Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bilateral. Tampilkan semua postingan

RI-Turki Bangun Kerjasama di Bidang Industri Pertahanan

UAV Turki
Puna ANKA produksi industri pertahanan Turki. (Foto: TAI)

Jakarta - Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Rabu (19/1), di kantor Kementerian Pertahanan Jakarta, menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Turki untuk Indonesia HE Murat Adali. Kunjungannya kali ini adalah dalam rangka pertemuan pembangunan kerjasama industri pertahanan antara RI dan Republik Turki yang dilangsungkan di Ditjen Pothan Kemhan dan dipimpin oleh Sekretariat Ditjen Potensi Pertahanan Laksma TNI Leonardi.

Pertemuan yang membicarakan kerjasama di bidang industri pertahanan ini berlangsung selama tiga hari dan akan berakhir pada 21 Januari 2011 yang berisi pembicaraan mengenai pengembangan kerjasama di bidang industri pertahanan dan kunjungan ke Mabes TNI Cilangkap untuk melakukan diskusi dengan pengguna Alutsista. Delegasi Turki dipimpin oleh Kepala Departemen Kerjasama Internasional dalam bidang industri pertahanan Lutfi Varoglu.

Wamenhan menjelaskan, pada dasarnya skema kerjasama kedua negara dalam bidang pertahanan dan dalam rangka mengembangkan kerjasama di bidang industri pertahanan adalah sama. Dan berdasarkan kemajuan industri pertahanan Turki yang juga dilihat langsung, diharapkan pertemuan yang membahas mengenai pengembangan industri pertahanan bersama ini dapat memberikan hasil yang konkret bagi kedua negara.

Dijelaskan oleh Dubes Turki untuk Indonesia , dalam kurun waktu 30 tahun terakhir ini industri pertahanan Turki sudah maju pesat sehingga mampu memenuhi kebutuhan alutsista dalam negerinya dan mulai merambah kepada negara-negara sahabatnya. Hal inilah yang mendorong Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saat berkunjung ke Turki menyatakan keinginannya mengembangkan kerjasama industri pertahanan kedua negara.

Pertemuan ini adalah pertemuan pertama yang membicarakan mengenai kerjasama industri pertahanan sejak ditandatanganinya kerjasama bilateral pertahanan antara RI dan Republik Turki terutama dalam bidang industri pertahanan pada tahun 2010 lalu. Pertemuan ini sangat penting tidak hanya bagi kemajuan kerjasama industri pertahanan kedua negara tetapi juga dalam rangka memperkuat hubungan kerjasama pertahanan kedua negara.

Lebih lanjut diharapkannya pertemuan ini menghasilkan daftar kerjasama dalam industri pertahanan yang dapat dilakukan bersama dan jika dimungkinkan dituangkan dalam MoU. Didalam daftar tersebut akan sekaligus ditunjuk industri pertahanan Turki dan Indonesia yang dapat saling bekerjasama sehingga memiliki sebuah struktur kerjasama yang jelas. Dan diharapkan MoU kerjasama industri pertahanan ini dapat ditandatangani saat Presiden Turki melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada April mendatang.

(Source : DMC)

RI-Cina Jajaki Kerja Sama Produksi Peluru Kendali

Rudal C-705
Rudal C-705 Produk Cina.

JAKARTA – Indonesia menjajaki kerja sama produksi peluru kendali (rudal) dengan Republik Rakyat China. Pemerintah telah menawarkan kerja sama tersebut dalam pameran pertahanan beberapa hari lalu.

“Misalnya pengadaan misil C 802 dan C 705. Kalau mau perbanyak, kenapa tidak dibangun di Indonesia saja,” kata Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro di Kantor Kementerian Pertahanan kemarin. Purnomo mengatakan, kebutuhan akan rudal jenis tersebut cukup besar untuk ditempatkan di kapal-kapal perang milik TNI Angkatan Laut.Penjajakan kerja sama ini selaras dengan strategi pembangunan industri pertahanan.

Menurut Purnomo, pengadaan alat utama sistem persenjataan yang belum dapat diproduksi di dalam negeri sedapat mungkin diupayakan transfer teknologi untuk meningkatkan content lokal dan substitusi impor. “Yang belum bisa untuk dalam negeri, kita akan joint production dulu pelan-pelan kemudian kita dapat lisensi jadi kita ingin yang kita impor itu kita substitusi pelan-pelan sehingga impornya berkurang,local content-nya naik, pada suatu saat nanti kita bisa ekspor,”katanya.

Namun, lanjut Purnomo, kerja sama produksi bersama rudal tersebut belum dapat dipastikan dalam waktu dekat karena masih cukup banyak tahapan yang harus dijalani.“ Tentunya China pun masih hitung-hitungan investasinya akan seperti apa,”ujarnya. Ketika ditanyakan peningkatan kerja sama militer dengan Chi-na apakah muncul tekanan dari negara- negara tertentu,Purnomo menegaskan, Indonesia menjalin kerja sama berdasarkan prinsip bebas aktif.

“Kita lakukan kerja sama militer kepada siapa saja. Prinsip kita million friends zero enemy. Dan saya kira mereka juga mengapresiasi cara-cara kita itu,”ujarnya. Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menambahkan, pihaknya telah mengirimkan tim untuk melihat fasilitas pendidikan dan latihan pasukan khusus di negara itu.

Kerja sama antarpasukan khusus TNIdanmiliterChinaitubisa dilakukan dalam berbagai bentukdi antaranya latihan bersama atau pendidikan perwira. “Kerja sama pasukan khusus antara militer Indonesia dan China juga menyangkut kerja sama pemberantasan terorisme,” katanya.

(Sindo)

Pemerintah Indonesia dan India Jalin Proyek Kerja Sama Bidang Antariksa

Pemerintah Indonesia dan India Jalin Proyek Kerja Sama Bidang Antariksa

Skema Spaceport Ideal Untuk Wahana Ruang Angkasa

Bogor - Pemerintah Indonesia dan India menjalin proyek kerja sama dalam bidang antariksa. Pembentukan komite bilateral tersebut adalah wujud implementasi dari proyek kerja sama bidang teknologi dan aplikasi antariksa. Kedua tim komite hadir di Pusat Teknologi Elektronika Dirgantara di Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, pertengahan Agustus ini.

Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia mengajukan permohonan kepada India untuk memindahkan kepemilikan stasiun TT & C Lapan-ISRO (Lembaga Antariksa India) di Biak, Papua, kepada Indonesia. Kesepakatan tersebut tertuang dalam Rapat Komite Kerja Sama Indonesia dan India yang digelar di Bali, yang ditandatangani Sekretaris Utama Lapan Bambang Koesoemanto dan Direktur ISTRAC (Jaringan Komando dan Tracking ISRO SK Shivakumar.

Keinginan Indonesia tak langsung diamini. Sebab proses perpindahan kepemilikan harus dilakukan di level pemerintahan, yang memakan proses diplomasi antarpemerintah selama dua bulan. Bila disetujui, India akan menyiapkan proposal persetujuan untuk perpindahan stasiun TT & C tadi.

Sejalan dengan proses perpindahan kepemilikan satelit, India meminta Indonesia mengembangkan kerja sama di beberapa bidang kedirgantaraan. Di antaranya meliputi identifikasi tempat pembangunan antena TT & C satelit baru dengan ketinggian 40 meter di Biak, pengoperasian stasiun bumi satelit yang dapat dipindahkan, perolehan data satelit penginderaan jauh IRS, Cartosat, dan Oceansat-2.

Liputan 6

Proyek Pesawat Tempur KF-X Dimulai Tahun 2012



JAKARTA - Kementerian Pertahanan menyatakan Indonesia siap melakukan kerja sama produksi pesawat tempur dengan pihak Korea Selatan. Hal itu dinyatakan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Kim Tae Young seusai melakukan pertemuan bilateral di Jakarta, Rabu (11/8).

Kerjasama pesawat tempur ini, kata Purnomo, merupakan perjanjian yang ditandatangani pada Juli 2010. Menyambung perjanjian sebelumnya yang diteken 2006. "Kemitraan strategis memang jadi salah satu fokusnya," ujarnya.

Purnomo mengatakan proyek kerjasama dalam pembuatan pesawat tempur KFX akan dimulai pada 2012. Diharapkan, kata dia, proyek kedua negara ini bisa menghasilkan sebuah prototipe pesawat tempur pada tahun 2020. "Kami berharap Indonesia bisa menjadi base produksinya," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Samsoeddin mengatakan Indonesia akan meminta hak penjualan juga atas pesawat yang di produksi nantinya. Saat ini, kata dia, kedua negara saedang membentuk kelompok kerja untuk terus membahas soal ini. "Ada tim pula yang pergi ke sana melihat awal proses pembuatan pesawat," ujarnya.

Sjafrie mengatakan dalam deklarasi kemitraan strategis antara Indonesia dengan Korea Selatan pada tahun 2006 silam disebut khusus soal pembuatan pesawat. Selain itu kerjasama dibangun untuk melakukan promosi bersama, fasilitasi kerja sama dalam produksi, alih teknologi, serta transfer pengetahuan terkait alat utama sistem persenjataan.

Menanggapi permintaan kerja sama ini, Menteri Pertahanan Korea Selatan HE Kim Tae Young mengatakan sungguh menguntungkan bisa bekerja sama dengan Indonesia dalam hal pembuatan pesawat tempur. Pasalnya, semua bahan baku dan industri pertahanan sudah dimiliki Indonesia, sehingga bisa memperlancar kerjasama pembuatan produk pertahanan ini.

TEMPOINTERAKTIF.COM

RI – Pakistan Sepakati Perjanjian Kerjasama Pertahanan


21 Juli 2010, Jakarta -- Menteri Federal Urusan Pertahanan Pakistan, Chaudry Ahmad Mukhtar, Rabu (21/7), melakukan kunjungan kenegaraan kepada Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro, di Kantor Kemhan, Jakarta.. Kunjungannya kali ini adalah untuk melakukan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Pertahanan (Defence Cooperation Agreement) antara RI dan Pakistan.

Adapun salah satu isi dari perjanjian kerjasama pertahanan yang akan ditandatangani adalah kesepakatan mengenai akan diadakannya dialog dan konsultasi bilateral secara regular antara kedua negara dalam bidang strategis dan isu-isu keamanan yang menjadi perhatian bersama.

Hal lainnya yang termasuk dalam perjanjian kerjasama pertahanan tersebut adalah, pertukaran informasi dalam hal pertahanan termasuk di dalamnya mengenai organisasi, doktrin dan kebijakan pertahanan. Kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pertahanan melalui pertukaran personel, saling kunjung, latihan bersama, dan saling tukar informasi serta bentuk-bentuk kerjasama teknis lainnya yang berdasarkan prinsip kesetaraan dan kepentingan bersama.

Perjanjian pertahanan tersebut juga memuat mengenai upaya untuk mendorong pengembangan SDM institusi pertahanan dan angkatan bersenjata kedua belah pihak melalui pendidikan, pelatihan, saling kunjung, latihan bersama, pertukaran pengamat militer dalam mengawasi latihan dan pertukaran pendidikan keahlian, peralatan dan aktifitas yang berhubungan dengan hal-hal tersebut. Serta kerjasama di bidang pertahanan lainnya yang telah disetujui oleh kedua pihak.

Dalam kunjungannya ke Indonesia ini, Menhan Pakistan beserta rombongan juga dijadwalkan mengunjungi Museum Purna Bhakti di Taman Mini Indonesia Indah. Menteri Federal Urusan Pertahanan Pakistan Chaudhry Ahmad Mukhtar yang lahir di Lahore pada tahun 1946 ini menjadi Menteri Pertahanan sejak tahun 2008. Sebelum mengawali karier politik di tahun 1990 dan menjadikannya Menteri Pertahanan Pakistan saat ini, ia adalah seorang pengusaha. Sebelumnya dia pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan pada masa pemerintahan Benazir Bhutto.

DMC

RI Jajaki Kerjasama Dirgantara Dengan Turki

Replika CN 235-220 MPAANKARA - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menyatakan kerjasama Indonesia dengan Turki sangat menguntungkan, termasuk bagi dunia militer di Indonesia. Sebab, sebagai anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), Turki merupakan negara terkuat setelah Amerika Serikat. Selain memiliki pasukan militer sebanyak 700.000 orang, piranti militer dan penguasaan mereka tentang teknologi militer sangat maju. Pesawat F-16, misalnya, mereka punya 230 buah.

