Tampilkan postingan dengan label LAPAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LAPAN INDONESIA. Tampilkan semua postingan

LAPAN Akan Bangun Stasiun Peluncuran Satelit


22 Juli 2010, Bengkulu -- Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan membangun stasiun peluncuran satelit di Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara.

Rencana itu disampaikan Sekretaris Utama LAPAN Bambang Kusumanto usai menggelar pertemuan dengan Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin di Gedung Daerah, Bengkulu, Kamis.

"Pertemuan hari ini untuk mematangkan rencana pembangunan stasiun peluncuran satelit di Pulau Enggano dan kami membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah," katanya kepada wartawan.

Bambang mengatakan untuk tahap pertama akan dilakukan penandatanganan nota kesepakatan antara Pemerintah Provinsi Bengkulu dengan LAPAN pada 2 Agustus di Jakarta.

Selanjutnya, kata dia, akan dibentuk tim untuk melakukan sejumlah kajian dan survei untuk menentukan lokasi pembangunan stasiun peluncuran.

"Kami akan membuat studi kelayakan yang membutuhkan waktu enam bulan, kemudian analisis mengenai dampak lingkungan dan diharapkan pada 2011 sudah dimulai pembangunan fisik," katanya.

Selama ini, kata Bambang, LAPAN meluncurkan satelit ke sejumlah orbit melalui stasiun peluncuran Pameungpeuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat.

Namun kapasitas stasiun peluncuran roket tersebut terbatas seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di sekitar lokasi peluncuran sehingga menimbulkan risiko yang lebih besar.

"Stasiun peluncuran di Enggano ini rencananya lebih besar dari kapasitas di Pameungpeuk dan lokasinya juga strategis dan penduduknya masih sedikit," katanya.

Sementara itu Gubernur Bengkulu Agusrin Najamudin menyambut baik rencana LAPAN tersebut karena akan membantu pemerintah dalam mengawasi pulau terluar itu.

"Kami mendukung penuh rencana ini dan akan disosialisasikan kepada masyarakat di Pulau Enggano bahwa keberadaan stasiun peluncuran satelit ini tidak membahayakan jiwa mereka," katanya.

Agusrin mengatakan luas areal yang dibutuhkan untuk membangun stasiun tersebut sekitar 200 hektare (ha) dari 40 ribu ha luas pulau yang berjarak 106 mil dari Kota Bengkulu itu.

Pulau Enggano merupakan salah satu pulau terluar Indonesia yang dihuni lebih dari 2.600 jiwa masyarakat adat yang terbagi dalam lima suku besar yakni Kaitora, Kaahua, Kauno, Kaharuba dan Kaharubi.

ANTARA News

Dephan Akan Laksanakan Uji Peluncuran 10 Rudal Dengan Hulu Ledak Berkekuatan Tinggi Di Baturaja

Uji Roket PINDAD n LAPANGARUT - Depertemen Pertahanan akan melakukan uji peluncuran 10 rudal dengan hulu ledak berkekuatan tinggi di Baturaja, Sumatera Selatan, pada Oktober 2010.

Ujicoba itu dilakukan untuk mendukung upaya perlengkapan peralatan pertahanan negara.

“Jumlahnya 10 rudal yang akan kita luncurkan, empat rudal berhulu ledak, sedangkan sisanya rudal kosong,” ujar Kepala Depertemen Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertahanan Republik Indonesia Pos M Hutabarat, di Garut, Minggu (20/6/2010).

Menurutnya, rencana peluncuran roket tersebut dilakukan guna menilai kesanggupan negara mengurangi sejumlah pasokan peralatan perang yang selama ini kerap didominasi pasokan dari luar.

“Kita itu mampu untuk membuat. Sekarang kita berupaya bagaimana kita bisa menciptakan rudal sendiri,” kata Pos Hutabarat.

Lebih jauh Pos Hutabarat mengatakan, rudal yang akan diujikan nanti memiliki tiga jangkauan, yakni 12 kilometer, 20 kilometer, serta 30 kilometer. Sementara mengenai peluncurannya akan dilakukan bertahap sesuai daya jangkau roket tersebut.

“Peluncurannya bertahap. Satu rudal hulu ledak, kemudian satu rudal kosong,” kata dia.

Daerah Baturaja dipilih karena dinilai sangat cocok. Pasalnya, daerah tersebut cukup aman dari jangkauan penduduk yang cukup rendah.

Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan Pusat Soewarto Herdhienata mengatakan, ada dua kategori rudal yang bisa diluncurkan oleh lembaga peluncuran milik negara seperti Lapan. Yang pertama, kata dia, bersifat jangka panjang dan lebih berdasarkan kemanusiaan. Sementara yang kedua lebih pada aspek keamanan, sehingga rudal yang diluncurkan memililiki hulu ledak.

Okezone

Lapan Siapkan Lokasi Uji Coba Peluncuran Roket RX-550 di Pulau Enggano

Roket LapanJakarta - Dengan mempertimbangkan faktor keamanan saat peluncuran roket Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional akan memindahkan tempat peluncuran wahana antariksa tersebut ke Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu. Untuk tujuan itu telah ada persetujuan dari pemerintah daerah setempat.

Kepala Lapan Adi Sadewo Salatun hari Selasa (25/5) mengatakan, pemindahan itu juga dilatarbelakangi kondisi sekitar lokasi peluncuran yang lama yang berada di daerah Pamengpeuk, Provinsi Jawa Barat. Pamengpeuk kini telah padat menjadi daerah permukiman.

”Pemindahan itu berkaitan dengan rencana Lapan untuk meluncurkan satelit yang berukuran lebih besar, yang memerlukan zona aman atau bebas yang lebih luas,” kata Adi.

Perairan bebas

Pulau Enggano yang terletak di selatan perairan Provinsi Bengkulu relatif lebih aman karena di arah selatan menghadap perairan bebas. Namun, Adi juga melihat ada faktor yang kurang menguntungkan di pulau itu, yaitu aktivitas kegempaan di pulau kecil itu tergolong tinggi.

Karena itu, peluncuran roket akan menggunakan kendaraan peluncur roket atau satelit (satellite launch vehicle/SLV).

”Pembuatan roket akan dilakukan di Pusat Pembuatan Roket di Pulau Jawa,” kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan Lapan Bambang Tedjasukmana. Untuk transportasi SLV dan roket itu Lapan akan bekerja sama dengan mitra terkait yang memiliki sarana kapal memadai.

Adi mengharapkan, lokasi peluncuran roket dari pulau tersebut sudah dapat terlaksana tahun depan. Rencananya, akan diluncurkan roket eksperimen berdiameter 550 mm. Akhir tahun ini direncanakan RX-550 akan menjalani uji statik.

Untuk mengarah pada peluncuran roket berkapasitas menengah itu, lanjut Bambang, akan dilakukan peremajaan prasarana yang ada, antara lain, yaitu mesin pembuat bahan bakar roket. Selama ini yang dilakukan hanya sebatas memodifikasi peralatan yang telah usang.

Menurut Adi, proses pembuatan bahan bakar roket atau propelan merupakan kunci yang menentukan unjuk kerja roket ketika diluncurkan, terutama terhadap daya dorongnya.

Terkait dengan peluncuran roket tersebut, lanjut Adi, Lapan mengalokasikan sebagian besar dana untuk pembangunan fasilitas peroketan dan sisanya untuk mempersiapkan peluncuran satelit kembar Lapan A-2 dan Lapan A-3 yang menggunakan roket Indian Space Research Organization (ISRO) dari India. Peluncuran akan dilakukan tahun depan.


Kompas

Lapan - Kemhan Kerjasama Pengembangan Teknologi Roket Pertahanan

Roket LapanJakarta - Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menerima Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) DR. Ir. Adi Sadewo Salatun beserta rombongan, rabu 14/4, di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta. Maksud kedatangannya adalah menjalani kerjasama dalam pengembangan teknologi roket pertahanan dengan Kemhan.

Dalam acara penyampaian paparan oleh Ka Lapan, Menhan sangat menyetujui keinginan Ka Lapan untuk bekerjasama dengan Balitbang Kemhan. Menhan menyambut baik kerjasama tersebut dan meminta agar kerjasama ini dibuatkan MoU antara Kemhan dan Lapan. Selain roket pertahanan, Menhan mengharapkan ada teknologi pertahanan lainnya yang bisa di kembangkan oleh Balitbang Kemhan dan Lapan.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemhan DR. Ir. Pos M. Hutabarat, MA mengatakan bahwa Balitbang mempunyai rencana bekerjasama dengan Lapan untuk meluncurkan warhead milik Balitbang Kemhan yang bekerjasama dengan PT. pindad. Dalam proses peluncurannya, Lapan akan menggunakan roket buatannya dan Kemham akan menggunakan warhead berukuran 120 mm. Saat ini, roket dan warhead sudah siap dan akan diluncurkan hingga ketinggian 12 Km yang di rencanakan pada bulan September 2010.

