Product PT. PINDAD (kendaraan khusus)



COMBAT VEHICLE

Combat VEHICLE 

Special workshop ini melaksanakan repowering RANPUR dengan mesin-mesin baru dan power yang seimbang, serta re-conditioning dari bagian penting, antara lain: steering, hydraulic dan elektrikal system. 

FASILITAS
Workshop Special Function Vehicles dilengkapi dengan sarana : 

1. Computer design system dengan software-software mutakhir untuk penunjang pembuatan design, engineering maupun ergonomic dan styling serta analisis. 

2. Fasilitas manufactur antara lain flame cutting, roll, bending,TIG-WIG Welding serta CNC machines tools. 

3. Fasilitas assembling terdiri dari Crane, jig and fixture, tools serta rotary lift.

For military and comercial purpose

Kendaraan Fungsi Khusus 


Kendaraan fungsi khusus ini dapat dipergunakan untuk keperluan tempur maupun tugas-tugas kepolisian serta swasta yang memerlukan kendaraan-kendaraan sekuritas tinggi untuk menghindari ancaman secara mendadak. 

FASILITAS 
Workshop Special Function Vehicles dilengkapi dengan sarana: 

1. Computer design system dengan software-software mutakhir untuk penunjang pembuatan design, engineering maupun ergonomic dan styling serta analisis. 

2. Fasilitas manufactur antara lain flame cutting, roll, bending,TIG-WIG Welding serta CNC machines tools. 

3. Fasilitas assembling terdiri dari Crane, jig and fixture, tools serta rotary lift.

KENDARAAN TAKTIS ARMOURED PERSONAL CARRIER

RANTIS APC

Rantis APC dirancang untung peningkatan prformansi kemampuan tempur prajurit infantri dalam rangka mengejar dan mendekat pada sasaran musuh, hal ini dikenal dalam konsep Mechanized Infsantry. 
Panser beroda empat (Four wheeled drive) jenis APC berkapasitas 109 + 3 personil ini mempunyai power ratio25 HP/ton dengan menggunakan mesin diesel 4 silinder. kendaraan ini terbuat dari plat armor yang tahan terhadap tembakan. Untuk menjamin keamanan pasukan, kendaraan ini dilengkapi dengan sistem pendingin ruangan serta 'Safety Equipment'. Panser ini juga menggunakan turet yang dapat berputar 360 derajat dan mounting multiguna yang dapat dipasangkan dengan senjata AGL 40 mm, SMB 12,7 mm dan SMS 7,62 mm, yang dilengkapi dengan peluncur granat perisai (asap) yang dapat juga diisi dengan granat tajam.

Spesifikasi
General  
- Configuration 4 x 4 
- Max Combat Weight 5.2 ton 
- Crew 2 + 10 Men 
- Power-to-weight ratio 31.65 Hp/ton 
Performance  
- Max Speed on Road 100 Km/h 
- Gradient 60 % 
- Side Slope 30 % 
- Turning Radius 9.2 m 
- Steering Power Steering 
- Ground Clearence 0.350 mm 
Electrical System  
- Battery 12 Volt-60 x 2 AH 
- Alternator Capacity 24 Volt / 35 Amp 
Body Plates  
- Front,Side & Rear Armored 
- Laminated Armored Glass 30 mm 
Turret  
- Mounting Gun AGL - 40 mm ; SMS 7.62 mm 
- Smoke Discharger Cal. 66 mm, Quatity 8 
- Elevation Limit + 45' 
- Depression Limit 8' 
- Traverse (Left or Right) 360' 
- Turret Operating Mode Manual 
Engine  
- Model 4HG1 - 4 Cylinder Diesel, 121 PS @ 3200 rpm 
- Max Torque 291 Nm @ 1600 rpm - 
Transmission  
- 5 Forward, 1 Reverse - 
Suspensi  
 - Front semi-elliptic leaf spring and shock absorbers 
 - Rear semi-elliptic leaf spring and shock absorbers 
Brake System  
 - Hydraulic Vacumm Assisted Dual Circuit 
 - Tires Size 9.00 - 20, 14 Ply Rating 
Assesories  
- Reading Lamp - Winch 
- A x e - S c o o p 
- Fire Extinguishers - Air Conditioner (Double Blower)


Water canon M1W-40

Water Cannon M1W-40 
o Rancangan dasar : Kendaraan Niaga Heavy Duty 
o Kapasitas : 4000 liter
o Tekanan : 16 bar
o Perlengkapan : - Kamera & V 
- Joy stick pengatur arah penyemprot 
- Penyemprot gas air mata 
- Air Conditioning 
- Option lain sesuai permintaan pelanggan 
FASILITAS 
Workshop Special Function Vehicles dilengkapi dengan sarana: 

1. Computer design system dengan software-software mutakhir untuk penunjang pembuatan design, engineering maupun ergonomic dan styling serta analisis.