“Mereka bersedia memberikan transfer of technology pada kita,” kata Purnomo di hotel Sheraton, Ankara, Turki, seusai mendampingi Yudhoyono menggelar jumpa pers, Senin (28/6) pukul 22.00 waktu setempat atau Selasa (29/6) pukul 02.00 waktu Indonesia. Salah satu transfer teknologi yang akan dijalin adalah memodifikasi pesawat CN 235 dari pesawat biasa menjadi pesawat patroli maritim dengan kelengkapan sarana elektronik mutakhir.

“Turki kan juga memproduksi CN 235 seperti kita. Nah, dari jumlah itu, 9 di antaranya akan dimodifikasi menjadi pesawat patroli maritim,” kata Purnomo. Untuk keperluan itu, ia melanjutkan, sebanyak 100 tenaga ahli dari Indonesia akan dilibatkan. “Saya kira cukup positif” katanya.

Selain CN 235, menurut Purnomo, up-grade kemampuan juga akan dilakukan terhadap pesawat Hercules milik tentara Indonesia yang juga sudah kuno. Bahkan, tak tertutup kemungkinan, hal serupa akan dilakukan terhadap pesawat F-16 yang dimiliki Indonesia. Tak hanya memiliki F-16 dalam jumlah yang banyak, Purnomo menegaskan, “Turki juga sudah membuat pesawat terbaru F-35, hasil produksi bersama dengan Amerika Serikat.”

Tempo Interaktif

AS Bantuan Perlengkapan Radar TNI-AL Di Lanal Batam

AS Bantuan Perlengkapan Radar TNI-AL Di Lanal Batam

Integrated Maritime System

Batam - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan bantuan perlengkapan alat radar kepada Departemen Pertahanan Republik Indonesia (RI) yang akan digunakan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Batam.

“Bantuan diberikan kepada Dephan, namun nantinya akan dipergunakan oleh Lanal Batam,” kata Komandan Gugus Keamanan Laut Armada Barat Laksamana Pertama Ade Supandi di Batam, Senin.

Ia mengatakan, bantuan yang akan diberikan di Markas Komando Lanal Batam, pada Selasa (29/6) itu berupa berupa integrated maritime system.

Sistem yang diberikan pemerintah ASitu, kata dia, terdiri dari beberapa unit, diantaranya radar.

Radar akan dipasang untuk memantau dan mengawal keamanan Selat Malaka, katanya.

“Bantuan akan diterima Irjen Dephan, lalu diserahkan kembali untuk dipergunakan Lanal Batam,” katanya menambahkan.

Antara

TNI AU Tunggu Realisasi Modernisasi Alutsista

Konsep jet tempur siluman Korea Selatan, diberitakan akan dikembangkan bersama Indonesia.

21 Juni 2010, Jakarta -- TNI Angkatan Udara menanti realisasi modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), seperti yang telah dijanjikan pemerintah dalam tahun pertama rencana strategis (renstra) pembangunan kekuatan dan pertahanan Indonesia.

"Sambil menunggu realisasi dari rencana modernisasi alutsista tersebut, kita harus sikapi dengan tetap merawat dan memelihara alutsista yang ada serta tetap mengedepankan profesionalisme dibidang pemeliharaan, dengan pengecekan kelaikan alutsista secara teliti dan terukur serta penilaian safety level kegiatan yang komprehensif," ujar Komandan Komando Pemeliharaan Materiil TNI Angkatan Udara (Dankoharmatau) Marsekal Muda TNI Ferdinand AM dalam siaran pers yang diterima Suara Karya di Jakarta, baru-baru ini.

Saat ini, tutur Ferdinand, TNI memasuki tahun pertama Renstra II 2010-2014. Artinya, pembangunan kekuatan dan modernisasi alutsista TNI menuju periode kekuatan pokok minimum (Minimum Esensial Force/MEF).

"Patut disyukuri, bahwa pemerintah punya keinginan untuk menghapus alutsista tua yang dimiliki TNI. Suatu keinginan yang didasari atas kehendak untuk menjaga keselamatan pengguna alutsista," ujarnya.

Salah satu kebijakan strategis yang sedang berjalan pemerintah untuk membangun kekuatan berdasarkan MEF, adalah revitalisasi industri pertahanan. Sejumlah Badan Usaha Milik Negara Strategis dilibatkan dan ditingkatkan produktivitasnya, seperti PT Dirgantara Indonesia, PT Pindad, PT PAL dan PT Len.

Ferdinand mengharapkan pembangunan kekuatan akan menjadi program berkelanjutan. Seperti yang telah dicanangkan Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Imam Sufaat bahwa pembangunan kekuatan jangka panjang akan dilakukan secara bertahap menjadi The First Class Airforce. Sedangkan, pembangunan kekuataan jangka pendek, yakni zerro accident.

"Pada jangka pendek atau kurun waktu satu tahun ini dapat kita lalui tanpa kecelakaan," ujarnya.

Kerja sama TNI AU dan RSAF

Pada sisi lain, TNI AU terus berupaya menjalin kerjasama militer dengan angkatan udara negara-negara tetangga. Di antaranya adalah kerja sama latihan dan kursus simulator dengan Angkatan Udara Singapura (RSAF) yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Barat.

Wakil Asisten Operasi (Waasops) KSAU, Marsekal Pertama TNI FHB Soelistyo mengatakan, latihan dan kursus Simulator TNI AU dan RSAF merupakan bagian dari hasil pertemuan tahunan kedua angkatan udara yang dilaksanakan di Bali.

"Kerja sama ini sudah berjalan cukup lama, sehinga perlu adanya koordinasi sebelum pelaksanaan latihan dan kursus simulator serta pertukaran kunjungan supaya dalam pelaksanaanya berjalan dengan baik," ujarnya.

Sementara itu, RSAF menyambut kerja sama angkatan udara antarnegara sahabat. "Angkatan Udara Singapura menyambut dengan baik rencana kerja sama yang akan dilaksanakan kedua angkatan yang serumpun ini," ujar pimpinan rombongan RSAF, Colonel Leong Kum Wah.

Suara Karya

Komisi 1 DPR Ingatkan Pemerintah Agar Hati-hati Berhubungan Militer Dengan AS

Latihan Bersama Amerika di Thailad "Cobra Gold 2008"Jakarta - Anggota Komisi I DPR RI Paskalis Kossay mengingatkan Pemerintah agar berhati-hati dan waspada dalam membangun kerja sama militer dan pertahanan secara keseluruhan dengan Amerika Serikat.

“Kita tidak boleh lengah membangun kerja sama dengan mereka. Posisinya harus jelas, jangan sampai kita hanya jadi semacam `pembantu` untuk mengamankan kepentingan mereka (AS), terutama di Selat Malaka serta dalam rangka menghadapi ekspansi China,” ujar anggota Fraksi Partai Golkar itu di Jakarta, Selasa.

