Tampilkan postingan dengan label libanon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label libanon. Tampilkan semua postingan

Tindakan Satgas Yon Mekanis Konga XXIII-D Unifil Saat Konflik IDF dan LAF

(Foto: Reuters)

06 Agustus 2010, Lebanon -- Prajurit Satgas Yon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indobatt) dengan sigap bertindak profesional dan imparsial dalam mengemban tugas serta tanggung jawabnya selaku Peacekeeper saat terjadi ketegangan antara IDF (Israeli Defence Forces) dan LAF (Lebanese Armed Forces) di salah satu Observation Post (OP) di daerah Al-Adaisse yang terkenal dengan sebutan ”Panorama Point” dan masih dalam Area of Responsibility (AOR) Indobatt di Lebanon Selatan, Selasa (3/8).

Menurut Komandan Satuan Tugas Batalyon Mekanis Kontingen Garuda XXIII-D/Unifil (Indonesian Battalion/Indobatt), Letkol Inf Andi Perdana Kahar, tindakan menengahi yang sangat berani dilakukan oleh prajurit TNI berawal dari rencana kegiatan pemotongan batang pohon cemara yang tumbang dan mengenai pagar/Technical Fence oleh pihak IDF (Israeli Defence Forces). Kegiatan IDF ini tidak disetujui LAF (Lebanese Armed Forces) dan mendapat tentangan, karena menurut LAF pohon tersebut berada di wilayah negaranya. Walaupun kegiatan ini telah dipantau dan mendapatkan ijin dari UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) selaku pemegang mandat pemelihara perdamaian di wilayah Lebanon Selatan, namun pada kenyataannya kegiatan IDF di lapangan ini mendapatkan tentangan yang sangat keras dari LAF serta memicu ketegangan antara kedua belah pihak.

Lebih lanjut Komandan Indobatt menyatakan, sebagai pasukan penjaga perdamaian, Kompi A Indobatt telah melakukan segala upaya prosedural se-maksimal mungkin untuk meredakan situasi. Upaya negosiasi kedua pihak di lapangan yang dimediasi oleh Indobatt dan Liaison Officer (LO) dari markas UNIFIL, telah dilakukan selama kurang lebih 4 (empat) jam. Demi meredakan ketegangan yang terjadi, Danki A Indobatt Kapten Inf Fardin Wardhana mengambil resiko meloncati pagar pengaman jalan, kemudian turun mendekat ke area Blue-Line yang belum sepenuhnya bersih oleh ranjau (UXO), dengan mengibar-ngibarkan bendera PBB dan berdiri di tengah-tengah kedua belah pihak yang sedang berhadap-hadapan dengan bersenjata lengkap (pointing). Bukan hanya itu saja, anggota Tim Kompi A Indobatt yang saat itu berjaga-jaga di Observation Post (OP) tersebut, seluruhnya membantu dengan mengibarkan bendera sambil mengangkat tangan serta meminta kepada kedua pihak agar dapat menahan diri dan dapat mencari kata sepakat mengenai pemotongan pohon cemara tersebut.

Menurut keterangan yang diperoleh dari saksi mata Lettu Inf Arief Widyanto, selaku Perwira Force Protection Indobatt yang saat itu berada di tempat kejadian, dijelaskan bahwa situasi menjadi makin menegangkan dan sangat tidak terkendali saat salah satu pihak melepaskan tembakan. Tembakan tersebut selanjutnya memicu terjadinya kontak tembak antara IDF dan LAF. Sesuai prosedur, prajurit Indobatt melakukan tindakan taktis mencari tempat perlindungan di sekitar lokasi kejadian saat terjadi baku tembak antara LAF dan IDF. Sesuai dengan perintah Komando, prajurit Indobatt kemudian melaksanakan pengunduran diri mencari posisi berlindung yang aman dan menunggu perintah lebih lanjut. Baku tembak ini melibatkan dua pesawat Heli Apache dan 3 (tiga) Tank ”Markava” IDF, yang melepaskan tembakan ke arah kedudukan pasukan LAF.

