerima pesanan 120 pesawat. Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. ''Kami berupaya keras menyelesaikan proyek itu sesuai target,'' tutur Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito saat ditemui Jawa Pos di Bandung pekan lalu.

Namun, PT DI harus menelan pil pahit. Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund alias IMF mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia tak boleh lagi berdagang pesawat. ''Itu benar-benar memukul kami,'' kata Budiwuraskito, pria Semarang ini.

Padahal, kata Budi, PT DI telanjur merekrut banyak karyawan. Sejumlah teknologi dan peralatan sudah didatangkan. Semua siap produksi. Pesawat contoh bahkan sudah jadi, sudah bisa terbang, dan siap dijual. Tinggal menunggu proses sertifikasi penerbangan. ''Nggak tahu, mungkin ada negara yang takut tersaingi kalau Indonesia bikin pesawat,'' ujarnya mengingat sejarah kelam PT DI itu.

Bayangan menerima duit gede USD 1,2 milliar menguap. Malah, PT DI harus memikirkan cara menghidupi karyawan yang telanjur direkrut. Proyek memang batal, tapi orang-orang yang hidup dari PT DI juga tetap harus dikasih makan. ''Akhirnya, mau tidak mau, kami mem-PHK karyawan secara baik-baik,'' katanya.

Pada 2003, PT DI memutus kerja sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan.

Namun, PT DI berupaya mempertahankan diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.

''Pabrik-pabrik pembuat panci itu kan perlu alat pencetak. Biasanya mereka impor dari luar negeri. Mengapa harus impor kalau bisa kita bikinin. Dan, itu lumayan untuk membuat roda perusahaan berjalan,'' kata Budi. Tapi, urusan panci itu tak banyak membantu. Pada 2007, BUMN yang didirikan pada 26 April 1976 itu dinyatakan pailit alias bangkrut.

PT DI tak lantas almarhum. Pemerintah masih punya keinginan mengembangkannya meski modal yang diberikan tak terlalu deras. Dan, kendati sudah dinyatakan pailit, masih ada rekanan dari mancanegara yang percaya akan kualitas produk PT DI.

Salah satunya British Aerospace (BAE). PT DI mendapat order sebagai subkontrak sayap pesawat Airbus A380 dari pabrik burung besi asal Inggris itu. Juga ada order dari dua negara Timur Tengah enam pesawat jenis N-2130. Apalagi, Indonesia sudah menceraikan IMF. Artinya, PT DI sudah leluasa berdagang pesawat.

Budi menuturkan, order enam pesawat itulah yang bisa dibilang ''menyelamatkan'' PT DI saat itu. Laba dari pesanan itu digunakan sebagai modal pengembangan. Selain itu, PT DI semakin fokus menggarap pasar komponen dan bagian-bagian pesawat dengan menjadi subkontrak atau offset program. Antara lain bagian inboard outer fixed leading edge (IOFLE) dan drive rib alias ''ketiak'' sayap milik Airbus A380.

Airbus A380 adalah pesawat bikinan Airbus SAS (Prancis) yang sudah kondang di jagat dirgantara. Pesawat ini biasanya digunakan untuk penerbangan internasional lintas benua dengan muatan 500 hingga 800 penumpang. ''Kita mencoba meraih untung dengan menjadi subkontrak dari pemain besar,'' kata Budi.

Kondisi PT DI terus membaik. Dalam waktu dekat mereka akan memproduksi pesawat tempur dengan dana urunan bersama pemerintah Korea Selatan (Korsel) sebesar USD 8 milliar. Indonesia menyumbang USD 2 milliar, sedangkan pemerintah Korsel USD 6 milliar. ''Tapi, untuk Indonesia itu akan kita konversikan dalam bentuk tenaga, teknologi, dan pengembangan pesawat tersebut,'' katanya.

Kemampuannya tak jauh berbeda dengan F-16 Fightning Falcon, pesawat tempur kondang buatan Amerika Serikat yang digunakan 24 negara di dunia. Rinciannya, 200 unit untuk Korsel dan 50 untuk Indonesia. ''Proyek ini memakan waktu sampai tujuh tahun,'' kata Budi.

Selain itu, order dari Timur Tengah terus berdatangan. Sejumlah negara memesan CN-235untuk pesawat pengawas pantai, pengangkut personel militer, dan pemantau perbatasan. Dari dalam negeri, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga memesan enam unit helikopter dan Badan SAR Nasional (Basarnas) empat unit.

Budi mengakui, tren industri dirgantara di Indonesia terus naik kendati perlahan. Paling tidak, tujuh tahun ke depan, PT DI bisa meraup laba yang lumayan dari membuat pesawat. Sebenarnya, kata Budi, keuntungan itu bisa didongkrak bila ada keberanian mencari pinjaman. Tapi, itu bakal sulit. ''Tidak banyak bank yang mau. Sebab, risikonya terlalu tinggi. Padahal, semakin tinggi risiko, janji revenue juga besar,'' kata Budi yang lulusan Teknik Penerbangan, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan menyelesaikan gelar MBA di Belanda itu.

Strategi pengembangan PT DI saat ini, kata Budi, tak bisa terlalu ekspansif. PT DI memilih berjalan perlahan dengan memanfaatkan margin keuntungan sebagai modal pengembangan. ''Begini saja, lebih aman,'' kata Budi lantas tersenyum.

Menanti Gelombang Pensiun Besar PT DI pada 2014

Saat ini PT DI memiliki 4.200 karyawan. Tapi, jumlah itu akan turun tiap tahun. Pada 2014, badan usaha milik negara (BUMN) produsen burung besi itu hanya akan dioperasikan 300 orang. ''Yang senior banyak yang harus pensiun,'' kata Manager Corporate Communication Rakhendi Triyatna saat ditemui di kompleks PT DI di Bandung pekan lalu.

Kondisi itu tak bisa dibiarkan. Apabila, jika tidak ada penanganan, grafik perkembangan PT DI yang terus menanjak bisa terjun bebas. Mereka akan mengalami persoalan krisis tenaga kerja. ''Karena itu, secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan akan ada rekrutmen besar-besaran,'' kata Rakhendi yang juga akan pensiun dua tahun lagi.

Tahun ini 25 orang akan ditarik menjadi karyawan. Pada 2011, sebanyak 700 lebih tenaga kerja akan direkrut. Mereka yang direkrut tidak hanya dari bagian produksi, tapi juga bagian manajemen perusahaan. ''Setiap 300 orang yang direkrut terdapat 30 orang lulusan ITB (Institut Teknologi Bandung, Red),'' kata lelaki 53 tahun itu.

Hingga sekarang, kata Rakhendi, PT DI masih cukup bisa mengandalkan tenaga dari dalam negeri. Pekerja di bagian produksi umumnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Penerbangan atau umum. Selain SMK, tenaga sarjana yang diambil kebanyakan dari Teknik Penerbangan ITB.