Ia mengingatkan hal itu untuk merespons informasi telah tercapainya kerangka kesepakatan kerja sama pertahanan antara RI dengan AS belum lama ini.

Paskalis Kossay juga mengingatkan penting dan strategisnya posisi Indonesia dalam geo-strategy global yang merupakan posisi tawar yang harus diandalkan.

“Kita semua tahu, mengapa Indonesia `diminati` bangsa-bangsa lain sejak tempo dulu. Itu karena posisi strategis kita, bukan hanya kepemilikan atas sumber kekayaan alam,” ungkapnya.

Posisi RI, menurutnya, sangat vital di mata Amerika, karena berada di antara dua benua, dua samudera serta alur niaga terbesar di dunia.

“Ini harus jadi kerangka dasar kerja sama pertahanan, di samping dasar politik luar negeri yang kita anut yakni sistem politik luar negeri yang bebas aktif, tidak memihak pada salah satu kekuatan,” tandas Paskalis Kossay.

Antara

RI-China Jalin Kerja Sama Industri Pertahanan

Kemenhan Purnomo YusgiantoroPemerintah melalui Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menjalin kerjasama dengan Pemerintah China untuk mengembangkan industri Pertahanan dalam negeri. Namun, dalam kerjasama kedua negara ini, prinsip saling menguntungkan tetap diperhatikan.

“Saat ini Indonesia sedang menggiatkan industri pertahanan dalam negeri sehingga diharapkan China berpartisipasi dalam program pengembangan industri pertahanan di Indonesia, mencakup joint production dan pelaksanaanTransfer of Technology (ToT),” kata Kepala Biro Humas Kementerian Pertahanan, Brigjend TNI I Wayan Midi di Kantor Kemhan, Jumat (11/6), tadi pagi.

Menurut Wayan, saat ini Indonesia sedang mempertimbangkan untuk membentuk suatu forum teknologi militer (military Technology Forum-MTF), sebagai wadah kosultasi yang membahas aspek teknis Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata).

Tujuan pembentukan forum tersebut, kata dia, untuk meningkatkan pertahanan kedua negara di masa mendatang.

Ia menambahkan, dalam hal anggaran pertahanan, Indonesia berharap pemerintah Chinadapat menyediakan fasilitas pengadaan secara G to Gdisertai dengan ToT serta melibatkan industri dalam negeri.

Wayan menjelaskan, kerjasama antara Kemhan RI dengan Pertahanan China memberi manfaat ganda bagi kedua belah pihak.

Pertama, meningkatkan kualitas profesionalisme untuk bisamenopang stabilitas kawasan. Pemerintah RI dan China memiliki kepentingan yang sama terhadap pengamanan Selat Malaka dan pengamanan SLOC (Sea Lane Of Communication atau ALKI). Berkaitan dengan itu diperlukan mutual understanding dan mutual cooperation khususnya di Selat Malaka dan SLOC seperti di Selat Sunda, Selat Lombok dan Selat Makasar.

Kedua, peran Indonesia sebagai Negara Kunci di Asia Tenggara mampu menjembatani kepentingan global di kawasaan. Sehingga koordinasi dan komunikasi untuk keamanan pasokan energi dari dan ke Timur Tengah, transportasi komoditas dan produk negara-negara industri ke wilayah Asia dan Eropa menjadi lancar.

Ketiga, dalam konteks nasional, Kerjasama Pemerintah Indonesia dengan China dapat memberi manfaat bagi pengembangan industri pertahanan di Indonesia, sehingga dapat membangun pertumbuhan ekonomi, dan menempatkan kebijakan pembangunan sistem pertahanan yang pro kesejahteraan (defence supportive economi).

Keempat, terkait dengan industri pertahanan, menurut Wayan, kerjasama ini diharapkan pemerintah Chinadapat memanfatkan produk-produk industri pertahanan Indonesia sebagai bentuk mutual benefit cooperation.

“Saat ini Indonesia memiliki kapasitas untuk memproduksi alat-alat pertahanan yang memenuhi standar internasionaldi antaranya non-weapon system equipment (alat perlengkapan non-alutsista),” katanya.

Jurnas

RI-Korsel Kerjasama Buat Pesawat Tempur Canggih

KFXJakarta - Tahun ini, Indonesia diharapkan bisa menandatangani perjanjian kerja sama dengan Korea Selatan untuk pembuatan pesawat tempur. Dengan demikian, Indonesia diharapkan tak akan bergantung kepada negara lain dalam hal penyediaan pesawat tempur.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Marsekal Madya Erris Herryanto, Rabu (2/6). ”Kemungkinan besar tahun ini sudah ditandatangani,” kata Erris. Kesepakatan untuk studi kelayakan ditandatangani tahun lalu.

Kementerian Pertahanan menerima hasil studi kelayakan pada Juli 2009. Dalam studi itu disebutkan, Indonesia layak untuk berpartner membuat pesawat tempur. Spesifikasi pesawat tempur dengan kode KFX ini kira-kira berada di atas F-16, tetapi di bawah spesifikasi F-35.

Menurut Erris, langkah tersebut merupakan suatu kemajuan karena tidak banyak negara yang bisa membuat pesawat tempur. Apabila memiliki pabrik pesawat tempur, Indonesia tidak akan bergantung lagi kepada negara lain.

KFXMenurut Erris, masalah komitmen dan perjanjian secara rinci tengah dibahas. Namun, tidak ada perbedaan yang mencolok. Saat ini tengah disusun redaksional perjanjian di antara kedua belah pihak. Erris belum bisa merinci beberapa hal yang tertuang dalam perjanjian itu, termasuk apa saja yang akan diperoleh Indonesia dan apa saja yang harus disediakan. ”Yang jelas, kita punya PT Dirgantara Indonesia dan tenaga ahli,” kata Erris.

Kebutuhan biaya yang diajukan sekitar 8 miliar dollar Amerika Serikat dengan jangka waktu kerja hingga tahun 2020. Pada tahun 2020 diharapkan sudah bisa disiapkan lima prototipe. Dari keseluruhan anggaran itu, Indonesia diharapkan menanggung sebesar 20 persen. Akan tetapi, ujar Erris, belum ada kesepakatan soal keuangan tersebut.