Situasi pertempuran yang makin hebat dan membahayakan personel Unifil dalam hal ini Indobatt, memaksa Markas Komando Sektor Timur Unifil mengambil keputusan dan memerintahkan Komandan Indobatt untuk menarik personel Indobatt yang berada di lokasi kontak tembak ke posisi yang lebih aman sambil tetap memonitor keadaan. Dalam proses penarikan pasukan tersebut, personel Kompi A Indobatt terpecah menjadi dua kelompok yang terpisah satu sama lain karena gencarnya tembakan yang dikeluarkan oleh kedua pihak dalam pertempuran tersebut. Satu kelompok ke arah Al-Adaisse dan kelompok yang lain ke arah Kafer Kela. Dari hasil pengecekan personel, didapati masih ada dua personel yang belum diketahui keberadaannya dan putus kontak dengan induk pasukan.

(Foto: AP)

Selama satu jam lebih, keberadaan dua prajurit tersebut ternyata masih berada di lokasi peristiwa kontak senjata. Kedua prajurit Indobatt ini, terjebak dalam kontak senjata kedua belah pihak dan hanya bisa berlindung di balik bangunan tanpa dapat malakukan pengunduran dari daerah pertempuran. Setelah kontak tembak sedikit mereda Kopda Zulkarnain dan Praka Oksa berusaha mencari pasukan kawan ke arah Kafer Kela yang merupakan Area of Responsibility (AoR) Spain Battalion. Kedua prajurit ini tidak bertemu dengan satupun anggota Peacekeeper yang diharapkan berada di pos pengamatan Spainbatt, karena telah ditarik mundur oleh Komando Atas.

Dari keterangan kedua prajurit tersebut, mereka memutuskan untuk menuju ke arah Fatima Gate, persimpangan jalan dimana terdapat OP (Observation Post) Spainbatt lainnya. Sama seperti kejadian pada pos sebelumnya, mereka tidak menemukan satupun anggota UN yang siaga di tempat tersebut. Dalam keadaan putus hubungan komunikasi dengan pasukan induk serta tanpa mengetahui situasi terakhir, mereka menerima bantuan salah satu masyarakat Lebanon yang bersedia mengantarkannya ke markas Indobatt UN Posn 7-1 desa Adshit Al-Qusayr yang berjarak 15 Km dari Fatima-Gate.

Dari peristiwa kontak tembak antara LAF dan IDF telah jatuh korban dari kedua belah pihak. Dari pihak Lebanon, tiga anggota LAF dan satu orang jurnalis AL-Akhbar Lebanese tewas di tempat. Sedangkan dari pihak IDF, dua orang Perwiranya menjadi korban dan meninggal dunia. Untuk pihak Indobatt sendiri, tidak ada kerugian personel maupun material. Hal ini dikarenakan kesigapan prajurit Indobatt dalam melaksanakan tindakan pengunduran pasukan sesuai dengan STIR (Standardize Tactical Incident Reaction) yang dilakukan berdasarkan perintah Komando Atas dalam hal ini oleh Sektor Timur UNIFIL.

Puspen TNI

Panglima Bantah TNI Tinggalkan Pertempuran Israel-Lebanon

Pasukan Perdamaian PBB dari Indonesia menggunakan paser Anoa mengawasi alat berat pasukan Israel yang beroperasi dekat garis perbatasan dengan Lebanon, di desa Adaisseh, Rabu (4/8). Pasukan Israel dan Lebanon baku tembak diwilayah ini, setelah tentara Israel menebang pohon Cypress yang diklaim berada di wilayah Lebanon. Insiden ini menewaskan dua prajurit Lebanon, satu perwira Israel berpangkat Letkol serta seorang jurnalis. (Foto: AP)

05 Agustus 2010, Bogor (ANTARA News) - Panglima TNI, Jenderal TNI Djoko Santoso, membantah prajurit TNI yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (Unifil) meninggalkan medan pertempuran saat terjadi kontak senjata antara pasukan bersenjata Israel dan Lebanon.