Direktur Integrasi Pesawat PT DI Budiwuraskito mengatakan, karyawan yang bekerja di PT DI tak perlu susah beradaptasi. Sebab, budaya kerja PT DI sudah sangat kuat terbentuk. Mereka yang bertugas mengebor dan mengecor aluminium alloy (bahan ringan kuat pembuat bodi pesawat) dan komposit cukup mengikuti para senior. ''Dua bulan di sini kami training pasti sudah bisa,'' katanya.

Soal tenaga kerja, PT DI memang tak punya banyak masalah. Yang menjadi masalah hanyalah peralatan dan mesin untuk membuat pesawat. Peralatan yang dipakai kini masih terbatas. Bahkan, untuk meng-handle order yang terus berdatangan, peralatan tersebut sampai overload.

Menurut Budi, pesawat dibuat dalam beberapa bagian yang terpisah untuk kemudian disatukan. Biasanya, panjang setiap bagian sekitar 5 meter. Nah, mesin yang berkapasitas 5 meter itulah yang cukup terbatas. Proses produksi menjadi lama karena mesinnya terbatas. ''Harus antre,'' kata Budi, lantas tersenyum.

JAWA POS

Selongsong Rudal Nyasar Disebabkan Terjangan Angin 20 Knot

Lokasi ujicoba rudal di lapangan tembak Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Lumajang. (Foto: Harry Purwanto)

28 Januari 2010, Lumajang -- Hembusan angin dengan kecepatan 20 knot menjadi penyebab selongsong rudal yang diujicoba PT Pindad Malang berbalik arah dan jatuh di gubuk milik warga. Akibat kejadian ini, dua penghuninya mengalami luka.

Hal tersebut disampaikan Asisiten Deputi Menristek bagian Riset, Teknologi dan Ekonomi, Gunawan, pada sejumlah wartawan di Hotel Aloha, Jalan Ahmad Yani, Lumajang, Rabu (27/01/2010) malam.

"Hasil kajian dan evaluasi kami, Pada saat diluncurkan, angin mendadak bertiup kencang hingga 20 knot," kata Gunawan.

Menurut dia, dengan hembusan angin yang sangat kencang menyebabkan arah rudal yang diluncurkan menyimpang. Sehingga rudal yang memiliki daya jangkau 11 Kilometer berbalik arah menghantam gubuk.

"Dugaan kami, yang terkena hembusan angin yang kencang dibagian belakang rudal, sehingga berbelok," tutur Gunawan.

Selongsong rudal yang memakan korban dua warga merupakan type RX1210, memiliki berat 45 kg, panjang 3 meter, gaya dorong 1.000 Kilogram dan memiliki jangkuan 11 km.

Gunawan menambahkan, untuk biaya perawatan dan pengobatan dua korban akan ditanggung oleh pihak PT Pindand Malang dan Kemeterian Riset dan Teknologi. Bahkan rumah tinggal korban juga akan diperbaiki.

"Pokoknya segala sesuatu yang diakibatnya uji coba rudal, biayanya kami tanggung semua," jelas Gunawan.



detikSurabaya

Indonesian Military Teknologi 2009



SURABAYA - Dua anggota Yonif 500/Raiders, mencermati alat pengintai dari udara tanpa awak, di stan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Departemen Pertahanan (Dephan), Graha ITS Surabaya, Rabu (4/11). Acara bertajuk ‘Indonesian Military Technology Exhibition (IMTE) 2009′ tersebut, untuk mengenalkan teknologi militer Indonesia buatan anak bangsa. FOTO ANTARA/Eric Ireng/ed/pd/09

Kelelahan Jungle Survival, 10 Prajurit AS dievakuasi


BANYUWANGI - Marinir Amerika atau United States Marine Corps (USMC) menghadapi tantangan berat. Pasalnya, mereka harus menjalani latihan bertahan hidup di dalam hutan Selogiri, Banyuwangi, Jawa Timur, seperti yang dituturkan Kepala Tim (Katim) Survival Kapten Marinir M. Machfud di hutan Selogiri, Banyuwangi, Selasa (20/10).

Cuaca pagi itu sangat cerah dan sedikit demi sedikit mulai berangsur panas. Ratusan Prajurit Marinir Amerika tampak bersemangat dengan persiapan segala perlengkapan tempur seperti layaknya akan berangkat ke medan perang.

Senapan laras panjang M.16 A4 dan GPMG serta senjata canggih lainnya yang dilengkapi dengan infra merah tak pernah lepas dari genggaman mereka. Tak ketinggalan, peralatan komunikasi yang cukup canggih dan alat Global Positioning System (GPS).

Maklum, pasukan elit dari Amerika ini sedang bersiap akan mengikuti sesi latihan perang dan bertahan hidup di dalam hutan yang dikenal dengan istilah Jungle Survival, latihan ini dilakukan di hutan Selogiri, kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Hutan Selogiri merupakan hutan tropis yang sangat mendukung untuk latihan perang dan memiliki karakteristik daerahnya memungkinkan pasukan untuk membuat manuver-manuver saat berperang di dalam hutan. Pohon-pohonnya sangat rindang. Gemericik air sungai yang jernih, suara burung dan hewan lainnya seakan menyambut Marinir Amerika untuk menjajal medan baru yang belum mereka kenal. “ Show me the jungle,” ungkap salah satu tentara Amerika kepada seorang pemandu dari Marinir TNI AL Serma Mar M. Ani Rosidin.

Latihan Survival kali ini diikuti 362 Marinir Amerika yang dipandu oleh 16 pelatih, 3 Interpreter, 4 Personel Komunikasi, 5 Prajurit Regu Pandu Tempur (Rupanpur) Korps Marinir TNI AL. Kegiatan survival ini merupakan bagian dari rangkaian latihan bersama Marinir Amerika dan Indonesia dangan nama Latihan bersama (Latma) Interoperability Field Training Exercise (IIP-FTX) 2009 yang digelar 17-24 Oktober 2009.

Latihan bersama yang dikomandani oleh Kolonel Marinir Nur Alamsyah ini dilakukan di empat tempat, antara lain di Pantai Banongan, Puslatpur Marinir Karangtekok, kecamatan Banyu Putih, Situbondo, Pasewaran dan hutan Selogiri, Banyuwangi.

Sebanyak 362 Prajurit Marinir Amerika yang menjelajahi hutan liar itu dibagi menjadi 2 gelombang, tiap gelombang dibagi menjadi 5 Tim yang tiap tim dipandu oleh para pelatih dan dokter dari Korps Marinir TNI AL.

Satu persatu tim di berangkatkan, didalam hutan, sudah disiapkan rintangngan dan jebakan ranjau yang dipasang sedemikian rupa sebagai tantangan. Blarr ... Sesekali terdengar suara ranjau yang meledak dari balik rerimbunan hutan. Tak ayal, para prajurit sempat kalang kabut. Namun mereka tetap saling koordinasi dan satu komando dengan komandan regunya.

