Tampilkan postingan dengan label Tank Ampibi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tank Ampibi. Tampilkan semua postingan

ARISGATOR : Kendaraan Pendarat Amfibi Ringan Buatan Italia

Arisgator-kendaraan pendarat amfibi ringan

Arisgator-kendaraan pendarat amfibi ringan (semua photo : ARIS)

Tidak banyak kendaraan berkemampuan amfibi yang dapat dioperasikan di laut terbuka dalam operasi pendaratan pantai oleh marinir. Salah satu diantaranya adalah Arisgator buatan Italia yang merupakan pengembangan lebih lanjut dari M113 yang banyak dimiliki oleh angkatan darat dan marinir Italia.

Dalam ulasannya Jane’s (16-Oct-09) menyebutkan bahwa perusahaan Italia ARIS SpA (Applicazioni Rielaborazioni Impianti Speciali) telah mengembangkan perangkat khusus untuk meningkatkan kemampuan amfibi kendaraan lapis baja pengangkut personil (APC) M113. Prototipe pertama dari kendaraan ini, yang disebut Arisgator selesai pada tahun 1997.

Arisgator akhirnya dapat sepenuhnya memenuhi syarat oleh Departemen Pertahanan Italia dan RINA (Otoritas Sertifikasi Angkatan Laut Italia) untuk operasi di laut dan pada pertengahan 2006 Arisgator sudah dipakai oleh Batalyon San Marco dari Resimen Pendarat Angkatan Laut Italia.

Pengembangan

Arisgator

M113 APC (buatan BAE Systems standar/US Combat Systems) seri standar sudah berkemampuan amfibi, propellernya mampu mendorong kendaraan di air dengan kecepatan maksimum 5,8 km/jam, cukup untuk operasi di air dengan arus yang tenang. M113 tidak dirancang untuk beroperasi di sungai yang arusnya deras ataupun diluncurkan dari kapal pendarat di lepas pantai.

Untuk meningkatkan kemampuan amfibi dari M113, perangkat khusus telah dikembangkan oleh ARIS yang memungkinkan kendaraan untuk beroperasi dengan aman pada operasi pendaratan dari kapal ke pantai serta di sungai.

Perangkat tersebut beratnya antara 1.350-1.700 kg termasuk haluan, atap, dan buritan, yang semuanya terbuat dari light alloy seperti pada bodi M113 aslinya Haluan depan telah ditambahkan untuk meningkatkan daya apung kendaraan dan dua unit buritan dipasang pada kedua sisi pintu belakang.

Setiap buritan dilengkapi baling-baling yang dioperasikan secara hidrostatik dan dapat digerakkan secara independen, yang memungkinkan Arisgator untuk berputar pada porosnya saat mengapung.

Snorkel terpasang di atap Arisgator yang memungkinkan mesin dan personel memperoleh sirkulasi udara selama beroperasi di air. Perpanjangan knalpot telah dipasang di sisi kanan atap dan sistem penutup khusus telah dipasang pada inlet/outlet saluran udara (pada M113 asli) hingga ke sebelah kanan posisi pengemudi. Kubah komandan di atap dan lubang palka persegi untuk pasukan di belakang tetap dipertahankan, demikian juga terhadap pintu belakang. Perubahan yang dilakukan juga membuat M113 kedap air keseluruhannya.

Kemampuan

Spesifikasi ARISGATOR

Arisgator aman digunakan di laut terbuka, bahkan dalam kondisi yang cukup berat. Yang tidak kalah pentingnya kendaraan ini juga mempunyai kemampuan di darat yang sama dengan kendaraan aslinya yaitu M113. Kemampuan bermanuver sangat mudah dalam pengendaraan, juga dapat berputar di sekitar sumbu vertikal, menunjukkan profil yang rendah di atas air, dapat dengan mudah diluncurkan, balik kembali dan disimpan oleh kapal LPD. Kendaraan dapat beroperasi dalam misi khusus yang berdiri sendiri atau pendukung kendaraan amfibi lainnya.