"Bukan kabur, sampai kemarin pasukan kita berlindung di bangunan di situ," kata Djoko ketika ditemui di sela-sela rapat kerja nasional di Istana Bogor, Kamis.

Pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB untuk Lebanon (Unifil) yang melibatkan sejumlah militer profesional, termasuk batalyon TNI, menjalankan misi di Lebanon Selatan


Prajurit TNI anggota Pasukan Penjaga Perdamaian PBB bersama Prajurit Lebanon berdiri di perbatasan Lebanon-Israel di desa Adaisseh, Selasa (3/8) saat terjadi baku tembak. Satu helicopter Israel menembak dua rudal ke pos AD Lebanon dekat desa Adaisseh menghancurkan kendaraan lapis baja pengangkut pasukan. (Foto: Reuters)

Menurut Djoko, pasukan TNI justru telah melakukan upaya menjaga perdamaian dengan melaporkan kontak senjata itu.

Sesaat setelah kontak senjata, pasukan TNI langsung melapor ke pos komando dan ke pihak yang bertikai. Melapor dan berlindung, kata Djoko, adalah prosedur yang tepat yang harus dilakukan oleh pasukan TNI.

Sebagai anggota pasukan penjaga perdamaian, pasukan TNI tidak boleh terlibat dalam kontak senjata.

"Iya, kita kan peace keeping, ada mekanismenya, dilaporkan ke atas," kata Djoko.

Ia menyampaikan hal itu menanggapi maraknya pemberitaan media luar negeri tentang kaburnya tentara Unifil asal Indonesia dalam kontak tembak di Lebanon beberapa hari lalu.

Kontak senjata itu terjadi antara pasukan bersenjata Israel dan Lebanon di perbatasan kedua negara tersebut.

Bahkan, sebuah pernyataan menyebutkan bahwa pasukan Indonesia melarikan diri menggunakan taksi untuk menghindari insiden itu.

ANTARA News

Hizbulloh Ancam Perang Jika Israel Serang Lebanon

Beirut,

Pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah, Selasa, mengingatkan para pendukungnya agar tidak lagi "berpangku tangan" jika Israel menyerang pasukan Lebanon.

"Bisakah perlawanan hanya berdiam diri dan memandangi angkatan darat (Lebanon) diserang?" katanya dalam pidatonya yang disebarkan lewat video di depan ribuan pendukungnya di wilayah Beirut selatan.

Sejak saat ini, jika militer Lebanon diserang Israel di manapun perlawanan Hizbullah berada, para pejuangnya jangan lagi berpangku tangan, katanya.

"Kita akan potong tangan Israel yang hendak menjangkau pasukan Lebanon," katanya.

Hassan Nasrallah lebih lanjut mengatakan dia sudah memerintahkan para pendukung Hizbullah untuk meninggalkan basis mereka setelah kontak tembak pasukan Lebanon-Israel, Selasa. "Kami minta para pendukung kami untuk mundur dan tidak melakukan apapun. Kami sampaikan kepada presiden (Lebanon) bahwa kami tidak akan melakukan apapun," katanya.

Pidato yang berisi kebijakan terkini Hizbullah berkaitan dengan insiden baku-tembak yang menewaskan empat orang dari kedua belah pihak itu disampaikan Hassan Nasrullah dalam rangka memperingati empat tahun Perang Hizbullah-Israel tahun 2006.

Perang selama 34 hari itu berakhir pada 14 Agustus namun pemimpin Hizbullah itu menyampaikan pidatonya lebih cepat karena datangnya Bulan Suci Ramadhan pekan depan.

Berkaitan dengan insiden kontak tembak di wilayah perbatasan utara kedua negara itu, seorang perwira senior Angkatan Bersenjata Israel (IDF) dipastikan tewas.

Selain menewaskan seorang perwiranya, sumber militer Israel menyebutkan, seorang perwira lain yang berpangkat kapten juga menderita luka serius dalam insiden tersebut.