Sebelum menjalani perang di dalam hutan, para prajurit Marinir Amerika ini dibekali beberapa pengetahuan dan wawasan terkait cara bertahan hidup di dalam hutan. ”Mereka juga kita ajari bagaimana cara makan tumbuh-tumbuhan di hutan, menghadapi hewan buas seperti ular dan beberapa jenis binatang buas lainnya”, terang Kepala Tim Survival Kapten Marinir M. Machfud.

Seorang pelatih lainnya Pelda Marinir Mujiono mempraktekkan bagaimana cara yang benar dalam menjinakkan ular. Beberapa prajurit Marinir Amerika pun juga ada yang mencoba makan beberapa jenis tumbuh-tumbuhan liar .

Dengan bekal logistik yang terbatas, seorang tentara memang dituntut bertahan hidup. Tiap gelombang latihan Survival ini memakan waktu empat hari empat malam. Tanpa persediaan makanan, pasukan diharapkan mampu bertahan selama empat hari empat malam.

Namun karena kelelahan dan tidak tahan dengan cuaca tropis, terhitung sejak Senin, 19 Oktober hingga Selasa 20 Oktober 2009 telah tercatat 10 prajurit Marinir Amerika yang tumbang dan tidak sanggup melanjutkan latihan survival dimedan latihannya para prajurit Korps Marinir TNI AL dari semua strata kepangkatan.

Ranus (26 th) berpangkat BFC kelahiran California misalnya, ia merupakan salah satu dari 10 Prajurit Marinir Amerika yang terpaksa harus dievakuasi oleh tim medis dari Korps Marinir Indonesia akibat kelelahan menghadapi hutan tropis yang menurutnya cukup berat dijadikan ajang latihan bertempur baginya.

source : DISPENAL

Indobatt membekali Kontingen Spanyol


Indobatt membekali Kontingen Spanyol


Indobatt membekali Kontingen Spanyol

Indobatt membekali Kontingen Spanyol(Lebanon, 9/10). Indonesian Battalion (Indobatt) atau Satgas Yonif Mekanis TNI Kontingen Garuda XXIII-C/UNIFIL kembali memberikan pembekalan kepada para perwira Angkatan Darat Spanyol yang akan bertugas di Lebanon atau bergabung dengan UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) dua bulan ke depan, Kamis siang (8/10) di Markas Batalyon Indonesia, Adshit al Qusayr UN POSN 7-1. Ini adalah merupakan tradisi dari Kontingen Spanyol yang selalu mengirimkan pewiranya terlebih dulu untuk melaksanakan peninjauan daerah operasi yang akan menjadi tanggung jawabnya kelak di kemudian hari.

Rombongan yang berjumlah sekitar dua puluh lima personel tersebut dipimpin oleh Letnan Kolonel Vicente Lunar Bravo (Senior Next Spanish Contingent Staff), diterima oleh Komandan Satgas Letkol Inf. R. Haryono dan Wadansatgas Letkol Mar. Suherlan serta segenap perwira staf Indobatt.

Indobatt membekali Kontingen SpanyolDalam kegiatan tersebut, Kasiops Satgas Mayor Psk Sumarsono memberikan penjelasan tentang kondisi terkini yang sedang terjadi di wilayah operasi Indobatt yang meliputi tugas dan tangung jawab, kegiatan yang dilaksanakan, kekuatan personel satgas serta kondisi kewilayahan yang menjadi tanggung jawab satgas yang meliputi 13 desa dengan luas 80 km2 sepanjang 11 km blue line (batas operasi UNIFIL). Selesai menerima paparan, rombongan bergerak ke lapangan untuk meninjau batas operasi UNIFIL yang berada di UN POSN 8-33 Syeikh Abbad Tomb, yang merupakan home base Kompi Bravo Indobatt. Di lokasi ini, Kapten inf. Totok Prio Kismanto selaku Komandan Kompi Bravo memberikan penjelasan seputar daerah operasi yang langsung berbatasan dengan Israel.

Sebelumnya, di hari yang sama, Kamis pagi (8/10) Brigadir Jenderal Casimiro Sanjuan Martinez juga berkunjung ke Indobatt untuk mendapatkan masukan seputar kondisi terakhir daerah operasi UNIFIL yang menjadi tanggung jawab Indobatt.

Indobatt membekali Kontingen SpanyolBrigjen Sanjuan adalah merupakan perwira tinggi Angkatan Darat Spanyol yang akan diplot sebagai Komandan Sektor Timur UNIFIL, menggantikan Brigjen Espejo Garcia, yang akan berakhir masa tugasnya pada pertengahan Desember mendatang. Sanjuan bukanlah personel baru di lingkungan UNIFIL, sebelumnya dia pernah bertugas sebagai staf Mabes UNIFIL – Naquora pada saat berpangkat kolonel, dan juga sebagai Komandan Sektor Timur UNIFIL tahun 2007.

Kondisi seperti ini tidak mengherankan bila terjadi pada personel militer Spanyol, yang sedang bertugas di Lebanon, dikarenakan kontingen Spanyol melakukan rotasi pasukannya yang bertugas pada misi UNIFIL setiap 4 bulan sekali.

Indobatt membekali Kontingen SpanyolSelama berada di Indobatt Jenderal Sanjuan yang didampingi oleh dua orang stafnya mengatakan bahwa selama ini Indobatt telah melaksanakan kerja sama yang baik dengan Brigade Spanyol. Dia juga sudah mengenal beberapa perwira Indonesia yang bernah bertugas pada tahun 2007, salah satunya adalah Kolonel Inf Surawahadi yang merupakan Komandan Satgas Konga XXIII-A/UNIFIL. SP-85/X/Konga XXIII-C/UNIFIL. (Source : Pralangga)


Dua Negara Tawarkan Pengganti Pesawat Nomad TNI-AL

Skytruck/Bryza buatan Polandia

Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan, saat ini ada dua negara yang menawarkan untuk menjual pesawat pengganti Nomad. Hal ini ditegaskan Juwono terkait adanya wacana penggantian pesawat Nomad pascamusibah jatuhnya pesawat jenis Nomad milik TNI Angkatan Laut di Nunukan, Kaltim.

“Ada dua negara yang menawarkan, yaitu Polandia dan Korea Selatan. Dephan dan TNI masih mempertimbangkan mana yang akan dibeli untuk menggantikan pesawat Nomad dua sampai tiga tahun mendatang,” kata Menhan Juwono Sudarsono, Kamis (10/9).

Fokker 50 MPA

Ia juga menjelaskan, ada opsi untuk mendahulukan pembelian pesawat jenis patroli laut yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia (DI). Namun, untuk mewujudkan hal itu diperlukan suntikan dana khusus dari pemerintah kepada PT DI.