Super Tucano

Super TucanoMengenai pengadaan pengganti pesawat OV-10 Bronco, Direktur Pengadaan Direktorat Jenderal Sarana Pertahanan Marsekal Pertama Mukhtar Lubis mengatakan belum ada kepastian. Mabes TNI masih mengevaluasi masukan dari TNI AU. Menurut Mukhtar, pihaknya belum bisa memastikan bahwa pesawat yang akan dibeli adalah Super Tucano dari Brasil. ”Masih harus diteliti dulu spesifikasi dan juga prosedurnya,” katanya.

Soal Sukhoi, kata Mukhtar, pihaknya tengah mengirim sejumlah personel untuk mengikuti pelatihan. Hal itu dilakukan untuk persiapan kedatangan lagi tiga pesawat Sukhoi Su-27SKM yang diharapkan tiba pada September mendatang. ”Soal persenjataan, kita beli dengan paket yang berbeda,” kata Erris.

Kompas

Kasad TNI Terima Kunjungn Kasad Singapura

26 Mei 2010, Jakarta -- Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI George Toisutta menerima kunjungan kehormatan Kepala Staf Angkatan Darat Singapura, Brigadir Jenderal Chan Chun Sing beserta rombongan di Markas Besar Angkatan Darat, Jakarta, Rabu (26/5).

Kunjungan kehormatan itu diawali dengan upacara penghormatan militer dilanjutkan perkenalan dengan pejabat teras TNI AD di halaman depan Markas Besar Angkatan Darat.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI George Toisutta menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kunjungan Kasad Singapura Brigadir Jenderal Chan Chun Sing ke Markas Besar Angkatan Darat.

Menurutnya, kunjungan yang dilaksanakan dalam suasana penuh keakraban ini tentunya sangat bermanfaat bagi semua, khususnya dalam menjalin persahabatan dan kerjasama antara kedua Angkatan Darat.

Kasad mengharapkan, melalui kunjungan ini adan pertukaran informasi dan terbukanya dialog dalam berbagai hal, sehingga akan menambah wawasan serta pengetahuan para perwira kedua Angkatan Darat.

“ Komunikasi dan interaksi positif yang telah terbangun dengan baik selama ini, dapat terus dipupuk dan dikembangkan, melalui berbagai acara dan kegiatan, sehingga dapat terwujud ikatan bathin yang kuat. Sekaligus mendatangkan manfaat yang besar bagi kemajuan kerjasama Angkatan Darat Singapura dan Indonesia “, kata Kasad.

Kasad menambahkan, momentum ini tidak hanya berhenti pada saat kunjungan semata, namun dapat dikembangkan oleh para perwira yang akan melanjutkan kerja sama yang sudah baik ini menjadi lebih baik lagi melalui komunikasi yang intensif dan berkesinambungan, agar terwujud kerjasama yang kokoh antara Angkatan Darat Singapura dan Indonesia.

Kasad Singapura selain melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Kasad Jenderal TNI George Toisutta, juga melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertahanan RI , Panglima TNI, Panglima Kostrad dan Komandan Jenderal Kopassus.

Kunjungan Kehormatan Kasad Singapura di Indonesia ini berlangsung dari tanggal 25 hingga 26 Mei 2010.

Pen AD/POS KOTA

Menhan RI Menerima Kunjungan Wakil Ketua Komisi Pusat Militer China

(Foto: ANTARA)

21 Mei 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan kehormatan Vice Chairman of Central Military Commission of The People’s Republic of China (Wakil Ketua Komisi Militer Pusat RRC) Jenderal Guo Boxiong, Jum’at (21/5) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. Kunjungan kali ini dalam rangka mempertegas kerjasama di bidang pertahanan antara kedua negara.

Kerjasama pertahanan kedua negara telah disepakati dalam suatu Memorandum of Understanding (MoU) dan ditandatangani oleh Menhan dari kedua negara beberapa waktu yang lalu. Usai melakukan kunjungan ke Menhan RI, Jenderal Guo Boxiong mengikuti kegiatan Bilateral Meeting RI – China, bertempat di Kemhan RI.

Dalam Bilateral Meeting RI – China yang dipimpin oleh Menhan RI tersebut, delegasi China menawarkan kerjasama latihan anti piracy, Latihan Bersama (Latma) SAR di laut pada saat muhibah KRI ke China serta pelatihan pilot TNI Angkatan Udara.

Pelatihan pilot telah terlaksana dalam bentuk pelatihan simulator pesawat Sukhoi. Pada tahun 2009 dikirim 10 perwira penerbang TNI AU dalam dua tahap, setiap tahap berlangsung selam satu minggu. Untuk tahun 2010, direncanakan jumlah yang sama yaitu 10 penerbang dan dilaksanakan dalam dua tahap.

Sementara itu, delegasi Indonesia menyampaikan beberapa issu terkait dengan Regional security situation, anti terrorism dan maritime security di Selat Malaka, kerjasama di bidang Human Assistance and Disaster Relief, kerjasama di bidang Peace Keeping Mission dan kerjasama industri pertahanan.

Hadir mendampingi Menhan RI dalam kegiatan Bilateral Meeting RI – China antara lain Wamenhan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Dirjen Strahan Kemhan Mayjen Syarifudin Tippe, S.Ip, M.Si, Dirjen Ranahan Kemhan Laksda TNI Gunadi, M.D.A, dan sejumlah pejabat Eselon I dan II di lingkungan Kemhan. Hadir pula Asops Kasal, Asops Kasau dan Atase Pertahanan RI di China.

Sementara itu, Jenderal Guo Boxiong didampingi Deputy Chief of General Staff, PLA, Vice Admiral Sun Jian Guo, Panglima wilayah Guangzhou LTG. Xu Fennin, Deputy Shief of General Logistic Department, PLA, LTG. Ding Ji Ye, Deputy Political Commissar of PLA Air Force LTG. Wang Wei, Deputy Commander of 2nd Artillery, PLA LTG. Wang Jiu Rong, Chief of Foreign Affair Office of MND MG. Qian Lihua, Corps Commander, PLA MG. Wang Ning, dan Director General for the Research Bureau, General Office of the CMC MG. Zhang Haiyan. Hadir pula Duta Besar China untuk Indonesia Zhang Qiyue dan Atase Pertahanan China Sen. Col. Han Weibing.