Selain roket, Ka Lapan menambahkan bahwa Lapan telah membuat satelit pengintaian. Satelit milik Lapan ini bernama Satelit Mikro Lapan-Tubsat dan telah diluncurkan pada tahun 2007 yang lalu. Satelit ini berada pada ketinggian 600 km dan masih bekerja dengan baik hingga saat ini.

Keunggulannya adalah satelit tersebut bisa dikendalikan langsung dan pengambilan gambarnya bisa diperoleh secara instan. Sedangkan satelit milik luar negeri tidak seperti itu. Prosesnya sangat lambat, gambar yang diinginkan difoto dulu, lalu foto diproses dan hasilnya akan terlihat tiga hari sampai seminggu kemudian.

Selain satelit tersebut di atas, Lapan juga akan meluncurkan kembali satelit kembar. Satelit itu terdiri dari satelit surveilance dan satelit imager. Posisi satelit berada di equator pada ketinggian 650 Km. Keberadaan satelit ini dimaksudkan penggunaannya untuk berkomunikasi darurat ketika bencana terjadi di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebuat, turut mendampingi menhan Dirjen Renhan Kemhan Marsda TNI Bonggas S. Silaen, SIP, Dirjen Ranahan Kemhan Laksda TNI Gunadi, MDA, Kabalitbang Kemhan Dr. Ir. M. Hutabarat, MA dan Karo Humas Kemhan Brigjen TNI I wayan Midhio.


Kemhan

Menhan menerima Ka LAPAN


16 April 2010, Jakarta -- Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menerima Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) DR. Ir. Adi Sadewo Salatun beserta rombongan, rabu 14/4, di kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta. Maksud kedatangannya adalah menjalani kerjasama dalam pengembangan teknologi roket pertahanan dengan Kemhan.

Dalam acara penyampaian paparan oleh Ka Lapan, Menhan sangat menyetujui keinginan Ka Lapan untuk bekerjasama dengan Balitbang Kemhan. Menhan menyambut baik kerjasama tersebut dan meminta agar kerjasama ini dibuatkan MoU antara Kemhan dan Lapan. Selain roket pertahanan, Menhan mengharapkan ada teknologi pertahanan lainnya yang bisa di kembangkan oleh Balitbang Kemhan dan Lapan.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemhan DR. Ir. Pos M. Hutabarat, MA mengatakan bahwa Balitbang mempunyai rencana bekerjasama dengan Lapan untuk meluncurkan warhead milik Balitbang Kemhan yang bekerjasama dengan PT. pindad. Dalam proses peluncurannya, Lapan akan menggunakan roket buatannya dan Kemham akan menggunakan warhead berukuran 120 mm. Saat ini, roket dan warhead sudah siap dan akan diluncurkan hingga ketinggian 12 Km yang di rencanakan pada bulan September 2010.

Selain roket, Ka Lapan menambahkan bahwa Lapan telah membuat satelit pengintaian. Satelit milik Lapan ini bernama Satelit Mikro Lapan-Tubsat dan telah diluncurkan pada tahun 2007 yang lalu. Satelit ini berada pada ketinggian 600 km dan masih bekerja dengan baik hingga saat ini.

Keunggulannya adalah satelit tersebut bisa dikendalikan langsung dan pengambilan gambarnya bisa diperoleh secara instan. Sedangkan satelit milik luar negeri tidak seperti itu. Prosesnya sangat lambat, gambar yang diinginkan difoto dulu, lalu foto diproses dan hasilnya akan terlihat tiga hari sampai seminggu kemudian.

Selain satelit tersebut di atas, Lapan juga akan meluncurkan kembali satelit kembar. Satelit itu terdiri dari satelit surveilance dan satelit imager. Posisi satelit berada di equator pada ketinggian 650 Km. Keberadaan satelit ini dimaksudkan penggunaannya untuk berkomunikasi darurat ketika bencana terjadi di Indonesia.

Dalam pertemuan tersebuat, turut mendampingi menhan Dirjen Renhan Kemhan Marsda TNI Bonggas S. Silaen, SIP, Dirjen Ranahan Kemhan Laksda TNI Gunadi, MDA, Kabalitbang Kemhan Dr. Ir. M. Hutabarat, MA dan Karo Humas Kemhan Brigjen TNI I wayan Midhio.