Untuk penggunaan di darat, Arisgator mampu dipacu hingga 60km/h dan menempuh jarak > 500km. Fungsi lainnya tidak jauh berbeda dengan M113 sehingga Arisgator tidak hanya berfungsi sebagai kendaraan pendarat saja namun dapat melakukan penetrasi jauh dari pantai.

Sesuai dengan kendaraan aslinya, berbagai macam aksesoris khusus baik dalam bidang persenjataan dan perlindungan serta semua peralatan di dalam kendaraan yang ada di pasaran dapat dipasang pada Arisgator.

Kendaraan standar mempunyai turret untuk 12,7 HMG atau 40 mm AGL dengan remote control, ballistic computer, dan peralatan sensors lainnya (video - camera, night vision system, laser range-finder, dll.) Proteksi kendaraan mampu menahan tembakan 7,62 mm AP (armour piercing) pada jarak lurus 30 m.

Arisgator adalah solusi yang menawarkan efektivitas biaya dengan rasio tinggi untuk angkatan bersenjata yang membutuhkan kendaraan pendarat amfibi dengan kemampuan tinggi dalam bermanuver, cocok untuk penggunaan khusus dengan biaya perawatan yang rendah. Perkiraan biayanya adalah seperlima dari AAV7 namun setara dalam hal penggunaan.

Defense Studies

Ranpur Amfibi LVT-7 A1 Tiba di Jakarta


7 Desember 2009, Jakarta -- Beberapa personel Korps Marinir TNI-AL berada di atas kendaraan tempur amfibi yang dihibahkan pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (7/12). Rencananya Pemerintah Korsel akan menghibahkan kendaraan tempur amfibi/tank dengan tipe LVT-7 A1 sebanyak 30 unit bersama suku cadangnya. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)



Seorang personel Korps Marinir Korsel memandu kendaraan tempur amfibi yang dihibahkan pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia keluar dari kapal setibanya di Pelabuhan Tanjung Priok. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)



Sejumlah personel Korps Marinir TNI-AL dan Marinir Korsel berada di dekat kendaraan tempur amfibi yang dihibahkan pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)


7 Desember 2009, Jakarta -- Beberapa personel Marinir Korsel memandu kendaraan tempur amfibi yang dihibahkan pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia keluar dari kapal. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)



Beberapa personel Korps Marinir TNI-AL memperhatikan kendaraan tempur amfibi yang dihibahkan pemerintah Korea Selatan kepada Pemerintah Indonesia. (Foto: ANTARA/Saptono/Spt/09)

Tank Amfibi PAL-FAV



Sukses memodifikasi tank amfibi BTR-50 TNI-AL, kali ini PT.PINDAD bekerjasama dengan PT PAL membangun tank amfibi angkut pasukan terbaru dengan nama Armoured Floating Vehicle (PAL-AFV).

Dibangun dengan mengacu pada BTR-50PM, PAL-AFV mempunyai bentuk dan spesifikasi teknis yang tidak jauh berbeda. Perbedaan mencolok hanya pada penggunaan mesin Diesel inline 8 silinder yang dipakai, sehingga tenaga yang dihasilkan mampu mencapai 300Hp.

Kemampuan jelajahnya pun bertambah dari 400Km menjadi 480Km. Untuk kecepatan bertambah dari 50Km/jam menjadi 60Km/jam dijalan normal. Namun bobot kendaraan juga bertambah menjadi hampir 15 ton.

Untuk kemampuan daya angkut personil tidak berbeda dengan BTR-50. Yakni 3 awak tank dan 14 pasukan, dengan kemampuan operasional (endurance) selama 8 jam.


BTR-50PM, hasil modifikasi PT.PINDAD.


Seperti diketahui ada beberapa titik kelemahan yang kemudian dimodifikasi dari BTR-50P. Salah satunya yang krusial adalah garis air yang posisinya sejajar dengan lubang hisap mesin. Namun hal ini telah diperbaiki dan disempurnakan di tank amfibi PAL-AFV ini.

Tidak dijelaskan kapan prototypenya akan dibuat oleh PT.PINDAD, namun berdasarkan info yang diperoleh moderator dari PT.PAL di acara Indo-Defence 2008 kemarin (19-22 November 2008) mudah-mudahan 2009 nanti sudah ada realisasinya.