Dalam kunjungan kerhormatan kali ini, Jenderal Guo Boxiong mendapat sambutan jajar kehormatan dari pasukan TNI, hal mana disebabkan posisi penting yang dijabat dalam sistem pemerintahan China. Sesuai dengan konstitusi dalam pemerintahan China, Jenderal Guo Boxiong merupakan orang kedua setelah Presiden China Hu Jintao yang juga menjabat Ketua Komisi Militer Pusat RRC. Jenderal Guo Boxiong menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat RRC sejak tahun 2002.

Jenderal Guo Boxiong lahir pada tahun 1942 di Liquan, Provinsi Shaanxi. Bergabung dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) pada bulan Agustus 1961 dan lulus dari Akademi Militer PLA dengan pendidikan perguruan tinggi junior.

Sebelum menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi Militer Pusat RRC beberapa jabatan dalam karir militernya antara lain, Kepala Staf Angkatan Darat ke-19 Angkatan Darat TPR, Wakil Kepala Staf Komando Daerah Militer Lanzhou, Panglima Angkatan Darat Grup 47 Angkatan Darat TPR, Wakil Panglima Komando Daerah Militer Beijing dan Panglima Komando Daerah Militer Lanzhou.

Hubungan RI – China

Hubungan RI – China bukan sekedar hubungan militer, namun lebih pada latar belakang culture yang ada diantara kedua bangsa dan negara di masa lalu. Hubungan kerjasama di bidang pertahanan menjadi pilar bagi hubungan kerjasama kedua negara dengan prinsip kerjasama pertahanan yang dikembangkan atas dasar saling menghormati (mutual respect).

Kerjasama tersebut memungkinkan untuk dapat saling membangun profesionalisme antara kedua angkatan bersenjata dalam rangka menopang stabiitas kawasan, karena dalam hal ini China juga memiliki kepentingan sebagai pengguna Selat Malaka dan Selat lain di Indonesia.

Untuk kerjasama di bidang industri pertahanan, saat ini China memiliki industri pertahanan yang cukup maju terutama untuk Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista). Apabila Indonesia membutuhkan pengadaan Alutsista dari China, maka diharapkan harus ada kerjasama TOT (Transfer of Technology).

Sementara itu, disisi lain personel militer China yang besar sekitar 2,5 juta jiwa juga membutuhkan berbagai peralatan (non Alutsista), dengan keberadaan industri pertahanan non Alutsista dalam negeri maka Indonesia juga siap mendukung kebutuhan militer China khususnya untuk non Alutsista.

DMC

RI – UAE Diskusi Bilateral Bidang Pertahanan

CN-235 AU UAE. (Foto: emirates-va.net)

18 Mei 2010, Jakarta -- Diskusi bilateral (bilateral discussion) khususnya bidang pertahanan antara RI dengan Uni Arab Emirates (UAE) hendaknya tidak berhenti pada tahap diskusi semata tetapi bisa terus berlanjut ke tingkat lebih tinggi yaitu kerjasama antar angkatan bersenjata kedua negara.

Hal tersebut bisa dimulai dengan melakukan kerjasama di bidang pendidikan (learning and education) dan bidang lainnya seperti industri teknologi (technology industry), industri pertahanan (defence industry), Peace Keeping Operation (PKO) serta pertukaran siswa atau personel (exchange personnel and student).

Demikian harapan yang disampaikan Direktur Kerjasama Internasional Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan (Dirkersin Ditjen Strahan Kemhan) Brigjen TNI (Mar) Ir. Syaiful Anwar, M.Bus, M.A dalam sambutannya mewakili Dirjen Strahan dalam acara bilateral discussion on the field of Defence Indonesia-Uni Arab Emirates (UAE), Senin (17/5), di kantor Kemhan, Jakarta.

Selain membicarakan kemungkinan kerjasama antara Indonesia dengan UAE, dalam pertemuan tersebut Dirkersin berkesempatan menyampaikan paparan mengenai struktur organisasi Kemhan, pendidikan dan pelatihan (education and training), defence industry, Humanitarian Assistant Disaster (HAD) dan Disaster Relief (DR).

Sebelumnya delegasi UAE yang dipimpin BG. Mohammad Ali Abdullah Al Isa melakukan kunjungan kepada Inspektur Jenderal (Irjen) Kemhan Marsda TNI Eris Heryanto, S.Ip, M.A dilanjutkan dengan kunjungan ke Pusat Bahasa (Pusbasa) Kemhan dan Museum Satria Mandala hari ini. Dijadwalkan Rabu (19/5) delegasi UAE akan melakukan kunjungan ke lembaga pendidikan Seskoad dan kunjungan ke industri pertahanan di Bandung seperti PT. Pindad dan PT. Dirgantara Indonesia.

Di bidang pelatihan dan pendidikan, Dirkersin menyampaikan harapan dan undangan kepada delegasi UAE untuk bergabung dalam Lemhannas atau Sesko angkatan yang terbuka bagi perwira asing dengan alokasi 10%.

DMC

RI - Rusia Matangkan Kerja Sama Antiteror

Anggota Densus 88 berjaga di sekitar lokasi peyergapan terduga teroris di Desa Baki Pandeyan, Kecamatan Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (13/5). Densus 88 mengamankan tiga orangyang diduga teroris dan sejumlah barang bukti diantaranya, satu pucuk senjata laras panjang, satu pucuk senjata laras pendek, 10 dus peluru, cd dan kaset. (Foto: ANTARA/Hasan Sakri Ghozali/Koz/10)

15 Mei 2010, Jakarta -- Indonesia dan Rusia akan mematangkan kerja sama antiteror dengan pembentukan kelompok kerja bersama kedua negara, kata Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Ansyaad Mbai di Jakarta, Sabtu.

Ansyaad Mbai mengemukakan, kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman tentang kerja sama kedua pihak dalam pemberantasan terorisme, pada tiga bulan silam.

"Bulan depan, kedua negara akan membentuk kelompok kerja bersama sebagai tindak lanjut nota kesepahaman yang telah disepakati. Pertemuan pertama akan dilakukan di Rusia," ungkap Ansyaad.

Indonesia telah menjalin kerja sama serupa dengan sejumlah negara. Selain negara-negara ASEAN, kerja sama antiteror juga dilakukan bersama sejumlah negara Asia Selatan seperti India, Pakistan dan beberapa negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Afghanistan dan Kuwait.

Bentuk kerja sama yang dilakukan meliputi pertukaran data dan informasi intelijen, dan langkah-langkah persuasif seperti deradikalisasi, untuk menetralisasikan paham-paham radikal yang dianut para teroris, tutur Ansyaad.