2. Fasilitas manufactur antara lain flame cutting, roll, bending,TIG-WIG Welding serta CNC machines tools. 

3. Fasilitas assembling terdiri dari Crane, jig and fixture, tools serta rotary lift.

Panser 6x6 Pindad

Panser 6x6 Pindad

Kendaraan tempur pengangkut personil (APC : Armoured personal carrier) dengan sistem penggerak 6 roda simetris, dirancang khusus untuk kebutuhan ALUTSISTA TNI-AD khususnya satuan kavaleri Dirancang dan di produksi oleh anak bangsa khusus untuk TNI, Ukuran dan operasional di sesuaikan dengan bentuk tubuh TNI dan doktrin dan taktik tempur TNI sebagai komitmen pindad dalam pemenuhan seluruh alutsista TNI Panser ini dapat mengangkut 10 personil dengan 3 orang kru, 1 driver 1 commander dan 1 gunner. dilengkapi dengan mounting senjata 12,7 mm yang dapat berputar 360 derajat


Spesifikasi
Power  
Max. Torque 650 Nm, 1300 -1600 Rpm 
Perbandingan Kompressi 19.5 
Transmissi  
Model ZF S6 - 680 
Tipe Manual 
Jumlah percepatan 6 Forward , 1 reverse 
Perbandingan gigi 1st 2nd 3rd 4th 5th 6th Reverse 
Axle  
Model ZF S6 - 680 
Jumlah axle 3 
Penggerakan Axle Semua bergerak 
Axle steer 2 axle , depan dan tengah 
Steering Menggunakan sistem Hidrolik 
Suspensi Independent suspension menggunakan torsion bar 
Rem  
Service sistem Disc brake 
Parkir Integral to drive line, Spring activated,hydraulically released 
Electrical sistem  
Accu 24 Volt 85 Ah ( 4 pcs x 12v) 
Wheel &Tire 1400 R20 / 18Ply 
 Velg R20 
Kapasitas tangki BBM 160 ltr 
Konstruksi bodi  
Bodi atas Armoured steel tebal 10 mm 
Lantai Mild steel tebal 10 mm 
Rangka bodi Besi square tebal 3,5 x 40 x40 mm 
Kaca Armoured glass tebal 30 mm 
Akses keluar  
Pintu komandan dan sopir sistem mekanik torsi bar 
Pintu belakang Ramp door sistem hidrolik dan swing mekanik 
Man hole 5 unit sistem mekanik torsi bar pada roof bodi 
Emergensi door Masing-masing 1 unit pada sisi kiri dan kanan bodi 
Armament  
Gun mounting 1 unit untuk kaliber 12,7 mm 
Granade asap Cal. 60 mm, masing-masing 3 buah pada sisi kanan 
Lubang Tembak 4 lubang tembak pada sisi kanan 
Turret  
Sudut Elevasi -5o ? 45O 
Rotari 360o 
Senjata 1 x 12,7 mm 
Munisi 500 x 12,7 mm 
Air conditioner 12 Pk , 3 unit blower 
Alat pemadam kebakaran 3 unit , 1 unit to front & 2 unit to back 
Alat Pioner 1 buah linggis , 1 buah singkup , 1 buah kapak , 
Perlengkapan  
Indikator Baterai ,Tekanan minyak lumas, Temp. air pendingin 
Lampu Lampu Tempur ( black out ) 2 bh di depan, 2 bh di belakang 
Sabuk pengaman  
Socket Radio Komunikasi  
Tempat dokumen  
Kaca spion kiri , kanan  
Rak Munisi  
Tool kits 1 set  
Performance  
Kecepatan maksimum 92 km /hr 
Sudut datang 45o 
Sudut pergi 45o 
Side Slope 35% 
Gradient 60% 
Vertical Obstacle 0,6 m 
Trecnh 1,5 m 
OPTION ALKOM  
Radio HF  
- Daerah frekwensi 2 - 30 Mhz 
- Refrensi perangkat HF-90M/INA (komersial tipe 718) 
- Daya pancar 100 Watt ( with PA) 
- Antenna 3 m with Automatic Antenna Tuner 
Radio VHF  
- Daerah frekwensi 30 - 88 Mhz 
- Refrensi Perangkat PR1077, atau VHF-90M/INA 
- Daya pancar 50 Watt ( with PA) 
- Antenna 3 m with Automatic Antenna Tuner 
Master Communication Control  
- Radio I/O Max 2 port (two way audio,PTT/Squels) 
- Audio I/O Communication bus ( Multiwire ) 
- Crew control sig Communication bus 
- PS Input 24 VDC dari PSU 
- PS ke Crew Communication bus 24 VDC

Kendaraan RPP-M

Kendaraan RPP-M

Spesifikasi
UMUM  
Jumlah Kru 10 
Konfigurasi 4 x 4 
Berat Tempur ? 3,900 Kg 
Berat Kosong ? 3,200 Kg 
Ukuran  
Panjang 4,520 mm 
Lebar 1,740 mm 
Tinggi 1,920 mm 
Wheel base 2,740 mm 
Wheel track 1,580 mm

Source : PT. PINDAD

Militer Indonesia Versus Militer Malaysia



ISTILAH SATUAN MILITER

ISTILAH SATUAN MILITER : DARI REGU HINGGA DIVISI


REGU




Regu adalah satuan militer terkecil dalam Bataliyon (Infanteri) yang terdiri minimal 20 personel.