Hal ini juga makin memperjelas Transfer of Technology (ToT) antara RI (diwakili PINDAD) dan Korea dalam hal penguasaan teknologi suspensi dan roda penggerak rantai. Yaitu guna menunjang pengembangan panser amfibi ini (PAL-AFV), dan rencana PINDAD merealisasikan Light-tank pengganti Scorpion.



Spesifikasi :

Source : Aultsista

PT-76 Tank Amfibi Tua TNI-AL

Manuver PT-76 saat melakukan pendaratan di pantai

Manuver PT-76 saat melakukan pendaratan di pantai

Pengakuan kedaulatan atas kemerdekaan Negara Republik Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada akhir tahun 1949 menandai berakhirnya Periode Perang Kemerdekaan 1945-1949. Pengakuan kedaulatan itu sendiri merupakan hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda, antara Pemerintah Indonesia dengan Kerajaan Belanda. Salah satu klausulnya menyebutkan bahwa Kerajaan Belanda berkewajiban untuk mengembalikan seluruh wilayah pendudukannya kepada Pemerintah Republik Indonesia, termasuk Papua Barat atau Nederlands Nieuw Guinea. Di sini disebutkan bahwa Belanda akan mengembalikan Papua Barat kepada Indonesia selambat-lambatnya dalam jangka waktu setahun setelah pengakuan kedaulatan.

Namun ternyata hingga 9 tahun setelah pengakuan kedaulatan, Pemerintah Belanda tidak juga merealisasikan klausul tersebut. Demi memperjuangkan kembalinya Irian Barat, Indonesia menempuh berbagai jalur diplomasi, termasuk melalui UNO (United Nations Organization/Persatuan Bangsa-Bangsa). Namun berbagai upaya tersebut mengalami jalan buntu, sehingga Indonesia kemudian mengumandangkan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang intinya menuntut pengembalian Irian Barat ke Ibu Pertiwi sesegera mungkin. Belanda meresponnya dengan memperkuat militer di Irian Barat termasuk mendatangkan kapal induk Hr.Ms. Karel Doorman. Menanggapi hal tersebut, Indonesia memutuskan menyelesaikan masalah Irian Barat melalui kekuatan militer sebagai pendukung jalur diplomasi.

Sementara itu di bidang militer, Indonesia menyadari bahwa kondisi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI) tidaklah seimbang jika dibandingkan dengan Belanda. Untuk itulah Indonesia berupaya mendatangkan sejumlah peralatan militer, baik pembelian baru maupun “second hand”, dari berbagai negara sejak tahun 1958. Upaya pertama ditempuh dengan pendekatan kepada negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat, namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Hal tersebut dikarenakan “kentalnya rasa solidaritas” mereka terhadap Belanda yang juga merupakan anggota Organisasi Pertahanan Atlantik Utara (NATO/North Atlantic Treaty Organization) yang berbasis di Eropa Barat.

PT-76 in Action, tampilan kubah versi lama dengan meriam 76mm

PT-76 in Action, tampilan kubah versi lama dengan meriam 76mm

NATO yang dipimpin Amerika merupakan kekuatan penangkal terhadap ancaman militer dari Pakta Warsawa yang dipimpin Uni Soviet. Sejak era Perang Dingin (cold war) dimulai tahun 1949, dua kekuatan adidaya dunia tersebut senantiasa bersaing mengembangkan pengaruh dan kekuatan militernya di seluruh belahan dunia. Celakanya, Indonesia yang menganut politik bebas aktif turut terseret dalam perseteruan dua raksasa tersebut. Kemenangan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam Pemilu 1955 dipandang sebagai ancaman bagi dominasi Amerika di Asia Timur, sehingga mau tidak mau lebih memilih “mendukung” Belanda, walau jelas-jelas telah melanggar kesepakatan dalam KMB. Oleh sebab itu maka pembelian peralatan militer oleh Indonesia yang dipandang membahayakan Belanda terkesan dihambat.