Ia mengatakan, meski telah memiliki kerja sama dengan sejumlah negara , Indonesia masih belum setara dengan negara-negara tersebut, karena sanksi hukuman yang lemah bagi teroris.

"Di negara lain, hukumannya bisa bertahun-tahun, tiba di Indonesia hanya dihukum beberapa bulan. Ini kan timpang. Sehingga kerja sama yang dijalin juga belum maksimal dan efektif," kata Ansyaad.

ANTARA News

Menhan RI Lakukan Kunjungan Kehormatan ke Singapura

Ranpur Bronco buatan Singapura. (Foto: Mindef)

07 Mei 2010, Singapura -- Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro melakukan rangkaian kunjungan kehormatan ke Singapura selama dua hari, Jumat dan Sabtu (6-7/5). Kunjungan Menhan kali ini dimaksudkan dalam rangka untuk mempererat dan meningkatkan hubungan kerjasama RI dengan Singapura khususnya kerjasama di bidang pertahanan.

Dalam kunjungannya ke Singapura, Menhan RI melaksanakan kunjungan kehormatan kepada Wakil Perdana Menteri Singapura Shanmugam Jayakumar, dilanjutkan kunjungan kehormatan kepada Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dan Presiden Singapura SR Nathan, Jum’at (7/5) di Istana Kepresidenan Singapura.

Turut mendampingi Menhan RI antara lain Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso, Dirjen Strategi Pertahanan Kemhan Mayjen TNI Syarifudin Tippe, S.Ip, M.Si, Staf Ahli Menhan Bidang Indtek Prof. Dr. Ir. Eddy Sumarno Siradj, M.Sc, Dirkersin Ditjen Stahan Kemhan Brigjen TNI (Mar) Ir. Syaiful Anwar, M.Bus, MA dan Athan RI di Singapura.

Sebelumnya pada hari Kamis (6/5) Menhan RI juga melakukan kunjungan dan peninjauan ke Singapore Technologies Kinetics (ST Kinetics). ST Kinetics adalah salah satu perusahaan terkemuka di Asia yang memproduksi kendaraan khusus untuk pertahanan. Selain itu Menhan RI juga melakukan kunjungan dan peninjauan ke Pangkalan Udara Paya Lebar.

Hubungan pertahanan antara RI dengan Singapura telah dirintis sejak lama melalui kunjungan para pejabat, pertukaran siswa, pendidikan dan latihan, operasi oleh ketiga angkatan, namun saat kedua negara belum memiliki MoU sebagai payung dalam bidang pertahanan.

Melalui kunjungan ini diharapkan kerjasama pertahanan yang terjalin selama ini antara kedua negara dapat terus ditingkatkan. Kerjasama di bidang pertahanan yang perlu ditingkatkan diantaranya bidang patroli maritim bersama keamanan di perbatasan kedua negara, patroli terkoordinasi khususnya di Selat Malaka, baik patroli laut maupun udara dan kerjasama di bidang pendidikan antara Angkatan Bersenjata dari kedua negara.

DMC

RI - AS Latihan Bersama Pengangkutan Udara


19 April 2010, Jakarta -- Angkatan Udara Republik Indonesia (RI) dan Amerika Serikat (AS) melakukan latihan bersama pengangkutan udara taktis bersandi "cope west 10" mulai 19 hingga 23 April 2010.

Komandan Wing I Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma Kolonel Pnb Djoko Senoputro kepada ANTARA di Jakarta, Senin mengatakan, latihan bersama digelar di Pangakalan Udara Halim Perdana Kusuma melibatkan satuan pesawat C-130 Hercules TNI AU dan tiga unit pesawat sejenis dari Wing 376 pangkalan udara AS di Yakoda, Jepang.

"`Cope west 10` merupakan latihan pengangkutan udara taktis bilateral yang melibatkan angkatan udara RI dan AS yang dirancang untuk meningkatkan inter-operabilitas antara angkatan udara kedua negara," katanya.

Latihan bersama tersebut, juga memungkinkan pertukaran teknik yang berkaitan dengan operasi pengangkutan, operasi pendaratan dan penerjunan dari pesawat-pesawat AU RI dan AS.

"Dalam latihan kali ini, kita diperkenalkan dengan sistem dropping udara baru (ICDS) yang bisa dilakukan dari ketinggian 5.000 kaki," ungkap Djoko.

Ia menambahkan, sebelum melakukan dropping, diterjunkan transmiter yang akan mengumpulkan data tentang cuaca, arah dan kecepatan angin. Data kemudian dikirim ke pesawat untuk diolah oleh kru, kemudian dilakukan drooping.

"Latihan ini, sangat membantu untuk operasi militer maupun operasi militer selain perang, seperti saat terjadi bencana dan satu daerah tidak dapat didarati pesawat berbadan besar dan lebar," kata Djoko.

Komandan Wing 376 Letnan Kolonel Dave Kincaid menambahkan, selain memperkenalkan sistem droping udara baru pihaknya juga memberikan beberapa teknik pengangkutan udara.

"Kami juga berlatih bersama `Tactical Low Level, Cargo Drop dan Personel Drop` yang melibatkan unsur-unsur operator pesawat Hercules. Intinya dirancang untuk meningkatkan inter-operabilitas antara angkatan udara kedua negara," katanya.

Latihan dilakukan hingga 23 April 2010 dengan mengambil area latihan Pangkalan Udara Halimperdanakusuma dan Lapangan Gorda, Serang.

ANTARA News

TNI AL-US Navy Sepakat Tingkatkan Kerjasama


Prajurit TNI AL dan US Navy saat latihan Cooperation Afloat Readiness and Training

JAKARTA - TNI Angkatan Laut dan Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) sepakat untuk meningkatkan kerja sama keamanan maritim di kawasan Asia Pasifik.

Hal itu terungkap dalam pertemuan tertutup Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Agus Suhartono dengan mitranya Panglima Armada ketujuh Angkatan Laut AS Laksamana Madya John M. Bird, di Jakarta, Senin (12/4).

"Selain kunjungan kehormatan, dalam pertemuan itu juga disinggung komitmen kedua pihak untuk meningkatkan kerja sama maritim di kawasan," kata juru bicara TNI Angkatan Laut Kolonel Laut Herry Setianegara ketika dikonfirmasi ANTARA.

Ia menambahkan, selain untuk meningkatkan kerja sama, kunjungan tersebut dimaksudkan untuk mempererat hubungan antara angkatan laut kedua negara yang selama ini telah terjalin.