“Kita mengharapkan hal itu karena komitmen Presiden dan Wakil Presiden adalah kita mendahulukan industri penerbangan dalam negeri,” kata Juwono. source : Kompas

4 Salibis AS Jadi Santapan Bom Di Irak


BAGHDAD (Arrahmah.com) - Militer AS harus kembali kehilangan personilnya di Irak. Pada dua tempat terpisah, empat tentaranya kembali harus kehilangan nyawanya terkena ledakan bom tepi jalan di utara Irak dan Baghdad.

Pada hari Selasa (8/9) tepatnya pukul 11 : 40 waktu setempat, tiga tentara salibis multinasional terbunuh ketika sebuah bom yang diarahkan ke patroli mereka meledak di utara Irak.

Dalam insiden terpisah, militer mengatakan sebuah bom tepi jalan lainnya menghantam patroli tentara AS di selatan Baghdad, menewaskan seorang tentara salibis AS lainnya.

Kematian tersebut menyebabkan meningkatnya kematian tentara yang terjadi di dalam tubuh militer AS sejak memulai invasinya di Irak pada Maret 2003 menjadi 4.343 orang.

Warga Inggris Ingin Tentaranya Ditarik Dari Afghanistan

London, (ANTARA News) - Lebih dari separoh warga Inggris berpendapat bahwa operasi-operasi militer di Afghanistan sia-sia dan menginginkan agar tentara mereka ditarik secepatnya, menurut jajak pendapat umum yang diterbitkan Selasa.

Lima puluh delapan persen warga berpendapat serangan terhadap garis keras Taliban di Afghanistan sebagai perang `yang bisa dimenangkan` dan hanya 31 persen yang tidak setuju, menurut jajak pendapat yang dilakukan oleh surat kabar Independent, seperti dikutip dari AFP.

Jajak pendapat menunjukkan 52 persen warga ingin tentara ditarik, sedangkan 43 persen menyatakan lebih suka mereka ditugaskan di negara tersebut.

Sekitar 75 persen meyakini bahwa tentara Inggris kurang dilengkapi kebutuhan mereka untuk melaksanakan tugas mereka di Afghanistan dengan selamat, dibanding dengan 16 persen yang berpendapat mereka sudah dilengkapi keperluan yang cukup memadai, katanya.

Namun demikian, 60 persen dari peserta jajak pendapat tidak berpendapat perlunya penambahan tentara dan sumber-sumber daya untuk dikirimkan ke garis depan, menurut survei ConRes yang diikuti 1.008 warga Inggris, yang dilakukan melalui telepon pada awal bulan ini.

Jajak pendapat ini terjadi pada saat Inggris, Senin, mengumumkan berakhirnya serangan besar berdarah terhadap Taliban di selatan Afghanistan, sedangkan Kementerian Pertahanan mengatakan, dua lagi tentara mereka tewas di sana.

Perdana Menteri Gordon Brown, yang dipaksa untuk membela kebijakan negaranya mengenai Afghanistan karena prajurit yang menjadi korban terus meningkat, mengklaim Operasi Cakar Macan Kumbang yang dilakukan pasukannya di provinsi Helmand selatan berhasil.

Perdebatan berlangsung hebat di Inggris berkaitan apakah tentara mereka telah sumber daya yang cukup karena jumlah tentara yang tewas kian meningkat.(*)


TAHAPAN-TAHAPAN LATIHAN TEMPUR YANG HARUS DILAKUKAN TONTAIPUR KOSTRAD



Mereka harus melakukan sejumlah tahap pelatihan, yang memakan waktu cukup lama, yakni hampir 7 bulan. Fase demi fase harus mereka lalui, yang tidak semua prajurit mampu lolos menempuh kualifikasi sebagai prajurit yang memiliki kemampuan peleton pengintai tempur ini. Karenanya, walaupun sudah hampir 4 kali angkatan, prajurit Tontaipur belum banyak jumlahnya. Setiap angkatan hanya mampu meloloskan hampir 500 prajurit TNI AD yang memiliki kualifikasi Tontaipur.

Memang mereka bukanlah prajurit biasa. Para prajurit yang dilatih dalam Peleton Intai Tempur ini nantinya akan menjadi prajurit TNI yang memiliki kualifikasi khusus, dengan kemampuan Tri Matra, yakni baik kemampuan darat, laut, maupun udara. Bukan main! Para anggotanya direkrut dari satuan-satuan Kostrad, yang masih harus menempuh sejumlah seleksi ketat. Mereka yang tak mampu mengikuti poerjalanan dalam seleksi itu, mustahil akan bisa ikut pendidikan Tontaipur. Karenanya, hanya mereka yang benar-benar mampu secara fisik, kesehatan, karakter, mental, dan ketrampilan militer saja yang bisa mengikuti latihan ini.

Menurut Komandan latihan Tontaipur, Letkol Infanteri Indra J. Nasution, para prajurit yang dilatih dalam Tontaipur ini benar-benar hasil saringan yang sangat ketat. Mereka harus melalui sejumlah tahap seleksi, mulai dari tahap pertama, berupa latihan tempur Hutan Gunung yang berlangsung di medan latihan Kostrad yang terletak di Gunung Sangga Buana. Tahap kedua, adalah latihan Intelijen Aspek Laut , yang dilaksanakan di Satuan Pasukan Katak Armada RI Kawasan Barat. Tahap ketiga, latihan Sandi Yudha di Pusdik Kopassus, Batujajar, mengingat mereka yang memiliki kualifikasi ini harus punya kemampuan intelijen tempur. Dan pada tahap keempat, merupakan latihan aplikasi dari seluruh kegiatan yang pernah dilatihkan, bertempat di Sanggabuana, Cianjur, Cariu, Purwakarta dan kembali lagi ke Sanggabuana. Latihan ini tentunya untuk menguji kemampuan mereka dalam satu latihan yang utuh. 

Latihan ini juga diikuti oleh level Perwira, Bintara, dan Tamtama. Dalam catatan, hingga saat ini pelatihan Tontaipur telah meluluskan 5 gelombang, dengan jumlah personel rata-rata sebanyak kurang lebih 100 personel.

Masih menurut Letkol Indra, bahwa mereka yang mengikuti latihan Tontaipur ini sebelumnya harus memiliki kualifikasi Para. Karenanya, mereka yang belum menempuh kualifikasi Para, dan akan diikutkan dalam Tontaipur, mereka harus menempuh Para terlebih dahulu di Pusat Pendidikan Para, Kopassus, Batujajar, Bandung. Persyaratan lainnya adalah memiliki dedikasi tinggi, kesemaptaan jasmani minimal mencapai nilai 70, kemampuan menembak 75 persen, memiliki kemampuan navigasi darat tingkat mampu dan diutamakan bagi mereka yang pernah mengikuti operasi.