Komandannya berpangkat Sersan Satu atau Kopral Kepala senior (yang berpengalaman).

Regu adalah bagian dari peleton.


PELETON


Kesatuan militer di bawah Kompi yang terdiri dari beberapa regu (biasanya tiga regu),

kekuatan personilnya kurang lebih 30 sampai 50 orang dan biasanya dipimpin seorang Letnan Dua.

Posisi Komandan Peleton biasanya merupakan penugasan PERTAMA, bagi perwira yang baru lulus dari Akademi Militer (Angkatan Darat) dan Akademi Angkatan Laut (kecabangan Marinir).



KOMPI


Kesatuan militer yang berada di bawah Batalyon terdiri dari beberapa peleton (biasanya tiga peleton)

Kekuatan personilnya kurang lebih dari 180 hingga 250 orang. Biasanya dipimpin seorang Kapten.

Dalam satuan infanteri, ada tiga macam kompi, yang disesuaikan dengan fungsinya, yaitu Kompi Senapan (Kipan), Kompi Markas (Kima), Kompi Bantuan (Kiban). Kompi Senapan disiapkan untuk operasi lapangan, dengan dukungan Kompi Bantuan.

Persenjatan Kompi Bantuan lebih berat dari persenjataan Kipan, persenjataan Kipan terdiri dari Senjata Mesin Sedang (SMS), mitraliur, dan mortir.


BATALIYON


Satuan dasar tempur di bawah Brigade atau Resimen yang terdiri dari suatu Markas, Kompi Markas dan beberapa Kompi (biasanya tiga Kompi) atau Baterai (istilah Kompi khusus untuk satuan Altileri).

Khusus untuk Batalyon Infantri dapat merupakan bagian taktis dari suatu Brigade dan dapat juga berdiri sendiri dengan tugas taktis dan administrasi. Contoh Bataliyon Infanteri (Yonif) yang tergabung dalam Brigade Infanteri (Brigif), adalah Yonif 312/Kala Hitam (Subang), Yonif 310/Iklas Karya Utama (Sukabumi), dan Yonif 327/Brajawijaya (Cianjur), ketiganya berada di bawah komando Brigif 15/Kujang (bermarkas di Bandung).

Yonif yang berstatus "BS" (Berdiri Sendiri), adalah Yonif yang tidak bergabung dalam Brigif, namun komandonya langsung dari Pangdam (setempat), karena biasanya Yonif tersebut adalah Yonif andalan, yang biasa disebut sebagai bataliyon pemukul Kodam. ContohYonif yang berstatus "BS", antara lain adalah Yonif 401/Banteng Raiders (Kodam IV/Diponegoro), Yonif 507/Sikatan (Kodam V/Brawijaya), Yonif Linud 733/Masariku (Kodam VIII/Trikora), Yonif Linud 100/Prajurit Setia (Kodam I/Bukit Barisan), dan lain-lain. Kategori lain adalah bataliyon yang di bawah komando Korem (Komando Resort Militer). Ini adalah kategori yang paling umum. Contoh Yonif 315/Garuda (di bawah Korem 061/Suryakencana, Bogor), Yonif 408/Subrastha (basis Kendal, di bawah Korem 073/Makutarama, Salatiga), Yonif 521 (basis Kediri, di bawah Korem 081/Dhirotsaha Jaya, Madiun), dan lain-lain.

Jumlah personil Yonif kurang lebih 700 hingga 1000 orang, Batalyon biasanya dipimpin seorang Mayor (senior) atau Letnan Kolonel.

Sedang untuk Bataliyon di luar infanteri, seperti Bataliyon Kavaleri (Yonkav), Bataliyon Artileri Medan (Yonarmed), Bataliyon Zeni Tempur (Yonzipur), Bataliyon Perbekalan dan Angkutan (Yonbekang), hitungan personelnya bukan sekadar orang per orang, namun jumlah kekuatan peralatannya dan anggota yang menjadi operator (awak) peralatan tersebut, misalnya Yonkav terdiri dari sekian tank atau sekian panser, Yonarmed terdiri dari sekian meriam, dan seterusnya. Jadi jumlah personelnya tidak sebanyak bataliyon infanteri biasa.

Bataliyon artileri ada dua macam, sesuai fungsinya: Bataliyon Artileri Medan (sasaran darat) dan Bataliyon Artileri Pertahanan Udara (sasaran udara).

Yonkav unsur persenjataan yang utama ada dua, yaitu tank dan panser. Ada Yonkav yang persenjataannya khusus panser atau khusus tank saja, atau gabungan antara keduanya. Contoh Yonkav yang persenjataannya hanya tank: Yonkav 1/Kostrad. Sedang khusus panser, contohnya Yonkav 7/Panser Khusus Kodam Jaya. Contoh yang gabungan: Yonkav 9/Serbu (Kodam Jaya), Yonkav 4/Serbu (Kodam III/Siliwangi). Yonkav yang berunsur gabungan panser dan tank, adalah bentuk yang paling umum.