DMC

Lapan Berhasil Luncurkan 12 Roket Jenis D 230

Uji  Coba Rudal D230LUMAJANG — Sebanyak 12 roket buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional atau Lapan meluncur di lapangan TNI AU di Kecamatan Tempeh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Rabu (27/1/2010). Roket-roket tersebut meluncur satu per satu mulai pagi hingga siang hari.

Peluncuran tersebut dilakukan dalam uji coba yang dilakukan Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama industri strategis. Hadir antara lain Menteri Negara Riset dan Teknologi Suharna Surapranata, Direktur Teknologi dan Pengembangan Rekayasa PT Dirgantara Indonesia (PT DI) Andi Alisjahbana, serta pejabat dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), PT Pindad, dan TNI. Bupati Lumajang Sjahrazad Masdar hadir pula dalam kesempatan itu.

Roket-roket yang diuji coba berjenis D 230 kaliber 122 mm. Semuanya berkarakter dari tanah ke tanah dan tanpa kendali. Prototipenya meliputi RX 1210 dengan jarak luncur 14 kilometer, RX 1210/121 3 dengan jarak luncur 18 km, dan RX 2020 dengan jarak luncur hasil simulasi sejauh 48 km.

Uji coba ini adalah bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan teknologi di bidang roket. Pemerintah bersama dengan industri strategi bersinergi dalam hal ini untuk mengembangkan roket.

Uji Coba Rudal D230Pemerintah mendukung dalam dana riset, sedangkan produksinya dilakukan industri strategis. Hal itu dikatakan Suharna di sela-sela acara.

Andi Alisjahbana menyatakan, tidak ada persoalan bagi kalangan industri strategis untuk memproduksi roket-roket tersebut. Pabrik yang selama ini sudah ada tinggal diperluas dan tim teknis disiapkan.

“Karena prototipe roket yang dikembangkan ini adalah yang memang banyak dibutuhkan, tinggal komitmen dari pemerintah untuk memproduksinya dalam volume yang banyak,” kata Andi.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi menargetkan, RX 1210 diproduksi 1.000 unit pada Juni 2010. Adapun varian lainnya masih dalam pengembangan. Teknologi roket setidaknya digunakan dalam sistem pertahanan dan satelit.




Kompas

Lapan Operasikan Stasiun Bumi di Biak


JAKARTA - Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) telah mengoperasikan stasiun bumi yang dibangunnya sendiri di Pulau Biak, Papua. Para teknisi Lapan membuat stasiun bumi itu dengan mengintegrasikan komponen-komponen yang dibelinya dan membuat sebagian software (perangkat lunak) sendiri untuk mengoperasikannya.

Sebuah kemajuan karena dua stasiun bumi sebelumnya yang ada di Rumpin dan Rancabungur, Bogor, bukan dibuat sendiri tetapi dibeli dari Amerika Serikat.

Stasiun bumi Biak digunakan untuk menerima data dari LAPAN-TUBSAT, satelit mikro yang berbobot hanya 100 kilogram yang dikembangkan bekerjasama dengan Universitas Teknik Berlin, Jerman.

LAPAN-TUBSAT diluncurkan ke orbit polar dengan ketinggian 635 km di atas permukaan bumi pada Januari 2007. Dengan dua kamera, satelit itu mampu memotret berdimensi 5 meter dan lebar 3,5 km serta 200 m dan lebar 81 km.

Perangkat komunikasi tersebut telah berhasil mengambil berbagai citra di wilayah Indonesia bagian barat, mencakup Singapura hingga Bali.

Pada tahun lalu, LAPAN-TUBSAT digunakan untuk memantau pembangunan jembatan Suramadu dan proyek jalan tol di wilayah utara Pulau Jawa. Citra LAPAN-TUBSAT dapat dilihat di situs www.lapantubsat.org.

Stasiun bumi Lapan di Biak memiliki antena untuk menangkap sinyal satelit berorbit rendah. Dalam menangkap sinyal satelit semacam itu, antena harus dapat bergerak atau berubah orientasi secara cepat karena satelit muncul dan hilang dari horizon dalam waktu singkat, kurang dari 15 menit.

Beroperasinya Stasiun Bumi penerima Biak menambah cakupan LAPAN-TUBSAT hingga wilayah Indonesia timur, bahkan hingga pantai utara Australia.

Keberhasilan beroperasinya stasiun bumi di Biak menunjukkan bahwa teknisi Lapan telah menguasai teknologi perekayasaan stasiun bumi untuk satelit orbit rendah.

Lapan akan membangun stasiun bumi serupa mulai awal tahun ini di Kotatabang, Sumatra Barat, sehingga menambah cakupan LAPAN-TUBSAT melampaui Aceh hingga Semenanjung Malaya.