Dua tentara Lebanon dan seorang wartawan juga tewas dalam kontak senjata yang terjadi Selasa siang di dekat Kibbutz Misgav Am, seksi perbatasan paling utara Israel, itu. Perwira IDF yang tewas dalam insiden itu bernama Letkol Dov Harari (45).

Kepala AD Israel untuk Komando Utara, Mayjen Gadi Eisenkot, mengatakan pasukannya terjebak dalam apa yang disebutnya sergapan awal para penembak jitu pasukan AD Lebanon. "Kita bicara soal insiden sangat gawat di mana dua orang komandan menjadi korban," katanya kepada wartawan di Kota Kiryat Shmona.

Source :(Ant)
(tvOne)

Lebanon Dihibahkan MiG-29 Minta Helikopter Mi-24


28 Februari 2010 -- Pemerintah Rusia menyetujui menghibahkan 10 helikopter Mi-24 menggantikan 10 MiG-29, sebelumnya dijanjikan dihibahkan ke Lebanon.

Setelah Presiden Lebanon Michel Sleiman bertemu timbalannya Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Moskow, Kamis (25/2) untuk kunjungan dua hari. Kunjungan ini pertama kalinya dilakukan kepala pemerintahan Lebanon ke Rusia.

Angkatan Darat Lebanon sangat membutuhkan helikopter yang dapat dilengkapi roket dan peralatan militer canggih lainnya ungkap pernyataan Kantor Kepresidenan Lebanon, Sabtu (27/2).

Lebanon dan Rusia menandatangani kerjasama militer meliputi penyediaan peralatan militer untuk Angkatan Bersenjata Lebanon dan pelatihan perwira dan prajurit AB Lebanon.

Angkatan Udara Lebanon hanya mempunyai sejumlah jet tempur era 1950-an dan beberapaa helikopter era Perang Vietnam. Hibah MiG-29 oleh Rusia menampar hubungan militer Amerika Serikat dan Lebanon yang sudah berlangsung lama. Amerika Serikat hanya menawarkan hibah pesawat mesin tunggal Cessna Caravan untuk memperkuat AU Lebanon.




AFP/Press TV/@beritahankam

Keajaiban” Perang Israel – Lebanon

Keajaiban Perang Israel – Lebanon


Presiden Akademi Ilmu Militer Rusia, Jenderal Makhmut Gareyev berpendapat kasus penyanderaan dua tentara Israel oleh Hizbullah hanya sebagai alasan bagi Israel untuk memulai kekerasan dengan tujuan untuk memprovokasi Suriah dan Iran agar terbawa ke kancah perang.

Dalam wawancara dengan Viktor Litovkin, komentator pertahanan kantor berita Rusia RIA Novosti, berkaitan dengan krisis di Libanon selatan baru-baru ini, Gareyev mengatakan bahwa sebenarnya menemukan dua tentaranya di Lebanon bukan hal sulit bagi agen intel Israel Mossad, yang dikenal nomor satu di dunia.

“Mossad telah dapat menyelamatkan warganya dari penangkapan di Afrika. Dan tentu bukanlah suatu masalah menemukan kedua tentaranya di Lebanon,” katanya.

Menurut dia, Israel telah berkonspirasi dengan AS dalam kasus di Lebanon selatan tersebut dengan tujuan sebenarnya adalah memancing Suriah dan Iran, sehingga ada kesempatan untuk menyerang kedua negara tersebut, tepatnya pada ladang uraniumnya. Gagalnya skenario tersebut merupakan kemenangan besar bagi komunitas internasional.

“Situasi di Israel sangat mudah dibaca. Berada di sebelah Hizbullah yang “liar”, yang siap melempar misil-misil di teritori Israel dan menyerang warganya, pasti menimbulkan masalah. Menurut saya, Israel seharusnya melawan Hisbullah melalui serangan yang tepat sasaran, disertai informasi intelijen dan pendaratan pasukan yang layak. Tidak seorang pun dapat membenarkan serangan-serangan bom Israel yang luar biasa dan kematian orang tua, anak-anak dan penduduk sipil,” katanya.