“ Itu memang menjadi persyaratan yang harus dipenuhi. Maka beberapa waktu lalu sejumlah anggota Tontaipur yang berasal dari Brigif-9 dan Brigif-13 Kostrad yang belum memperoleh wing Para, terlebih dahulu dikirim ke Satuan Pusdik Passus untuk mengikuti pendidikan Para Dasar. Mereka harus melakukan terjun minimal sebanyak tujuh kali penerjunan, yakni berupa terjun gunung hutan bersenjata, terjun malam dan terjun bersenjata dengan membawa kontener”, ujarnya saat Patriot mengunjungi kamp-nya di Sangga Buana, Jawa Barat beberapa waktu lalu. 


GAGASAN AWAL TONTAIPUR

Gagasan awal pelatihan Tontaipur ini lebih banyak ditimba dari pengalaman di lapangan dan berbagai penugasan tempur. Di situ banyak ditemukan kenyataan bahwa satuan kecil lebih efektif dalam melaksanakan manuver di lapangan. Dengan pengalaman ini maka timbulah sebuah gagasan dari Pangkostrad waktu itu, tahun 2001, Letnan Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu untuk membentuk satu pasukan kecil yang dilatih khusus dengan ketrampilan-ketrampilan tempur serta persenjataan dan perlengkapan khusus guna melaksanakan operasi tempur dengan hasil yang optimal.
Gagasan ini kemudian diwujudkan kedalam program pembentukan Taipur, yang diawali dengan penyusunan konsep latihan dan alat perlengkapan yang digunakan, hingga pelaksanaannya yang dilakukan secara tahap demi tahap. Dalam latihan pembentukan Taipur juga digagas tentang materi pelatihannya, yang antara lain menyangkut berbagai taktik tempur diajarkan, selain kemampuan satuan kecil, maupun kemampuan perorangan. Materi-maateri ini harus dilatihkan untuk mengasah dan membentuk sosok prajurit yang mempunyai keterampilan, taktik, teknik, dedikasi, kesemaptaan jasmani serta mentalitas handal, yang memang merupakan syarat mutlak bagi seorang prajurit Taipur.

Gagasan ini tentu juga disandingkan dengan kondisi factual, bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara kepulauan. Karenanya sebagai satuan yang senantiasa siap digerakkan ke segala penjuru tanah air, Tontaipur harus memiliki kemampuan baik di darat, laut, maupun di udara untuk melaksanakan infiltrasi ke sasaran sebelum melaksanakan pertempuran yang menentukan.

Dan untuk melaksanakan infiltrasi dengan baik, maka Tontaipur harus dilatih oleh para pelatih khusus yang ahli di bidangnya serta berpengalaman di medan operasi sesungguhnya. Untuk materi aspek udara, Tontaipur dilatih oleh pelatih ahli dari jajaran Kostrad dan Kopassus. Sedangkan untuk materi kelautan, Tontaipur dilatih secara khusus oleh Pasukan Katak, dari Satuan Pasukan Katak TNI AL di Armada Barat.

Tak bisa dipungkiri, sesungguhnya berbagai pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa satuan yang paling banyak bermanuver pada saat penugasan operasi adalah tingkat peleton. Itulah sebabnya sehingga merekalah yang harus dibeklali berbagai kemampuan tempur. Kostrad, sebagai Bala Kekuatan Terpusat, yang setiap saat siap bergerak untuk diterjunkan kapanpun dan di manapun, mau tidak mau harus membina para prajuritnya agar memiliki kemampuan seperti itu. Tak heran ketika Letjen TNI Ryamizard menjabat sebagai Pangkostrad, gagasan itu segera bisa direalisasikan. Intinya, satuan di jajaran Kostrad harus mendidik prajuritnya memiliki kualifikasi Peleton Intai Tempur (Tontaipur), yang memang berada di brigade-brigade jajaran Kostrad.

Perlu dipahami, bahwa setiap brigade infanteri di Kostrad memiliki peleton pengamanan, yang menjadi satuan pertama melakukan manuver ke depan. Peleton Pengamanan inilah yang kemudian dilatih menjadi Ton Pam yang handal dengan pelatihan Tontaipur itu. Brigif Kostrad sengaja melatih mereka secara khusus untuk dapat menyediakan satuan intelijen tempur yang sangat handal. Mereka memang harus dilatih secara intensif sehingga memiliki kualitas yang benar-benar dapat diandalkan.

Latihan Hutan Gunung



Sebagai mata dan telinga brigade, maka Tontaipur mempunyai tugas mengumpulkan keterangan. Caranya tentu saja dengan melakukan pengintaian, penyusupan ke daerah lawan, interograsi, wawancara, mencari keterangan di daerah operasi untuk kepentingan taktis tempur. Bukan hanya itu, Tontaipur juga memiliki tugas pengamanan terhadap orang-orang penting, baik VVIP maupun VIP dari kegiaatan lawan. Mereka juga bertugas melakukan pengamanan instalasi vital dari kegiatan lawan, serta pengamanan terhadap sarana dan material. Dalam tugas ini, mereka berada dalam posisi sebagai Peleton Intai Keamanan (Tontaikam).

Mengingat tugas-tugas yang demikian inilah, maka latihan yang mereka harus lakukan bukan hanya meliputi latihan operasi tempur seperti kerjasama pesawat terbang, komunikasi tempur dan proses bantuan tempur, tetapi juga mencakup operasi psikologi, hukum humaniter dan HAM. Kerjasama pesawat terbang merupakan mata latihan penting dalam mendukung patroli tempur dan patroli pengintaian yang merupakan bagian dari perang hutan.

Latihan teknik dasar tempur bagi Tontaipur dilakukan di medan latihan Kostrad di Gunung Sanggabuana, Jawa Barat. Di area seluas 160 hektar itu mereka berlatih, termasuk materi latihan perang hutan gunung. Medan latihan itu adalah milik Yonif Linud-305/Tengkorak, yang telah digunakan sejak tahun 1990.

Di atas lahan yang demikian luas itu para prajurit Kostrad menempa diri menjadi prajurit yang handal, professional, dengan dedikasi tinggi. Berbagai fasilitas pelatihan dan sarana penunjang latihan disediakan, yang setiap saat siap digunakan untuk menyelenggarakan latihan bagi para prajurit tanpa ada kekhawatiran mengganggu milik masyarakat, merusak lingkungan atau tuntutan ganti rugi. Sebab areal itu adalah milik Kostrad.

Secara mudah kita akan menemukan para prajurit ini berlatih di medan yang sesungguhnya. Di Gunung Sanggabuana ini, yang masih berupa gunung, hutan, dan sungai memang sangat ideal untuk latihan patroli, mountaneering, menembak curam, terjal, membaca jejak, mengenal jebakan ranjau darat maupun jebakan tradisional, jungle survival dan mata latihan lainnya yang erat kaitannya dengan perang hutan. Khusus untuk latihan jungle survival, di hutan tropis Jawa Barat, paling sedikit diketahui terdapat 130 jenis tumbuhan yang daun, batang, kulit kayu maupun akarnya dapat dimanfaatkan untuk bertahan hidup di hutan. Medan latihan Gunung Sangga Buana ini merupakan aset yang sangat berharga sebagai sarana penunjang dalam membina kesiapan operasional satuan jajaran Kostrad melalui latihan. Para prajurit Tontaipur itu melaksanakan latihan selama 4 bulan untuk mengasah kemampuan tempur hutan gunung.