BRIGADE


Satuan tempur di atas Batalyon, dan di bawah Divisi yang merupakan satuan dasar tempur terdiri dari unsur-unsur tempur (biasanya tiga Batalyon), unsur-unsur bantuan tempur dan unsur-unsur bantuan administrasi.

Brigade dapat berdiri sendiri atau merupakan bagian dari komando yang lebih besar (Divisi).

Jumlah kekuatan personelnya kurang lebih 3000 hingga 5000 personel.

Karena merupakan satuan tempur yang relatif besar (gabungan tiga bataliyon), maka ketika operasi pada tingkat brigade, kesatuan tersebut bisa bergerak sendiri, lengkap dengan unsur Bantuan Tempur (Banpur) dan Bantuan Administrasi (Banmin) sendiri. Koordinasi Banpur dan Banmin berada di bawah unit tersendiri, yaitu Detesemen Markas, dipimpin seorang Dandema.

Brigade Infanteri (Brigif) di lingkungan TNI ada beberapa macam, bisa berdasar garis komando, bisa berdasar kualifikasi.

Berdasar garis komando, ada Brigif yang berada di bawah :

Kodam [Brigif yang berada di bawah Kodam hanya ada dua, yaitu Brigif 1/Jaya Sakti (Kodam Jaya) dan Brigif 15/Kujang (Kodam III/Siliwangi)]

Kostrad [Brigif Linud 3 (Makassar), Brigif Linud 17/Kujang I (Jakarta), Brigif Linud 18/Trisula (Malang), Brigif 13/Galuh (Tasikmalaya), Brigif 9 (Jember), dan Brigif 6 (Solo)]

Berdasar kualifikasi, ada Brigif Lintas Udara (linud), dan Brigif Lintas Medan (Brigif biasa).



RESIMEN


Satuan militer di bawah Divisi yang terdiri dari beberapa Batalyon (biasanya 3 Batalyon).

Resimen merupakan satuan dengan kesenjataan yang sejenis, misalnya Resimen Arteleri Medan, Resimen Arhanud.

Resimen biasanya dipimpin seorang Kolonel.

Unsur-unsur satuan di bawah Resimen, hampir sama dengan Brigade.

Tampaknya TNI lebih cenderung memakai sistem Brigade. Itu terlihat tidak adanya lagi satuan yang memakai sebutan Resimen, setidaknya di lingkungan Angkatan Darat. Terakhir, mungkin kita masih ingat, satuan yang pernah memakai nama resimen, adalah Kopassus, saat masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).



DIVISI

Satuan tempur militer terbesar, dengan kekuatan penuh. Maksudnya secara operasional, memilki kesatuan kesatuan tempur, berikut unsur pendukungnya, yaitu bantuan tempur dan bantuan administrasi, yang berada dalam garis komando Divisi tersebut, jadi tidak perlu mendatangkan dari komando lain di luar Divisi. Seperti Divisi Infanteri yang ada di Indonesia.

Angkatan Darat memiliki dua satuan setingkat Divisi, yang keduanya berada di bawah Kostrad, yaitu Divisi Infanteri 1 (markas di Cilodong, Bogor), dan Divisi Infanteri 2 (markas diSingosari, Malang). Divisi-divisi tersebut, selain memiliki unsur tempur sendiri (infanteri, kavaleri dan artileri), juga memiliki unsur bantuan tempur (Bataliyon Zeni, Bataliyon Perhubungan, dan Bataliyon Peralatan), dan unsur bantuan administrasi sendiri (perbekalan, angkutan, kesehatan, polisi militer, dll).

Divisi biasanya dipimpin oleh seorang Mayor Jendral.



DETASEMEN


Ada beberapa pengertian istilah Detasemen :
Kesatuan yang terdiri dari pasukan atau kapal-kapal yang diambil dari kesatuan yang lebih besar dikirim untuk suatu tugas khusus. Untuk Angkatan Darat, bisa berupa kendaraan lapis baja, seperti Detasemen Kavaleri.
Kesatuan tetap yang berkekuatan kurang lebih sebesar Peleton hingga Kompi yang dibentuk untuk tugas-tugas tertentu. Contoh: Detasemen Intel (Denintel) Kostrad, Denintel Kodam, Denma Brigif, Detasemen Polisi Militer, dan Detasemen 81/Anti Teror Kopassus (sebelum dilikuidasi). Untuk kategori ini komandannya, perwira berpangkat Mayor atau Letkol.
Nama tingkat kesatuan untuk organisasi kemarkasan tingkat Komando Utama ke atas. Contoh: Detasemen Markas (Denma) Markas Besar Angkatan Darat, Denma Mabes TNI, dan Denma Makodam. Komandannya biasanya berpangkat Kolonel (untuk Mabes), atau Letkol (untuk Makodam).