Dari markasnya di Yokosuka, Jepang, Armada Ketujuh rutin berlayar menjaga kepentingan AS yang mencapai 52 juta mil persegi membentang dari "International Date Line" hingga Pantai Timur Afrika serta dari Kuril Island di sebelah utara hingga Antartika di belahan selatan.

Komandan Armada Ketujuh memiliki tiga kewenangan utama yakni sebagai komandan Gabungan Gugus Tugas penanganan bencana alam maupun operasi militer.

Kedua, sebagai komandan operasi angkatan laut di wilayah kekuasaannya yang merupakan tugas sehari-hari Komando Armada Ketujuh. Selain itu, Komandan Armada Ketujuh juga berwenang sebagai komandan pertahanan.

Dalam setiap pertemuan dengan para koleganya di negara yang kunjungi Komandan Armada Ketujuh kerap menekankan pentingnya kerja sama antara AS dengan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Terkait itu, Armada Ketujuh AS rutin melakukan latihan bersama dengan militer dari sejumlah negara Asia Pasifik, seperti CARAT (Cooperation Afloat Readiness and Training) dengan TNI AL, "Bilateral SEA readiness and training exercise" dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam dan Indonesia.

ANTARA

Upacara penutupan Latgabma MALINDO

08 April 2010, Malaka -- Upacara penutupan Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Malaysia-Indonesia (Malindo) Darsasa 7 AB/2010 digelar di Malaka, Malaysia. Latihan bersama tersebut digelar dari tanggal 25 Maret hingga 8 April 2010.


Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso memberikan sambutan dalam upacara penutupan Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Malaysia-Indonesia (Malindo) Darsasa 7 AB/2010. (Foto: Puspen TNI)

Panglima angkatan bersenjata dari kedua negara menyalami para peserta yang mengikuti latihan bersama ini. (Foto: Puspen TNI)

Panglima Angkatan Tentara Malaysia (ATM) dengan didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Djoko Santoso menyalami beberapa peserta yang mengikuti latihan bersama. (Foto: PuspenTNI)

Latihan ini merupakan latihan gabungan terbesar di Asia Tenggara yang dilakukan dua negara, yaitu Indonesia dan Malaysia. (Foto: Puspen TNI)


Latihan bersama ini digelar di 3 tempat seperti Eerly Resort Hotel, Selat Malaka dan Lapangan Terbang Batu Berendam, Malaysia. (

Foto: Puspen TNI)

RI - Brunai Ingin Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

Jakarta - Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro menerima kunjungan Wakil Menteri Pertahanan Brunei Darussalam Pehin Datou Singamanteri Kolonel (B) Dato Seri Paduka Hj. Mohammad Yasmin Bin Hj. Umar, Senin Pagi (22/3) di Kantor Kementerian Pertahanan RI, Jakarta. Maksud kunjungannya dalam rangka mempererat dan meningkatkan hubungan kerjasama pertahanan kedua negara khususnya menjajaki kerjasama di bidang industri pertahanan.

Selain melakukan kunjungan ke Menhan RI, Wamenhan Brunei Darussalam juga berencana melakukan kunjungan kedua perusahaan industri pertahanan Indonesia yaitu PT Dirgantara Indonesia dan PT. Pindad di Bandung. Di PT. DI, Wamenhan Brunei Darussalam akan meninjau pesawat milik Brunei Darussalam yang saat ini sedang dalam perawatan. Sedangkan di PT. Pindad, Wamenhan Brunei Darussalam akan melihat Panser APC produksi PT. Pindad.

Wamenhan Brunei Darussalam dalam kunjungan kepada Menhan RI menyampaikan, bahwa rencana kunjungannya ke Industri Pertahanan Indonesia adalah dalam rangka menjajaki dan mendalami lebih lanjut kemungkinan kerjasama Industri pertahanan kedua negara sekaligus mendukung pengaktifan kerjasama industri pertahanan di kawasan ASEAN.

Menanggapai hal tersebut, Menhan RI atas nama pemerintah Indonesia menyampaikan ucapan terimakasih atas perhatian pemerintah Brunei Darussalam terkait kerjasama industri pertahanan. Hal tersebut menurutnya, akan semakin mempererat dan meningkatkan hubungan bilateral kedua negara.

Menhan RI lebih lanjut berharap, ada dukungan yang kuat dari Brunei Darussalam sebagai salah satu negara sahabat agar industri pertahanan ini dapat dikembangkan secara bersama-sama.

Terkait perjanjian kerja sama pertahanan kedua Negara atau Defence Coperation Agreement (DCA), Menhan RI menyampaikan bahwa untuk DCA antara Indonesia-Brunei Darussalam saat ini masih dalam proses ratifikasi di parlemen, dan diharapkan dalam waktu dekat akan segera diratifikasi.

RI - Brunai Ingin Tingkatkan Kerjasama Pertahanan

CN-235 Tentera Udara Diraja Brunei (TUDB)

Menurut Menhan, DCA antara kedua negara sangat penting dalam rangka memperkokoh hubungan kerja sama pertahanan, baik kerja sama di bidang latihan kedua angkatan bersenjata, tukar menukar perwira, kerjasama industri pertahanan, pendidikan maupun kerjasama di bidang lain.

Dalam kunjungannya ke Menhan RI tersebut, Wamenhan Brunei Darussalam didampingi Dubes Kerajaan Brunei Darussalam Untuk Indonesia, Dato Paduka Mahmud, Setiausaha Tetap I Kementerian Pertahanan Brunei Darussalam, Dato Paduka Hj. Mustappa Bin Hj. Sirat, dan Atase Pertahanan Brunei Darussalam, Kol. Pangiran Hafiz. Sementara itu, Menhan RI didampingi oleh Wamenhan Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin, Dirjen Strahan Mayjen TNI, Syarifudin Tippe, S.IP, M. Si, Karo Humas Brigjen TNI I Wayan Midhio, M.Phil dan Karo TU Kemhan Laksma TNI Agus Purwoto.

Usai diterima Menhan RI, Wamenhan Brunei Darussalam juga diterima secara khusus oleh Wamenhan RI di ruang kerjanya. Dalam pertemuan tersebut dibahas lebih detail tentang mekanisme kerjasama industri pertahanan kedua negara dan kerjasama teknis lainnya seperti kerjasama di bidang pendidikan dan kerjasama lainnya di bidang pertahanan.


(DMC)

----------------------

Support Palestine