Menghadapi kondisi yang “menghimpit” tersebut, memaksa Indonesia “melirik” negara-negara Blok Timur, seperti Uni Soviet, RRC dan Yugoslavia. Sejak tahun 1960 mengalirlah sejumlah besar peralatan militer modern asal Uni Soviet ke Indonesia, dan salah satunya adalah tank amfibi ringan PT-76 (Plavayushtshiy Tank-76).

Kelahiran PT-76

PT-76 pertama kali diperkenalkan kepada publik dan diproduksi secara massal oleh Uni Soviet sejak tahun 1954. Desain dasarnya sebenarnya telah dirancang sejak pertengahan Perang Dunia II. Kendaraan lapis baja berawak 3 orang ini berfungsi utama sebagai kendaraan intai tempur di jajaran AB Uni Soviet dan 23 negara lainnya. Kondisi geografis Uni Soviet serta Eropa bagian tengah dan timur yang banyak memiliki rawa-rawa, danau dan sungai besar mendasari pembuatan tank amfibi ini.

PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit

PT-76 dalam defile HUT ABRI 1978. Terlihat meriam belum mengalami retrofit

Soviet bermaksud menjadikan PT-76 sebagai ranpur terdepan yang akan menjebol pertahanan NATO dari garis belakangnya. Kesuksesan Rommel dalam melabrak pertahanan Sekutu di hutan Ardennes, Perancis, dan Amerika saat memotong kekuatan militer Korea Utara di semenanjung Korea, merupakan obsesi Soviet. Rangka dasar PT-76 kelak banyak memunculkan dan menjadi ilham bagi pembuatan kendaraan-kendaraan tempur (ranpur) lainnya, seperti BTR-50, panser angkut meriam gerak sendiri ASU 85 dan kendaraan angkut peluncur rudal Frog-2.

PT-76 secara fisik memiliki bobot dalam keadaan kosong 13,5 ton dan dalam keadaan siap tempur 14,5 ton. Agar mampu beroperasi di perairan dalam maka tank ini hanya memiliki lapisan baja yang tipis, yaitu 14 mm di bodi dan 17 mm di turet, tidak seperti tank sejenis di kelasnya. Sementara itu untuk mengurangi beban penumpang, maka komandan tank juga merangkap sebagai pengamat medan, awak meriam dan operator radio. Dimensi baku PT-76 jika diukur tanpa meriam memiliki panjang 6,91 m, lebar 3,14 m dan tinggi 2,21 m, kemudian ketinggian dari tanah ke kolong tank (ground clearance) adalah 0,37 m. Jika diukur dengan panjang meriam serta ketinggian senapan penangkis serangan udara yang terdapat di PT-76 maka dimensinya menjadi: panjang 7,62 m, lebar 3,14 m dan tinggi 3,70 m.

Tenaga penggerak PT-76 dihasilkan dari mesin diesel 4 silinder jenis V-6 yang berkekuatan 240 tenaga kuda atau 1.800 rpm. Bahan bakar yang dibutuhkan adalah 250 liter solar (HSD) kemudian 60 liter air sebagai pendingin radiator serta menggunakan pelumas mesin jenis DCO.50 sebanyak 45 liter. Ini membuat PT-76 mampu melaju dengan kecepatan hingga 45 km/jam di jalan raya sepanjang 260 km, 30 hingga 35 km/jam di jalan biasa dan 25 km/jam di jalan bergelombang sejauh 210 km. Kelebihan PT-76 ini terletak pada kekuatan mesinnya, karena mampu memberikan kemampuan berenang yang baik ke arah muka sebesar 11 km/jam untuk jarak 70 km dengan waktu tempuh 8 jam. Sedang jika bergerak ke belakang, memiliki kecepatan hingga 5 km/jam. Itulah sebabnya mengapa PT-76 dipandang memiliki kualifikasi sebagai tank pendarat amfibi.