Lapan Segera Orbitkan Roket RX - 420

Kamis, 11 Juni 2009 | 19:08 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) akan mencoba mengorbitkan roket RX-420 untuk pertama kalinya pada 2 Juli 2009. RX-420 merupakan cikal bakal roket peluncur satelit.

Demikian dikatakan Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman, di Jakarta, Kamis (11/6). Menristek dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR-RI mengatakan, pengorbitan roket RX-420 dengan jarak jangkau 100 kilometer tersebut akan dilakukan karena Lapan sudah berhasil melakukan uji coba peluncuran roket RX-320 pada 2008. Menurut dia, RX 420 pada dasarnya memiliki daya jangkau yang lebih tinggi mencapai 190 kilometer seandainya struktur roket bisa dibuat lebih ringan.

"Daya jangkau roket ini bisa kita ibaratkan bila diluncurkan dari Jakarta bisa menembus Bandar Lampung," kata dia. Rencananya, uji coba akan dilanjutkan pada 2010 dengan roket yang diluncurkan merupakan gabungan dari RX 420-420 dan 2011 giliran gabungan 420-420 - 320 dan SOB 420.

Pada 2014 seluruh uji coba peluncuran roket selesai dan roket siap mengantarkan satelit dengan nama Nano Satelit dengan ketinggian 300 kilometer dan kecepatan 7,8 kilometer perdetik. "Uji coba akan terus dilanjutkan hingga 2014 dan seluruh roket siap mengantarkan Nano satelit," kata dia.

Bila seluruh uji coba orbit berhasil dilaksanakan, kata dia, maka ini akan menjadi prestasi pertama luar biasa yang bisa dipersembahkan putra terbaik bangsa.

Sementara itu, Ketua Lapan, Adi Sadewo, mengatakan, sebelumnya Lapan juga melakukan uji coba peluncuran roket dua tingkat RX-150/120 dengan bekerjasama dengan Lapan, TNI-AD dan PT Pindad. Roket dengan daya jangkau 24 kilometer tersebut berhasil diluncurkan dari wahana bergerak (Panser) pada 31 Maret 2009.

Lapan juga telah melakukan uji coba peluncuran roket RX D230 (RX122) dengan daya jangkau 14 kilometer dapat diluncurkan dengan launcher tabung. Roket berdaya jangkau 10 kilometer yang berfungsi untuk mengetahui kondisi lapangan sebelum seorang marinir diterjunkan itu diuji coba peluncurannya pada 5 Mei 2009.

Selain itu, kerja sama pembuatan roket dengan beberapa lembaga lainnya juga tengah dikembangkan yaitu, roket penangkal petir untuk melindungi fasilitas penting dan roket untuk membuat hujan buatan.


Sumber : Antara

Tentara Nasional Indonesia (TNI - AL)


Tentara Nasional Indonesia (TNI AL)  


TNI Angkatan Laut adalah bagian dari Tentara Nasional Indonesia yang bertanggung jawab atas operasi laut, dipimpin oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut, yang saat ini dijabat oleh Laksamana Tedjo Edy Purdiyatno, SH. Kekuatan TNI-AL saat ini terbagi dalam 2 armada, Armada Barat yang berpusat di Tanjung Priok, Jakarta dan Armada Timur yang berpusat di Tanjung Perak, Surabaya, serta satu Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil). Selain itu juga membawahi Korps Marinir. Dan sumber Prajurit TNI AL dididik dan dilatih di AAL dan Kobangdikal serta Seskoal.

TNI-AL memiliki Slogan Jalesveva Jaya Mahe.


Sejarah TNI-AL
Sejarah TNI-AL dimulai pada tanggal 10 September 1945, ketika pemerintah mendirikan Badan Keamanan Rakyat Laut (BKR Laut). BKR Laut ini dipelopori oleh pelaut pelaut yang pernah bertugas di jajaran Koninklijke Marine (AL Belanda) dan Kaigun di masa penjajahan Jepang.

Terbentuknya organisasi militer Indonesia yang dikenal sebagai Tentara Keamanan Rakyat (TKR) turut memacu keberadaan TKR Laut yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), dengan segala kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya. Sejumlah Pangkalan Angkatan Laut terbentuk, kapal-kapal peninggalan Jawatan Pelayaran Jepang diperdayakan, dan personel pengawaknya pun direkrut untuk memenuhi tuntutan tugas sebagai penjaga laut Republik yang baru terbentuk itu. Kekuatan yang sederhana tidak menyurutkan ALRI untuk menggelar Operasi Lintas Laut dalam rangka menyebarluaskan berita proklamasi dan menyusun kekuatan bersenjata di berbagai tempat di Indonesia. Disamping itu mereka juga melakukan pelayaran penerobosan blokade laut Belanda dalam rangka mendapatkan bantuan dari luar negeri.