Bila stasiun bumi Kototabang terwujud, maka hanya wilayah Indonesia bagian tengah saja yang belum tercakup LAPAN-TUBSAT. Namun, itu tidak berlangsung lama karena pada 2011 akan dibangun stasiun bumi di Parepare untuk menjangkau wilayah itu.




ANTARA

Telkom Jalin Kerjasama Dengan LAPAN Kembangkan Satelit Telkom-3

Uji coba LapanJakarta - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menjalin kerjasama dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di bidang pengembangan dan pemanfaatan teknologi satelit di tanah air.

“Kerjasama antara lain dengan menyertakan personil Lapan pada pabrik satelit Telkom-3 di Rusia,” kata Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah, usai penandatangan kerjasama dengan Telkom-LAPAN dengan Kepala LAPAN Adi Sadewo Salatun, di Gedung Telkom, Jakarta, Jumat.

Penandatangan nota kesepahaman juga disaksikan Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan Menristek Suharna Surapranata.

Menurut Rinaldi, ruang lingkup kerjasama mencakup pemanfaatan data citra satelit yang disediakan LAPAN untuk perencanaan, operasional dan pemeliharaan, pemasaran.

Sedangkan personil Telkom ikut dalam program pemanfaatan telemetry tracking and command (TT&C) milik LAPAN untuk operasi pengendalian Satelit Telkom-1, Telkom-2 dan Telkom-3.

Telkom bersama dengan perusahaan satelit Rusia, Retshesnev, sejak 2008 sedang membangun satelit Telkom-3 dengan investasi 200 juta dolar AS.

Satelit yang memuat 48 transponder tersebut akan diluncurkan pada tahun 2011.

Menurut Rinaldi, dua tenaga ahli LAPAN, dan 5 orang dari Telkom itu akan bertolak pada 30 Junuari 2010 ke Zhekesnogosrk, Krasnoyarsky, Rusia, untuk jangka waktu selama 18 bulan.

Keputusan Telkom mengikutsertakan LAPAN dan program internship Satelit Telkom-3, selain merupakan kontribusi Telkom dalam meningkatkan kemampuan nasional khususnya di bidang penguasaan teknologi satelit dan luar angkasa, sekaligus memberikan benefit.

Sementara itu Menteri BUMN Mustafa Abubakar menambahkan, kerjasama Telkom dan LAPAN merupakan langkah BUMN telekomunikasi menghadapi persaingan di era perdagangan bebas.



Antara

Lapan Operasikan Stasiun Bumi di Biak

Enginer Indonesia dan Jerman bekerja sama dalam pembuatan frame LAPAN-TUBSAT. (Foto: tubsat)

22 Januari 2009, Jakarta -- Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) telah mengoperasikan stasiun bumi yang dibangunnya sendiri di Pulau Biak, Papua, demikian diumumkan Lapan hari ini di Jakarta.

Para teknisi Lapan membuat stasiun bumi itu dengan mengintegrasikan komponen-komponen yang dibelinya dan membuat sebagian software (perangkat lunak) sendiri untuk mengoperasikannya.

Sebuah kemajuan karena dua stasiun bumi sebelumnya yang ada di Rumpin dan Rancabungur, Bogor, bukan dibuat sendiri tetapi dibeli dari Amerika Serikat.

Stasiun bumi Biak digunakan untuk menerima data dari LAPAN-TUBSAT, satelit mikro yang berbobot hanya 100 kilogram yang dikembangkan bekerjasama dengan Universitas Teknik Berlin, Jerman.

LAPAN-TUBSAT diluncurkan ke orbit polar dengan ketinggian 635 km di atas permukaan bumi pada Januari 2007. Dengan dua kamera, satelit itu mampu memotret berdimensi 5 meter dan lebar 3,5 km serta 200 m dan lebar 81 km.

Perangkat komunikasi tersebut telah berhasil mengambil berbagai citra di wilayah Indonesia bagian barat, mencakup Singapura hingga Bali.

Pada tahun lalu, LAPAN-TUBSAT digunakan untuk memantau pembangunan jembatan Suramadu dan proyek jalan tol di wilayah utara Pulau Jawa. Citra LAPAN-TUBSAT dapat dilihat di situs www.lapantubsat.org.