Sebuah PT-76 milik Vietnam Utara yang berhasil dihancurkan oleh militer AS

Sebuah PT-76 milik Vietnam Utara yang berhasil dihancurkan oleh militer AS

Kelebihan lain dari PT-76 adalah mampu mendaki ketinggian di kemiringan hingga 38 derajat ataupun penghalang tegak setinggi 1,06 m, mampu berjalan stabil pada medan yang memiliki kemiringan hingga 18 derajat, melintasi parit selebar hingga 2,8 m atau melintasi turunan hingga sedalam 0,75 m dengan besar tekanan pada permukaan 0,49 kg/cm persegi dan dengan perbandingan daya terhadap bobot sebesar 17,5 daya kuda/ton. Sementara itu sudut masuk saat tank akan berenang di laut, danau atau sungai besar adalah 30 derajat dan saat keluar ke permukaan sudut dongak moncongnya adalah 25 derajat. Sistem tenaga kelistrikan PT-76 bersumber pada 2 buah accu (aki) yang masing-masing bertegangan 12 Volt. Sebagai sarana komunikasi, PT-76 menggunakan radio tipe R-123.

Persenjataan Yang Dimiliki

Tank PT-76 secara standard dipersenjatai dengan 2 jenis senjata, yaitu sepucuk meriam berkecepatan rendah jenis D-56TM kaliber 76,2 mm dan sepucuk senapan mesin koaksial jenis SG-43 kaliber 7,62 mm. Sebagai tambahan, PT-76 juga dapat diperlengkapi dengan sepucuk senapan mesin penangkis serangan udara jenis DShK kaliber 12,7 mm yang ditempatkan di kubah yang memiliki sistem penggerak ganda, yaitu manual dan elektrik, yang mampu berputar penuh 360 derajat dalam tempo 20 detik. Meriam D-56TM memiliki panjang laras 3,315 m dan mampu menembak beruntun sebanyak 40 kali dengan kecepatan antara 8 hingga 15 tembakan per menit serta memiliki daya jangkau tembakan hingga 4 km.

PT-76 saat keluar dari pintu KRI Surabaya

PT-76 saat keluar dari pintu KRI Surabaya

Pada penembakan tunggal, meriam jenis ini mampu menjangkau jarak sejauh 12,8 km. Meriam ini memiliki sudut dongak tertinggi hingga 40 derajat dan sudut terendah saat menunduk adalah 4 derajat. PT-76 mengangkut amunisi meriam sebanyak 40 butir campuran yang terdiri atas amunisi jenis HE (high Explosive), HEAT (High Explosive Anti Tank) dan HVAP (High Velocity Armour Piercing). Sementara itu senapan mesin koaksialnya yang berbobot 13,8 kg dibekali 1000 butir peluru dan tersimpan dalam 4 magasen. Senapan mesin SG-43 mampu menembak secara beruntun 350 tembakan per menit dengan jarak efektif 2 hingga 2,5 km. Senapan mesin ini terletak di sebelah kanan meriam. Kemudian sebagai pertahanan diri para awak PT-76 juga dibekali dengan 18 buah granat tangan. Khusus pada tugas-tugas operasional di malam hari, awak senapan mesin ditunjang dengan teropong bidik jenis TSK 66.

Retrofit PT-76

Tank amfibi PT-76 secara resmi masuk ke dalam jajaran kesatuan kavaleri APRI sejak tahun 1962. Namun karena berkemampuan amfibi maka sebagian besar tank ini lebih banyak dioperasikan oleh Batalyon Panser Amfibi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL), atau yang sekarang dikenal sebagai Batalyon Kendaraan Pendarat Amfibi Korps Marinir TNI AL. Awalnya ranpur ini dipersiapkan untuk menunjang pelaksanaan operasi kampanye militer terbesar dalam sejarah Indonesia, yaitu Operasi Jayawijaya, yang akan digelar dalam rangka pembebasan Irian Barat. Pada perkembangan selanjutnya, PT-76 secara aktif dilibatkan dalam berbagai kegiatan operasi keamanan di dalam negeri dan operasi militer seperti Dwikora (1964-1965) di perbatasan Indonesia–Malaysia, Operasi Seroja (1975-1979) di Timor Timur dan Operasi Pemulihan Keamanan Terpadu di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (2002-2005).

PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam 90mm

PT-76 yang telah diretrofit, kini sudah dipasangi meriam 90mm

Hingga memasuki era millennium ini, tank antik eks Rusia ini masih aktif dioperasikan oleh TNI AL dalam berbagai kegiatan penugasan dan latihan. Namun sesungguhnya kondisi PT-76 saat ini sangat berbeda dengan kondisi awalnya yang masih “asli” Rusia. Hal ini disebabkan adanya penggantian sejumlah mesin utama dan persenjataan dari produk Rusia ke produk negara-negara Barat. Keadaan tersebut tidak terlepas dari perkembangan situasi politik yang terjadi. Pada tahun 1965 meletus peristiwa berdarah G-30-S yang diduga didalangi oleh PKI, yang berujung dibubarkannya partai tersebut dan dinyatakan sebagai partai terlarang. Kebijakan pemerintah Indonesia itu kontan menuai protes keras dari Uni Soviet dan sekutu-sekutunya, dan akhirnya dilakukanlah embargo suku-cadang bagi PT-76. Embargo tersebut sempat menyulitkan pemeliharaan dan perawatan tank amfibi ini, hingga terpaksa dilakukan kanibalisasi. Namun mengingat PT-76 masih dipandang sebagai ranpur yang berperan penting dalam menunjang kegiatan operasi keamanan, untuk itu ditempuhlah kebijakan untuk mengganti mesin dan persenjataannya atau istilah kerennya “retrofit”.

Retrofit atau kegiatan peremajaan dimulai sejak tahun 1990 pada sejumlah Tank PT-76 yang masih layak pakai. Peremajaan dan modifikasi PT-76 antara lain meliputi: – Penggantian mesin diesel 4 silinder V-6 Rusia yang berkekuatan 240 daya kuda dengan mesin diesel 2 Tak 6 silinder jenis DDA V-92 T Turbo Charge seberat 1200 kg buatan Amerika Serikat yang berkekuatan 290 daya kuda. Penggantian ini memungkinkan PT-76 melaju di jalan raya dengan kecepatan hingga 58 km/jam, di jalan biasa 35 km/jam dan di medan terbuka 40 km/Jam. Meskipun demikin kecepatan saat berenang, baik ke arah muka maupun belakang, sama dengan spesifikasi “aslinya”. – Penggantian meriam D-56TM yang memiliki alur dan galangan berjumlah 32 buah, dengan meriam berkecepatan tinggi seberat 519 kg jenis Cockerill Mk.III A-2 kaliber 90 mm buatan Belgia. Meriam baru ini memiliki panjang laras 3,248 m dengan jumlah alur dan galangan 60 buah serta dibekali 36 butir peluru berbagai jenis. Meriam buatan Belgia ini memiliki jangkauan tembakan sejauh 2,2 km dan pada penembakan tunggal mampu mencapai 6 km. Adapun sudut dongak meriam ini 36 derajat dan tunduk 6 derajat. Sementara itu senapan mesin DShK diganti dengan FN GPMG kaliber 7,62 mm buatan Belgia. Meskipun telah berusia tua dan mengalami serangkaian peremajaan, namun PT-76 terbukti merupakan ranpur yang handal dan “bandel”. Kiranya cukup beralasan jika PT-76 Indonesia dijuluki “Battle Proven” alias Jago Perang yang melegenda di lingkungan Korps Marinir TNI AL.

(Source : Majalah Cakrawala TNI-AL)

Ampibious Tank BMP-3F

BMP–3F yang diproduksi oleh Rusia adalah kendaraan tempur (Ranpur) lapis baja yang bisa dikatakan sempurna dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris).

Awalnya angkatan bersenjata Rusia mulai menggunakan Ranpur jenis BMP sejak tahun 1980 dengan type BMP–2 (sekelas BVP-2 Slovakia yang TNI punya), pada akhir dasa warsa 1980-an.

BMP–2 sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan pertempuran saat ini, selain fungsi ganda sebagai kendaraan angkut personil dan sebagai ranpur utama.