Latihan Intelijen Aspek Laut



Latihan intelijen aspek laut ditempuh oleh para prajurit Tontaipur di Satuan Pasukan Katak TNI AL. Misalnya tentang teknik tempur bawah air, yang juga diajarkan dengan menggunakan fasilitas Kopaska . Di sini pun sebenarnya mereka masih disaring untuk memenuhi persyaratan toleransi fisik penyelaman. Uji toleransi dilakukan di decompression chamber RSAL. Toleransi fisik diuji dalam ruang udara bertekanan tinggi dengan simulasi penyelaman pada kedalaman 20 meter di bawah permukaan laut.

Di Kopaska, Tontaipur mendapat pembekalan teknik tempur bawah air selama empat minggu oleh para instruktur yang handal. Mata latihan di antaranya ialah Renang gaya bebas dan gaya katak; Renang dengan Pin dan Snorkle; Renang laut dengan perlengkapan siang dan malam, Kompas bawah air, Selam Militer, Renang Terikat, Cast and Recovery, Helly Cast, Terjun Laut, Rubber Duck; Renang Gaya gunting; Pancangan kaki p,antai; Taktik satuan kecil; Pengetahuan motor tempel; Long Range Navigation; dan Full Mision Profile. Mereka dilatih lebih dari sebulan, yakni 40 hari untuk aspek intelijen laut.

Latihan terjun laut dilakukan dengan pesawat NC-212 Skadron-600 Penerbangan TNI AL dan NC-212 Skadron-212 Skadron-2 Penerbangan TNI AD di teluk Jakarta. Penerjunan dengan mengenakan wet suit dan fins, menggunakan parasut Mc1.1B dan parasut cadangan T-7A. Pendaratan laut dilakukan dengan cara cut away pada ketinggian antara lima sampai tiga meter di atas permukaan laut. Tontaipur dipersenjatai dengan senapan serbu buatan Bulgaria masing-masing AK-47 versi SNUP untuk perwira dan bintara serta AK-47 versi SN untuk tamtama. Sebagian AK-47SN dilengkapi dengan pelontar granat 40mm jenis PG-40. Senjata itu ditempatkan dalam rubber duck Avon W-400 yang diterjunkan dengan dua cargochute PG-1336. Setelah rubber duck diterjunkan melalui ramp door, maka kelompok Tontaipur segera menyusul terjun dengan penerjunan statik. Jumlah anggota tim maupun jenis senjata yang digunakan, ditentukan sesuai dengan kebutuhan tugas yang akan dileksanakan. Penyusupan mendekati sasaran dapat dilakukan dengan jalan penerjunan dari pesawat bersayap tetap, heli cast, atau disusupkan ke pantai dengan perahu karet yang diturunkan dari kapan perang maupun kapal selam. Dalam Penerjunan Pembebasan Irian Barat tahun 1962, tim Khusus Angkatan Darat berhasil didaratkan dengan perahu karet dari kapal selam kelas Whiskey buatan Sovyet, RI Tjandrasa, di sebelah barat Hollandia (Jayapura).


Mereka harus memiliki rasa percaya diri yang tebal. Hal ini tentu sesuai pula dengan semboyan pada sebuah papan di pinggir lapangan apel Komando Latihan Kostrad di gunung Sangga Buana Komplek yang berbunyi "Hari ini latihan, besok bertempur, lusa menang."
Latihan Sandi Yudha

Latihan tahap ketiga adalah latihan Sandi Yudha. Latihan ini biasanya dilaksanakan di Pusat Pendidikan Pasukan Khusus (Pusdik Passus) Batujajar, Bandung, Jawa Barat. Waktunya juga selama 40 hari. Materi latihan cukup padat, yang harus ditempuh juga oleh prajurit Tontaipur. Materi latihan itu adalah : Penyelidikan (Interogasi, Wawancara, KODO, Elisitasi, dan Matbar). Pengamanan (Pengamanan Personel, Pengamanan berita, Pengamanan Materiil, Pengamanan Instalasi, dan Pengamanan Kegiatan). Penggalangan, Administrasi Intelijen, Teknik Cover, Komunikasi Rahasia, dan Safe House.

Sedangkan latihan tahap ke empat, yakni tahap aplikasi, yang merupakan aplikasi dari seluruh rangkaian kegiatan latihan yang pernah dilatihkan. Latiihan ini juga menggunakan areal latiihan baik di Sanggabuana, Cianjur, Cariu, Purwakarta dan kembali lagi ke Sanggabuana. Waktunya cukup lama, yakni selama 1 bulan. Materi latihan yang harus ditempuh antara lain: Intelijen, jumpa tempur, Patroli Pantai, Patroli Pemburu, dan lainnya.

Perjalanan latihan yang dilalui oleh para prajurit itu tidak otomatis mulus. Mereka yang tidak mampu menempuh pelatihan-pelatihan yang demikian padat itu, juga tidak akan diberi kualifikasi sebagai prajurit Tontaipur. Karenanya bisa dikatakan, bahwa penyaringan demi penyaringan untuk menjadi prajurit Tontaipur memang sangat berat. Misalnya, pada pelatihan Taipur 1, dari 105 personel yang mengikuti latihan, hanya 97 yang dinyatakan lulus. Pada pelatiihan Taipur II, dari 110 personel yang mengikuti kegiatan latihan, hanya 87 dinyatakan lulus.Pelatihan Taipur III, dari 72 personel yang mengikuti kegiatan latihan, yang dinyatakan lulus sebanyak 65 orang. Dan seterusnya, hal ini menunjukkan betapa tidak mudahnya melewati pelatihan sebagai Tontaipur.


Atribut Taipur


Untuk mengenali prajurit Tontaipur tidaklah terlalu sulit. Atributnya memiliki ciri khas, yang sangat membedakan dengan prajurit Kostrad atau TNI AD lainnya. Mereka umumnya menggunakan pakaian seragam hitam-hitam, dengan lambang perisai. Maknanya adalah :

Bentuk dasar Perisai. Melambangkan bahwa Ton Taipur merupakan pelindung Negara Kesatuan Republik Indonesia dari segala bentuk ancaman baik yang datang dari Dalam maupun Luar Negeri yang dapat mengganggu stabilitas Nasional.

Warna Dasar Hijau. Mengandung arti bahwa Ton Taipur merupakan bagian dari TNI Angkatan Darat.

Bendera Merah Putih Melintang. Mengandung arti bahwa dalam dada Prajurit Taipur selalu tertanam jiwa Merah Putih dan senantiasa siap mempertahankan kedaulatan negara.