Draft LAPAN-TUBSAT. (Grafis: tubsat)

Foto citra oleh LAPAN-TUBSAT pelabuhan Hamburg, Jerman. (Foto: tubsat)

Stasiun bumi Lapan di Biak memiliki antena untuk menangkap sinyal satelit berorbit rendah. Dalam menangkap sinyal satelit semacam itu, antena harus dapat bergerak atau berubah orientasi secara cepat karena satelit muncul dan hilang dari horizon dalam waktu singkat, kurang dari 15 menit.

Beroperasinya Stasiun Bumi penerima Biak menambah cakupan LAPAN-TUBSAT hingga wilayah Indonesia timur, bahkan hingga pantai utara Australia.

Keberhasilan beroperasinya stasiun bumi di Biak menunjukkan bahwa teknisi Lapan telah menguasai teknologi perekayasaan stasiun bumi untuk satelit orbit rendah.

Lapan akan membangun stasiun bumi serupa mulai awal tahun ini di Kotatabang, Sumatra Barat, sehingga menambah cakupan LAPAN-TUBSAT melampaui Aceh hingga Semenanjung Malaya.

Bila stasiun bumi Kototabang terwujud, maka hanya wilayah Indonesia bagian tengah saja yang belum tercakup LAPAN-TUBSAT. Namun, itu tidak berlangsung lama karena pada 2011 akan dibangun stasiun bumi di Parepare untuk menjangkau wilayah itu.



ANTARA News

Peluncuran Roket Uji Muatan

Peluncuran Roket Uji Muatan


Peluncuran Roket Uji Muatan (RUM) Video pada tanggal 2 Juli 2008 di Lounching Pad Pameungpeuk Garut, merupakan hasil kerjasama antara Bidang Bangtekja Pusbangja dan Bidang Inwagan Pusterapan LAPAN. RUM dikembangkan oleh Bidang Inwagan Pusterapan, sedang muatan kamera video serta sistem penerimanya dikembangkan oleh Bidang Bangtekja Pusbangja LAPAN. Pada saat yang bersamaan juga diluncurkan 17 roket besar dan kecil lainnya termasuk RUM bermuatan GPS dan spanduk.



Spesifikasi RUM adalah, panjang 1145 mm, diameter 76 mm, berat 4.5 Kg dan berat propelan 1 Kg, kemampuan mengangkut muatan hingga 2.5 Kg dengan ketinggian jelajah hingga 1 Km.



Kamera video (mini CCTV) kembangan oleh Bidang Bangtekja LAPAN pada Nose cone RUM menghadap ke bawah kearah motor roket, serta yang dihubungan ke transmiter dengan power dari baterre mini (lithium 7.2 volt, 2000mAH). Berat total muatan kamera tersebut adalah 750g dan muatan tersebut dihubungankan dengan sistem separasi parasut pada RUM tersebut. Data dari RUM ditransmisikan ke Antena Receiver 2.4 MHz secara realtime dan direkam mulai dari awal peluncuran hingga akhir setelah Nose cone RUM dijatuhkan menggunakan parasut.

Hasil Pengembangan Roket Video

Peluncuran RUM Video 2 Juli 2008 di Garut

Sistem Akuisisi Data (Antena Receiver Video 2.4GHz, Perekam DVR & TV Monitor)


Salah contoh hasil peliputan daerah pertanian dari onboard kamera pada RUM

Indonesia's Missile Program









Indonesia's Missile Program

Roket Peluncur Satelit Dipercepat pada tahun 2012



JAKARTA - Lima tahun lagi, Indonesia akan memiliki teknologi roket peluncur satelit sendiri. Ini sesuai target Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) yang menargetkan dapat meluncurkan roket pendorong satelit bertingkat empat yang disebut dengan Roket Pendorong Satelit (RPS)-420 untuk pertama kalinya pada 2014.

"Namun, Lapan akan berupaya agar proses peluncuran itu dapat dimajukan pada 2012 sebagaimana yang diminta DPR," kata Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Dr Ing Soewarto Harhienata dalam seminar "Diseminasi Perkembangan Roket dan Satelit di Indonesia" di Kantor Lapan, Jakarta, Rabu (29/7).

Soewarto menjelaskan, pihaknya sedang merancang roket bertingkat empat dengan dua RPS guna meluncurkan satelit pemantau Indonesia pada 2014. Sebagai pendahuluan, Lapan telah berhasil meluncurkan roket RX-320 pada 30 Mei 2008 dan RX-420, 2 Juli 2009, yang dilaksanakan di Stasiun Uji Terbang Pamengpeuk, Jawa Barat.