“Jika pemikiran Israel dibenarkan, berarti kita (Rusia) seharusnya membom Irak ketika diplomat kita ditangkap di Baghdad. Atau London yang memberikan perlindungan kepada Zakayev dan militan Chechnya. Haruskan London dibom? Jika pemikiran seperti ini dituruti, dunia hanya akan mengalami kemunduran. Pengambilan keputusan harusnya lebih disesuaikan dengan situasinya,” tambahnya.

Negara-negara Arab sendiri dengan total penduduk hampir 100 juta, tidak memiliki sikap yang sama. Mereka bahkan tidak mengecam Israel dan tidak juga mendukung Hizbullah, walaupun demonstrasi menolak perang di Libanon telah terjadi di beberapa negara. Tidak adanya dukungan dari Arab bagi Libanon menunjukkan bahwa tidak terdapat konspirasi Arab terhadap Kristen maupun Yahudi, katanya.

Menurutnya, banyak fenomena tak terduga selama perang Israel-Libanon, “Ini adalah kali pertama sebuah pasukan independen tidak mempertahankan wilayah dan rakyatnya dari agresi pihak luar. Lebanon diserang, namun pasukannya tidak diperintahkan untuk mempertahankan negaranya sendiri.”

“Situasi ini tak dapat dipercaya. Siapa yang membutuhkan tentara semacam ini? Kenapa para pembayar pajak Libanon tetap mempertahankan situasi ini? Ini adalah situasi yang sangat berbahaya dan merupakan sinyal peringatan bagi negara lain,” ujarnya Jenderal Gareyev.

Konflik Lebanon-Israel telah memunculkan kecenderungan yang tidak menyenangkan, Selama Perang Dunia I, korban sipil tercatat lima persen dari total kerugian; dalam Perang Dunia II, jumlah ini meningkat separuhnya. Di Vietnam, korban penduduk sipil mencapai 95% dari total korban.

Kini ada kecenderungan perang tanpa kontak langsung, yakni dengan misil udara dan laut yang tentunya terkait dengan target sipil, kota-kota, fasilitas industri, sistem energi, jembatan, jalan, sekolah dan rumah sakit. “

“Mereka berpikir bahwa jika semua target tersebut dihancurkan, maka musuh akan menyerah. Sungguh suatu pemikiran yang tidak berperikemanusiaan, ” katanya, seraya menambahkan bahwa selain konvensi internasional yang melarang penggunaan gas dan racun, PBB juga harus melarang pemboman kota-kota dan penduduk sipil dalam suatu perang.

Penghancuran itu sendiri tidak membawa kemenangan bagi Israel karena Hizbullah mengambil jalan pintas sendiri melalui pegunungan, gua dan basis-basis pertahanan lainnya yang bukan di dalam kota.

“Operasi baru-baru ini yang dilancarkan pasukan Israel kepada Hisbullah dan Lebanon adalah yang terburuk sepanjang sejarah,” kata Gareyev.

“Israel mencoba menyalahkan `persenjataan Rusia` yang digunakan Hizbullah, RPG-29. senjata anti tank terbaik. Namun demikian, masih banyak terdapat ikan di lautan. Kenapa mereka berpikir bahwa Rusia memasok mereka? Saya juga tidak percaya. Beberapa tahun belakangan ini, Ukraina dan Belarusia telah memasok mereka secara diam-diam. Polandia, Bulgaria, Rumania dan Hongaria juga menjual persenjataan Soviet. Mereka berusaha menghapuskan persenjataan ini untuk digantikan dengan perlengkapan NATO, tambannya.

Sementara itu, tidak ada yang menyalahkan AS meskipun Israel berperang dengan persenjataan dari negara adidaya tersebut, kata Gareyev.

“Permasalahan timur tengah harus diselesaikan melalui meja perundingan baik sesegera mungkin ataupun suatu saat nanti. Semakin cepat kita menyelesaikan masalah ini, semakin baik bagi Israel, negara-negara tetangganya, dan para pihak yang berada dibelakangnya, ” demikian Jenderal Gareyev. (*/cax)

----------------------

Support Palestine