Pisau.. Melambangkan keberanian prajurit Taipur yang tidak gentar dalam menghadapi berbagai uji dan coba.

Anak Panah Melintang. Mengandung arti kecepatan dalam melaksanakan tugas yang diberikan.

Tulisan Cep,at Tepat Tuntas. Mengandung arti bahwa Ton Taipur Cepat dalam bertindak, Tepat pada sasaran dan Tuntas dalam melaksanakan berbagai tugas .

Baju Hitam Tempur. Baju hitam Taipur dikenakanpada saat even-even khusus, baik yang sifatnya protokoler ataupun penugasan yang sifatnya rahasia, pertempuran jarak dekat ataupun aksi khusus.

Lambang Merah Putih Pada Lengan Kanan Baju PDL. Mengandung arti bahwa semngat pengabdian untuk menegakkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa, siap sedia dalam mempertahankan setiapjengkal wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Begitulah Pasukan Ton Taipur. Kehadirannya sangat membanggakan, dan mampu menjadi cermin sebagai prajurit yang handal, professional, berdedikasi tinggi. Semoga dengan kehandalan yang dimilikinya ini, mereka tetap menjadi prajurit yang komit terhadap jatidirinya, sebagai prajuriot pejuang, prajurit rakyat, prajurit nasional, sekaligus prajurit professional. Bravo, Tontaipur! (Patriot),

BMP 3F Tiba Pertengahan Tahun ini


Jakarta - Korp Marinir TNI Angkatan Laut pertengahan tahun depan memiliki satu kompi atau sebanyak 17 unit tank tipe BMP-3F buatan Rusia. "MoU sudah diteken," kata staf Korp Marinir Brigadir Jenderal Baharuddin, Selasa (18/11) di markas Marinir, Cilandak-Jakarta di acara Hari Ulang Tahun Marinir ke-63.

Tank ini akan bergabung dengan Resimen Kaveleri Marinir. Baharuddin belum memastikan tank ditempatkan di Armada TNI AL kawasan Barat atau Timur. Tank BMP-3F adalah generasi terbaru dari tank pendahulunya, tipe BVP. Selain langsung bisa terjun dari darat ke laut (tanpa tenggelam), tank BMP-3F memiliki keunggulan mampu berjalan di air dengan kecepatan 13 kilometer per jam atau sekitar 7 knot per jam.

Untuk perjalanan darat tank ini mampu menempuh kecepatan hingga 70 kilometer per jam, dengan kemampuan berjalan di medan pegunungan mencapai 45 kilometer per jam. “Tank ini juga mampu menembak dengan berjalan.

Tank ini juga dilengkapi dengan senjata kaliber 100 milimeter canon, serta 38 butir amunisi yang mampu menembak ke udara dengan sasaran pesawat maupun helikopter. Selain itu juga dilengkapi dengan senjata 7,62 milimeter yang merupakan senjata mesin ringan. “Pokoknya ini yang tercanggih saat ini.”

Source : TEMPO INTERAKTIF

Jerman dan Norwegia Bekerjasama Dengan RI Tolak Bom Cluster


London - Direktur Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata (KIPS) Departemen Luar Negeri, Desra Percaya, mengatakan bahwa Indonesia mendorong upaya perlucutan senjata di kawasan Asia.

Hal itu dsiampaikannya pada kesempatan menghadiri Berlin Conference on the Destruction of Cluster Munitions yang berlangsung di Berlin, demikian keterangan dari KBRI Berlin yang diperoleh Koresponden ANTARA London, Rabu.

Direktur KIPS juga menyampaikan pemerintah Jerman dan Norwegia bekerjasama dengan Indonesia merencanakan untuk menyelenggarakan Regional Meeting on Cluster Munitions pada akhir tahun 2009 .

Indonesia akan mengundang negara-negara penandatangan Convention on Cluster Munitions (CCM) untuk hadir dan mensukseskan pertemuan regional tersebut.

Dikatakannya rencana pertemuan tersebut atas pertimbangan pembahasan mengenai penghancuran cluster munitions yang lebih dominan dilakukan di kawasan Eropa.

Dengan demikian pelaksanaan regional meeting di Indonesia memberikan kesempatan bagi kawasan Asia untuk dapat terlibat lebih aktif dalam upaya universalisasi CCM, ujarnya.

Konferensi Berlin Conference on the Destruction of Cluster Munitions diselenggarakan Pemerintah Jerman bersama Norwegia itu dihadiri sekitar 276 peserta yang mewakili pemerintah, organisasi internasional, maupun civil society organization (CSO) yang terkait dengan isu pemusnahan cluster munitions.

Pada pertemuan tersebut, Direktur KIPS juga bertindak sebagai Chairman pada salah satu sesi diskusi dengan tema “National planning, reporting and international cooperation”.

Konferensi yang bertujuan mendorong berbagai negara untuk mengimplementasikan kewajibannya yang diatur dalam Convention on Cluster Munitions (CCM), serta membahas isu perkembangan terakhir yang terkait penandatanganan berbagai hal.

Di antaranya ratifikasi dan implmentasi; stockpile destruction, retention, kerjasama dan bantuan internasional dan mekanisme pelaporan serta langkah ke depan dalam pencapaian komitmen CCM.

Pada pembukaan konferensi, Minister of State Jerman, Gernot Erler menegaskan isu perlucutan senjata merupakan salah satu prioritas kebijakan luar negeri Jerman sehingga Jerman berkomitmen mendukung upaya global dalam penghancuran cluster munitions sebagaimana diatur dalam CCM.

State Secretary Norwegia, Espen Barth Eide menghimbau agar negara-negara untuk segera “hit the ground running” dalam mengimplementasikan komitmennya terhadap CCM.

Sambutan yang disampaikan anggota parlemen Jerman (Bundestag), Andreas Weigel menyatakan ratifikasi CCM merupakan salah satu agenda dan tugas penting dari parlemen.

Parlemen juga berkewajiban untuk memastikan alokasi anggaran negara guna pencapaian komitmen-komitmen CCM dan alokasi bantuan bagi para korban cluster munitions.

Hingga Juni, CCM telah diratifikasi oleh 10 negara dan ditandatangani 98 negara.

Sejumlah 12 negara penandatangan CCM telah melakukan penghancuran cluster munitions dalam berbagai tipe.

Upaya pemusnahan cluster munitions merupakan proses yang kompleks dilihat dari banyaknya jumlah munisi, aspek teknis pemusnahan, dan aspek lingkungan yang perlu dipertimbangkan.

Oleh karena itu, perencanaan pemusnahan cluster munitions perlu disusun seawal mungkin agar negara dapat memenuhi target penghancuran yang ditetapkan yaitu dalam delapan tahun.

Tanpa adanya perencanaan yang rinci dan pengaturan pembiayaan yang baik, negara akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban CCM baik dari segi strategis maupun teknis.