Hingga saat ini, sebagian proses pembuatan RPS-420 itu telah dilaksanakan dan telah diujiterbangkan meski masih membutuhkan beberapa perbaikan lagi. "Kalau secara persentase (RPS-420 itu) sudah selesai kira-kira 40 persen," katanya.

Roket RX-420 saat loading di peluncur pada 1 Juli 2009.

Tergantung pembiayaan

Karena proses pembuatan RPS-420 itu dianggap lancar, DPR meminta Lapan untuk mempercepat rencana peluncurannya. Kata Soewarto, DPR meminta Lapan untuk mengajukan proposal pembiayaan agar proses peluncuran itu dipercepat dan sudah dapat terealisasi pada 2012.

"DPR sudah mengetahui tidak ada masalah di bidang teknologi (persiapan RPS-420 itu), tetapi hanya di bidang pembiayaan," kata Soewarto.

RPS-420 itu diproyeksikan terlebih dulu pada kemampuan untuk mengorbitkan satelit di antariksa, tapi belum memuat peralatan untuk pemantuan di angkasa tersebut. Jika proyek RPS-420 itu berhasil, baru Lapan menyiapkan satelit untuk diluncurkan.

Di samping roket, Lapan juga terus mengembangkan teknologi satelit. Lapan TUB-SAT (Lapan A-1) yang diluncurkan pada 2007 merupakan satelit pertama yang sebagian besar desain dan produksinya dilakukan para insinyur Indonesia bekerja sama dengan Universitas Teknologi Berlin, Jerman.

Selama ini, peluncuran satelit tersebut dilakukan di Shiharikota, India, dengan roket buatan India. Lapan masih akan menggunakan roket India untuk meluncurkan satelit Lapan A-2 yang akan digunakan untuk telekomunikasi. Proses pembuatan satelit untuk komunikasi itu dilakukan bekerja sama dengan Orari.

Source : KOMPAS.COM

Lapan Uji Coba Peluncuran Tiga Roket

Kamis, 02 July 2009 11:09 WIB

Garut,  (tvOne) 

Menristek Prof Kusmayanto Kadiman menyaksikan uji coba peluncuran tiga roket milik Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Stasiun Peluncuran Roket LAPAN Cilauteureun, Pameungpeuk Garut, Jawa Barat, Kamis pagi.

Ketiga roket yang diluncurkan masing-masing satu unit jenis RX-420, yang mulus diluncurkan Kepala LAPAN Dr Adi Sadewo pada pukul 07.00 WIB, disusul dua unit roket jenis RX-100, yang juga disaksikan Sekretaris Utama Menko Kesra, ungkap Kepala Bagian Humas LAPAN Ny. Eli Kuncahyono, Kamis pagi.

Uji coba tersebut antara lain dimasudkan, guna mengetahui kualifikasi orbiter jenis roket RX. 420 tersebut sebagai boster pendorong satelit, setelah jenis RX. 320 diuji coba terbangkan pada tahun lalu, katanya.

Sedangkan pada 2012 mendatang, diagendakan peluncuran roket empat tingkat RX.420 yang bermuatan satelit, sehingga pada momentum uji coba saat ini mendapatkan perhatian Menristek.

Masyarakat sekitar, termasuk kalangan nelayan yang terpaksa ditunda melaut selama beberapa jam hingga proses peluncuran ketiga roket tersebut tuntas seluruhnya, juga menyaksikan acara tersebut.

Sedangkan sejumlah para pelajar yang kini tengah memasuki musim liburan sekolah, juga menyaksikan dari jarak relatif jauh peluncuran roket yang melesat ke arah Samudera Hindia itu.

Peluncuran kedua RX.100 dilakukan oleh Kepala BPPT serta peluncuran ketiga masih berjenis RX.100 dilakukan oleh Sekretaris PT. Dirgantara Indonesia Adi Woso. Seluruh proses peluncuran tersebut, berlangsung mulus sesuai rencana dan tuntas pada sekitar pukul 08.45 WIB, ungkap Eli, menambahkan. (Ant

Lapan Segera Orbitkan Roket RX - 420

Kamis, 11 Juni 2009 | 19:08 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan mencoba mengorbitkan roket RX-420 untuk pertama kalinya pada 2 Juli 2009. RX-420 merupakan cikal bakal roket peluncur satelit.

Demikian dikatakan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, di Jakarta, Kamis (11/6). Menristek dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR-RI mengatakan, pengorbitan roket RX-420 dengan jarak jangkau 100 kilometer tersebut akan dilakukan karena Lapan sudah berhasil melakukan uji coba peluncuran roket RX-320 pada 2008. Menurut dia, RX 420 pada dasarnya memiliki daya jangkau yang lebih tinggi mencapai 190 kilometer seandainya struktur roket bisa dibuat lebih ringan.