Selama 1949-1959 ALRI berhasil menyempurnakan kekuatan dan meningkatkan kemampuannya. Di bidang Organisasi ALRI membentuk Armada, Korps Marinir yang saat itu disebut sebagai Korps Komando Angkatan Laut (KKO-AL), Penerbangan Angkatan Laut dan sejumlah Komando Daerah Maritim sebagai komando pertahanan kewilayahan aspek laut.

Pada 1990-an TNI AL mendapatkan tambahan kekuatan berupa kapal-kapal perang jenis korvet kelas Parchim, kapal pendarat tank (LST) kelas 'Frosch', dan Penyapu Ranjau kelas Kondor. Penambahan kekuatan ini dinilai masih jauh dari kebutuhan dan tuntutan tugas, lebih-lebih pada masa krisis multidimensional ini yang menuntut peningkatan operasi namun perolehan dukungannya sangat terbatas. Reformasi internal di tubuh TNI membawa pengaruh besar pada tuntutan penajaman tugas TNI AL dalam bidang pertahanan dan keamanan di laut seperti reorganisasi dan validasi Armada yang tersusun dalam flotila-flotila kapal perang sesuai dengan kesamaan fungsinya dan pemekaran organisasi Korps Marinir dengan pembentukan satuan setingkat divisi Pasukan Marinir-I di Surabaya dan setingkat Brigade berdiri sendiri di Jakarta.
Tugas TNI Angkatan Laut

Sesuai Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 Tentang TNI Pasal 9, Angkatan Laut bertugas :
melaksanakan tugas TNI matra laut di bidang pertahanan
menegakkan hukum dan menjaga keamanan di wilayah laut yurisdiksi nasional sesuai dengan ketentuan hukum nasional dan hukum internasional yang telah diratifikasi
melaksanakan tugas diplomasi Angkatan Laut dalam rangka mendukung kebijakan politik luar negeri yang ditetapkan oleh pemerintah
melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan kekuatan matra laut
melaksanakan pemberdayaan wilayah pertahanan laut.


Organisasi

TNI-AL berada di bawah Markas Besar TNI. Perwira tersenior Angkatan Laut, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, adalah perwira tinggi berbintang empat dengan pangkat Laksamana mengepalai Angkatan Laut di bawah Panglima TNI.

Komando Lintas Laut Militer
Komando Lintas Laut Militer atau disingkat Kolinlamil adalah salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Komando ini bermarkas besar di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kolinlamil dibentuk sejak tanggal 1 Juli 1961 dengan nama Djawatan Angkutan Laut Militer (DALMIL). Panglima Kolinlamil yang sekarang menjabat adalah Laksda TNI Bambang Supeno yang menjabat sejak tanggal 11 Februari 2008.

Kolinlamil adalah Komando Utama (Kotama) Pembinaan dan Operasional. Dalam bidang pembinaan Kolinlamil berkedudukan langsung di bawah KASAL, sedangkan dalam bidang operasional berkedudukan langsung di bawah Panglima TNI.
Korps Marinir
Korps Marinir Republik Indonesia merupakan kekuatan pemukul dan pendarat TNI-AL. Secara garis besar Korps Marinir bertugas merebut kedudukan pantai musuh, mengamankan obyek fital TNI-AL dan melaksanakan tugas-tugas pertahanan negara lainnya.

Berdasarkan rencana pengembangan kekuatan TNI-AL yang baru saja disusun untuk jangka waktu 2005-2024, kekuatan Korps Marinir (Kormar) akan ditingkatkan baik dari segi struktur maupun kekuatan fisik. Saat ini jumlah personel marinir sekitar 17.000 orang, sehingga menimbulkan gurauan di kalangan militer sendiri bahwa dengan jumlah pulau di Indonesia yang juga lebih kurang 17.000 buah, maka tiap personel marinir bertugas mengamankan satu pulau. Jumlah ini di masa depan akan ditingkatkan hingga 60.000 personel.

Dalam rencana pengembangan, akan ada tiga pasukan marinir (Pasmar), yaitu kesatuan induk yang melekat di tiap komando wilayah laut (Kowilla), 2 brigade marinir berdiri sendiri, 1 komando latihan marinir dan 5 pangkalan marinir ditambah 11 batalyon marinir pertahanan pangkalan.

1. Brigade Infanteri 1/Marinir, berkedudukan di Surabaya 
Batalyon Infanteri 1/Marinir
Batalyon Infanteri 3/Marinir
Batalyon Infanteri 5/Marinir

2. Brigade Infanteri 2/Marinir, berkedudukan di Cilandak, Jakarta Selatan. 
Batalyon Infanteri 2/Marinir
Batalyon Infanteri 4/Marinir
Batalyon Infanteri 6/Marinir
Brigade Infanteri 3/Marinir 
Batalyon Infanteri 7/Marinir
Batalyon Infanteri 8/Marinir
Batalyon Infanteri 9/Marinir

3. Regu Pandu Tempur
4. Batalyon Intai Amfibi, Pasukan khusus Marinir

KEKUATAN  
Nama kapal yang dimiliki TNI-AL selalu dimulai dengan KRI, singkatan dari Kapal Perang Republik Indonesia. Selain itu juga ada kapal yang diawali dengan KAL, singkatan dari Kapal Angkatan Laut. Suatu sistem penomoran diadopsi guna membedakan tiap Kapal. Nama kapal bervariasi, mulai dari nama Pahlawan, Teluk, hingga binatang.