Wakil Menteri Luar Negeri Laos, Boumkeut Sangsomsak juga berkesempatan menyampaikan rencana penyelenggaraan pertemuan the 1st meeting of state parties pada November 2010.

Sementara itu, pada Oktober 2009 Chile akan menyelenggarakan regional meeting dan pada awal 2010 Universal Conference in Preparation of the 1st Meeting of State Parties.


(Sumber : Antara)

Kehadiran Pemimpin Menambah Moril Prajurit Kopaska

Kehadiran Pemimpin Menambah Moril Prajurit Kopaska



Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI Soeparno melakukan uji coba beberapa persenjataan yang dimiliki oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) TNI AL berlangsung di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kopaska yang terletak di Batu Menyan Lampung.



Kehadiran seorang pemimpin ditengah-tengah prajuritnya yang sedang melakukan tugas, merupakan kepuasan dan kebanggaan tersendiri bagi prajurit Pasukan Katak TNI AL, bahkan rasa lelah sekalipun yang selama dua minggu melakukan aktivitas latihan yang banyak menguras tenaga dan pikiran tanpa mengenal waktu akhirnya terbayar sudah dengan kehadiran Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat Laksamana Muda TNI Soeparno didampingi Asisten operasi Pangarmabar Kolonel Laut (P) Darwanto, S.H. Komandan Satuan Pasukan Katak Armada Barat Letkol Laut (T) Andi Kriswanto, dan Danlanal Lampung Kolonel Laut (P) Hargianto.

Kehadiran Pangarmabar ditengah-tengah prajurit Kopaska disambut dengan yel yel dan lagu-lagu pemacu semangat khas Kopaska, suasana semakin meriah dan penuh keakraban Dalam kunjungan tersebut Pangarmabar memotivasi prajuritnya untuk tetap semangat dan profesional melakukan tugas dan latihan kapanpun dan dimanapun, dipundak kalian memikul beban tugas yang berat tetapi mulia ingat sesanti Prajurit Pasukan Katak “Than Hana Wighna Tan Sirna” Tiada rintangan yang tidak dapat diatasi camkan itu.

Latihan K-2 Kopaska TNI AL kali ini yang berlangsung di Pusat Latihan Tempur Komando Pasukan katak Batu Menyan Lampung dengan berbagai materi antara lain terjun freefall, Survilience Tactical Airbone Operation (Stabo), EOD (Explosive Ordnance Disposal), Sniper, GLG, Fasroofe, materi rawa laut dan hutan. (Sumber : Dispen TNI-AL)


Bunuh Diri di Kalangan Militer AS Meningkat


Jumat, 10 Juli 2009 09:54 WIB

Washington (ANTARA News) - Bunuh diri di kalangan militer Amerika Serikat meningkat mencapai 88 kasus pada enam bulan pertama tahun ini, dibanding 67 kasus pada periode sama 2008, menurut data Pentagon yang dikeluarkan Kamis.

Angka terakhir itu dikonfirmasikan sebagai peringatan dari para perwira tinggi AS bahwa jumlah kasus bunuh diri di kalangan tentara yang sedang menjalankan tugas aktif dalam tahun ini melewati rekor sebelumnya 2008.

Pada tahun lalu, 128 tentara mengakhiri hidupnya, atau naik dari 115 pada 2007, di tengah berulangnya pelaksanaan tugas-tugas tempur.

Kasus bunuh diri 2008 di kalangan prajurit dinas aktif meningkat menjadi 20,2 persen per 100.000, melampaui angka bunuh diri berdasarkan demografi nasional 19,5 persen per 100.000 pada 2005, menurut catatan tahun lalu.

Dari 88 kasus bunuh diri yang dilaporkan dalam tahun ini, 54 di antaranya dibenarkan dan 34 lainnya masih dalam penyelidikan, kata pernyataan Departemen Pertahanan.

Sekitar 90 persen dari kasus tersebut sebelumnya, dugaan bunuh diri telah dibenarkan, kata para pejabat.

"Setiap tentara yang bunuh diri mempunyai latar belakang yang berbeda dalam melakukan hal itu," kata Brigjen Collen McGuire, direktur satuan tugas pencegahan bunuh diri di kalangan militer.

"Meskipun bunuh diri bisa berdampak pada siapapun, kami mendapati bahwa prajurit pria, terutama dalam menjalankan tugas tempur, berusia antara 18 sampai 27 tahun yang banyak melakukannya," kata McGuire.

Pihak militer telah merespon masalah makin meningkat ini dengan menambah program pencegahan bunuh diri, termasuk upaya-upaya dalam menyaring masalah kesehatan mental tentara, serta melakukan kegiatan untuk mengurangi stigma yang mencegah tentara memerlukan perawatan berkaitan dengan masalah itu.

Trauma pertempuran berpadu dengan dampak berulangnya tugas telah menimbulkan meningkatnya rekor bunuh diri di seluruh tugas angkatan bersenjata dan khususnya pada Militer AS, yang memikul beban berat dalam perang di Irak dan Afghanistan. (*)

Presiden Hadiri Penyerahan 40 Unit Panser APS


Jumat 10 Juli 2009 08 :46 WIB 

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menghadiri acara penyerahan 40 unit Panser APS buatan PT Pindad kepada Departemen Pertahanan .

Kepala Pusat Penerangan TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tamboen mengatakan kepada ANTARA News di Jakarta, Jumat bahwa penyerahan 40 panser buatan putra-putra Indonesia itu akan dilakukan di Hanggar CN- 235 PT Dirgantara Indonesia Jalan Padjadjaran Kota Bandung, Jumat .

"Ke-40 panser APS itu merupakan bagian dari 154 panser yang dipesan pemerintah kepada PT Pindad. Sebelumnya, 20 unit sudah diserahkan oleh PT Pindad ke Pemerintah dan kini telah digunakan TNI. Jadi total sudah 60 unit selesai," ujarnya.

Untuk memproduksi 150 unit panser APS itu, PT Pindad mendapat dana talangan dari Bank Mandiri, Bank BNI dan BRI. Satu unit panser memiliki harga Rp5,5 miliar atau lebih rendah dari produksi Perancis seharga Rp10 miliar.

Panser APS-2 6X6 memiliki dimensi 6000x2500x2500, berat 11/14 ton, kecepatan 90 km/jam, dengan radius putar 10 meter, dan daya tanjak 31 derajat. Panser ini juga telah dilengkapi dengan persenjataan 7,62 mm, 12,7 mm (infanteri) dan AGL 40 mm (kavaleri).

Tidak itu saja, panser PT Pindad ini juga dilengkapi peralatan khusus seperti sarana penglihatan malam dan Winch 6 ton. Untuk alat komunikasi, terdapat intercom set plus VHF/FM (anti jamming dan hopping) serta GPS. (anataranews)

----------------------

Support Palestine