"Daya jangkau roket ini bisa kita ibaratkan bila diluncurkan dari Jakarta bisa menembus Bandar Lampung," kata dia. Rencananya, uji coba akan dilanjutkan pada 2010 dengan roket yang diluncurkan merupakan gabungan dari RX 420-420 dan 2011 giliran gabungan 420-420 - 320 dan SOB 420.

Pada 2014 seluruh uji coba peluncuran roket selesai dan roket siap mengantarkan satelit dengan nama Nano Satelit dengan ketinggian 300 kilometer dan kecepatan 7,8 kilometer perdetik. "Uji coba akan terus dilanjutkan hingga 2014 dan seluruh roket siap mengantarkan Nano satelit," kata dia.

Bila seluruh uji coba orbit berhasil dilaksanakan, kata dia, maka ini akan menjadi prestasi pertama luar biasa yang bisa dipersembahkan putra terbaik bangsa.

Sementara itu, Ketua Lapan, Adi Sadewo, mengatakan, sebelumnya Lapan juga melakukan uji coba peluncuran roket dua tingkat RX-150/120 dengan bekerjasama dengan Lapan, TNI-AD dan PT Pindad. Roket dengan daya jangkau 24 kilometer tersebut berhasil diluncurkan dari wahana bergerak (Panser) pada 31 Maret 2009.

Lapan juga telah melakukan uji coba peluncuran roket RX D230 (RX122) dengan daya jangkau 14 kilometer dapat diluncurkan dengan launcher tabung. Roket berdaya jangkau 10 kilometer yang berfungsi untuk mengetahui kondisi lapangan sebelum seorang marinir diterjunkan itu diuji coba peluncurannya pada 5 Mei 2009.

Selain itu, kerja sama pembuatan roket dengan beberapa lembaga lainnya juga tengah dikembangkan yaitu, roket penangkal petir untuk melindungi fasilitas penting dan roket untuk membuat hujan buatan.


Sumber : Antara

LAPAN

LAPAN Kembangkan Roket Kendali 1.000 Km dan Balistik 400 Km

Garut (ANTARA News)- Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Adi Sadewo Salatun, mengatakan pada 2010 LAPAN sudah akan mengembangkan roket balistik bernama RX-420 dengan daya jangkau 400 km dan roket kendali berdaya jelajah 1.000 km.

"Tapi LAPAN lebih pada untuk mengindera atau surveilance, jadi bukan untuk rudal. LAPAN hanya berkonsentrasi pada roket-roket ilmiah, tetapi soal kaitan dengan pertahanan kita serahkan ke industri pertahanan dan pelaku pertahanan," kata Adi di sela peluncuran roket-roket LAPAN di Pamengpeuk, Garut, Jabar, Selasa.

Meskipun setiap warga negara memiliki hak untuk bela negara, LAPAN, ujarnya, hanya membuat bagaimana roket bisa mengorbit sendiri.

Ditanya soal komponennya, roket-roket balistik dan kendali yang diujikan ini, ujarnya, merupakan buatan LAPAN sendiri hingga softwarenya kecuali hal-hal seperti subsistemnya misalnya mikroprosesornya.

Sementara bahan bakar roket yakni oksidator dan "fuel" yang selalu diblokade oleh negara-negara maju yaitu Ammonium Perchlorate (AP) dan HTPB (Hydroxy Terminated Poly Butadiene) juga sudah mampu dikuasai ahli LAPAN.

"Kalau kita lihat performanya lebih bagus daripada yang kita impor, gradenya lebih halus. Terbukti ketika launching tadi, lebih agresif," katanya.

Roket-roket buatan LAPAN yang diuji terbang tersebut yakni tipe RX-250 satu unit, RX150 sebanyak tiga unit, tipe RX100 tiga unit, RX-70 tiga unit dan RX-70 FFAR empat unit.

Perancangan Roket RX-250 difokuskan pada upaya pengurangan berat struktur menggunakan tabung motor yang lebih tipis sehingga diperoleh ketinggian dan jarak jangkau yang maksimal.

Dimensi roket ini berdiameter 240mm dengan panjang total 4.242mm dirancang mencapai misi ilmiah dengan tinggi terbang 27,9km dan jarak jangkau 51,3km pada sudut peluncuran 70 derajat.(*)




----------------------

Support Palestine