Setiap kapal dipersenjatai dengan salah satu atau lebih dari berbagai macam persenjataan yang tersedia menurut kelasnya, mulai dari senapan mesin 12,7mm, kanon, meriam hingga peluru kendali.

Saat ini TNI AL memiliki sekitar 68.800 prajurit, termasuk di dalamnya 18.500 personel marinir dan 1.090 penerbangan/personel udara AL. Kekuatan TNI AL secara garis besar sebagai berikut:

Kapal Republik Indonesia (KRI) berjumlah 132 kapal, KRI, dibagi menjadi tiga kelompok kekuatan :

- Kekuatan Pemukul (Striking Force) terdiri dari 40 KRI yang memiliki persenjataan strategis : 

2 kapal selam kelas Cakra.
6 Fregat kelas Ahmad Yani
3 Fregat kelas Fatahillah
1 Fregat kelas Ki Hajar Dewantara
4 Korvet kelas SIGMA (Ship Integrated Geometrical Modularity Approach)
16 Korvet anti kapal selam kelas Parchim
4 kapal cepat roket (KCR) kelas Mandau.
2 kapal cepat torpedo (KCT) kelas Ajak.
2 buru ranjau (BR) kelas Pulau Rengat.

- Kekuatan Patroli (Patrolling Force) berjumlah 46 KRI.

- Kekuatan Pendukung (Supporting Force) berjumlah 48 KRI, terdiri dari : 
8 angkut tank (AT) kelas Teluk Langsa
4 angkut tank (AT) kelas Teluk Semangka
2 angkut tank (AT) kelas Teluk Banten
8 angkut tank (AT) Kelas Frosch
1 markas (MA) kelas Multatuli
6 penyapu ranjau (PR) kelas kondor
5 bantuan cair minyak (BCM)
1 bengkel apung (BA) kelas Jayawijaya
3 bantu tunda (BTD)
3 bantu umum (BU)
1 bantu angkut personel (BAP) kelas Tanjung Kambani
3 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Pulau Rondo
1 bantu hidrooseanografi (BHO) kelas Dewa Kembar
2 kapal latih.
Kapal patroli pendukung

Kapal Angkatan Laut (KAL) adalah kapal patroli yang berfungsi untuk mendukung Pangkalan TNI AL (Lanal) dalam melaksanakan tugas-tugas patroli keamanan laut dan tugas-tugas dukungan lainnya.


KEKUATAN  LAIN  
Puspenerbal
Puspenerbal atau Pusat Penerbangan TNI AL merupakan bagian dari TNI-AL yang bertugas menyediakan fungsi penerbangan bagi operasi-operasi Angkatan Laut. Pupernerbal didirikan pada tahun 1956. Puspenerbal dibentuk sebagai sentralisasi pembinaan penerbangan TNI AL dalam suatu wadah, sehingga akan lebih menguntungkan dalam pengawasan dan pengendaliannya.
Komando Pasukan Katak
Komando Pasukan Katak atau lebih dikenal dengan sebutan Kopaska didirikan 31 Maret 1962 oleh Presiden Sukarno untuk mendukung kampanye militer di Irian Jaya.

Kopaska berkekuatan 300 orang. Satu grup di Armada Barat di Jakarta, dan satu grup di Armada Timur di Surabaya. Tugas utama mereka adalah menyerbu kapal dan pangkalan musuh, menghancurkan instalasi bawah air, penyiapan perebutan pantai dan operasi pendaratan kekuatan amfibi.
Komando Pasukan Katak TNI-AL
 
- Satuan Pasukan Katak Armada Barat (Satpaska Armabar) 
Detasemen 1 Sabotase/anti-Sabotase
Detasemen 2 Operasi Khusus
Detasemen 3 Combat SAR
Detasemen 4 EOD dan mine clearence
Detasemen 5 Underwater Demolition
Detasemen 6 Special Boat Unit

- Satuan Pasukan Katak Armada Timur (Satpaska Armatim) 
Detasemen 1 Sabotase/anti-Sabotase
Detasemen 2 Operasi Khusus
Detasemen 3 Combat SAR
Detasemen 4 EOD dan mine clearence
Detasemen 5 Underwater Demolition
Detasemen 6 Special Boat Unit


Tugas " Manusia Katak "
 

- Tugas dalam Operasi Amphibi 
Beach Recconaisance
Post Reconnaisance
Beach Clearing
SUROB (Surf Observation)

- Operasi Khusus 
Sabotase / Anti Sabotase
Clandestein
Combat SAR
Mine Clearance Ops
Send and Pick up agent

- Operasi Tambahan 
PAM VIP VVIP & Vital Obj
Underwater Survey
SAR
Underwater Salvage
Factual Information Gathering

Jumlah personel

Nil - untuk jumlah tidak pernah di ekspos karena pasukan ini mempunyai tingkat kerahasian yang tinggi dalam materi personil.
- Kegiatan saat ini
Melaksanakan Operasi khusus/Intelijen TNI dan TNI AL
Melaksanakan Operasi "Kikis Bajak"
Unit Anti Perompak Perairan Indonesia
Buru Perompak di daerah Selat Malaka
Buru Perompak di daerah Selat Sunda
Buru Perompak di daerah Bangka Belitung
Pengamanan Blok Ambalat Ambalat
Pengamanan Objek Vital Lepas Pantai Oil Rig
Latma Malindo Malaysia & Indonesia
Latma PANDU EODEX dgn Republic of Singapore Navy Naval Diving Unit / RSN-NDU secara bergantian Singapura dan Indonesia
Latma MCMEX / DIVEX dengan Tim NAVAL EOD dari 25 negara Asia Pasifik di Asia Pasifik
Latma Flash Iron / SEALEX dengan US NAVY SEAL US Navy
Latma Balance Iron dengan US Army Ranger US Army


- Detasemen Jala Mengkara
Detasemen Jala Mangkara (disingkat Denjaka) adalah sebuah detasemen pasukan khusus TNI Angkatan Laut. Denjaka adalah satuan gabungan antara personel Kopaska dan Taifib Korps Marinir TNI-AL. Anggota Denjaka dididik di Bumi Marinir Cilandak dan harus menyelesaikan suatu pendidikan yang disebut PTAL (Penanggulangan Teror Aspek Laut). Lama pendidikan ini adalah 6 bulan. Intinya Denjaka memang dikhususkan untuk satuan anti teror walaupun mereka juga bisa dioperasikan di mana saja terutama anti teror aspek laut. Denjaka dibentuk berdasarkan instruksi Panglima TNI kepada Komandan Korps Marinir No Isn.01/P/IV/1984 tanggal 13 November 1984. Denjaka memiliki tugas pokok membina kemampuan antiteror dan antisabotase di laut dan di daerah pantai serta kemampuan klandestin aspek laut.
Persenjataan
Minimi 5,56 mm, g36, HK416, SS-1, CZ-58, Styer AUG, SS-2, HK 53, UZI, SPR-1 MP5, Beretta 9 mm, SIG-Sauer 9 mm

Spesialis Antibajak kapal laut, segala bentuk teror aspek laut, sabotase, intelijen & kontra-intelijen
Pasukan Khusus AL
Prajurit Denjaka
Pada tanggal 4 November 1982, KSAL membentuk organisasi tugas dengan nama Pasukan Khusus AL (Pasusla). Keberadaan Pasusla didesak oleh kebutuhan akan adanya pasukan khusus TNI AL guna menanggulangi segala bentuk ancaman aspek laut. Seperti terorisme, sabotase, dan ancaman lainnya.[1]

Pada tahap pertama, direkrut 70 personel dari Batalyon Intai Amfibi (Taifib) dan Komando Pasukan Katak (Kopaska). Komando dan pengendalian pembinaan di bawah Panglima Armada Barat dengan asistensi Komandan Korps Marinir. KSAL bertindak selaku pengendali operasional. Markas ditetapkan di Mako Armabar.


- Detasemen Jala Mengkara
Melihat perkembangan dan kebutuhan satuan khusus ini, KSAL menyurati Panglima TNI yang isinya berkisar keinginan membentuk Detasemen Jala Mangkara. Panglima ABRI menyetujui dan sejak itu (13 November 1984), Denjaka menjadi satuan Antiteror Aspek Laut. Merunut keputusan KSAL, Denjaka adalah komando pelaksana Korps Marinir yang mempunyai tugas pokok melaksanakan pembinaan kemampuan dan kekuatan dalam rangka melaksanakan operasi antiteror, antisabotase, dan klandesten aspek laut atas perintah Panglima TNI.
Pola rekrutmen Denjaka dimulai sejak pendidikan para dan komando. Selangkah sebelum masuk ke Denjaka, prajurit terpilih mesti sudah berkualifikasi Intai Amfibi. Dalam menjalankan aksinya, satuan khusus ini dapat digerakkan menuju sasaran baik lewat permukaan/bawah laut maupun lewat udara. TNI AL masih memiliki satu pasukan khusus lagi, yaitu Komando Pasukan Katak (Kopaska). Kedua satuan pernah beberapa kali melakukan latihan gabungan dengan US Navy SEAL.
Denjaka - Terjun Stabo
Organisasi Satuan

Denjaka terdiri dari satu markas detasemen, satu tim markas, satu tim teknik dan tiga tim tempur. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. Disamping itu juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, bawah laut dan vertikal dari udara.

Pasukan Denjaka
- Korps Wanita Angkatan Laut
- Polisi Militer Angkatan Laut
source : Wikipedia
Situs resmi
http://www.tni.mil.id
http://www.tnial.mil.id
http://www.marinir.mil.id/


----------------------

Support Palestine