BMP–2, ranpur angkut personil yang dijadikan basis pengembangan BMP-3

Diantara beberapa masalah yang belum terpecahkan saat membuat Ranpur baik di Rusia maupun di negara barat
adalah :
• Kemampuan menghancurkan musuh dengan instalasi yang dapat meluncurkan roket kendali anti Tank.
• Kemampuan menembakan peluru kanon ketika ranpur bergerak dalam segala kondisi cuaca (siang dan malam).
• Kemampuan menembak secara efektif dari segala jenis senjata (shell) ketika Ranpur/ panser mengarungi laut bergelombang di segala cuaca.
• Digunakannya roda-rantai sebagai dasar swa-gerak.
Permasalahan ini dapat terpecahkan ketika BMP–3F dibuat. Hasil uji coba dalam iklim yang berbeda, baik di darat maupun di laut menegaskan efisiensi dan efektifitas yang tinggi pada BMP –3 F.


BMP-3 dengan corak gurun milik UEA

Di era 90-an BMP–3 pernah di ujicoba di United Arab Emirates bersama dengan ranpur lainnya, diantaranya buatan Inggris dan Amerika. Dari hasil ujicoba tersebut memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan pada BMP-3.

Selanjutnya BMP–3 disempurnakan kembali khususnya untuk manuver di laut, dimana penambahan Snorkel (sirkulasi
udara saat manufer di laut ruang pasukan / tempur tetap normal), dan perbaikan pada tameng di kubah untuk menahan air agar tidak masuk ruang tempur.


Modernisasi meriam pada ranpur berbasis BMP-3

Dengan penyempurnaan ini versi BMP–3 menjadi BMP–3F, BMP–3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain :
• Kontruksi (chasis) BMP–3F memungkinkan untuk dimodernisasi, mudah perawatannya dan minim pemeliharaan.
• Dengan adanya beberapa penyempurnaan BMP–3F menjadi ranpur segala medan yang cukup berat, namun hal ini bisa diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih baik
• BMP–3F mengaplikasi persenjataan baru (SKS Arteleri – Roket – Meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis.
• BMP-3F mampu menembak tepat dari segala jenis senjata saat bergerak karena di BMP3F sudah menggunakan skema balok
penggontrol penembakan otomatis yang baru (pola stabilizer sistem baru).


Turet BMP-3F, sistem kontrol penembakan dapat dilakukan secara otomatis.

• Kunstruksi persenjataan BMP–3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): Meriam, peluncur roket berkaliber 100mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan Mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan
awak ranpur dapat memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam situasi tempur tergantung dari sasaran yang diinginkan baik darat, laut maupun udara.

Indonesia Akan Terima Hibah 35 Unit Ranpur Amfibi Dari Korsel


LVT7A1 Korea Selatan

Jakarta – Pemerintah Indonesia akan menerima kendaraan tempur (ranpur) amfibi tipe LVT7A1 (Landing Vehicle Tracked 7A1) melalui mekanisme hibah dari Pemerintah Korea selatan. Selanjutnya kendaraan tempur tersebut akan digunakan oleh TNI Angkatan laut . Demikian dikatakan Direktur Jenderal Rencana Pertahanan Departemen Pertahanan (Dirjen Ranahan Dephan ) Marsdya TNI Eris Herryanto, Jum’at Sore (13/11), dalam jumpa pers yang diadakan di Balai Media Dephan, Jakarta.

LVT7A1 Korea SelatanLebih lanjut Dirjen Ranahan menjelaskan bahwa hibah ranpur ini diawali dengan Defence Industri dan Logistik Meeting yang dituangkan dalam Minutes of 14 th Joint Committee Meeting on Defense Industry & Logistic Cooperation antara Republik Korea dan Republik Indonesia di Seoul bulan Agustus 2007, pihak Korea menawarkan hibah 42 unit Ranpur LVT7A1 buatan Amerika Serikat Tahun 1983.

Dijelaskan Dirjen Ranahan, adapun spesifikasi teknis dari Ranpur LVT7A1 ini adalah memiliki berat 22, 8 ton, panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, tinggi 3,27 meter, memiliki daya angkut 3 crew dan 21 orang personel, serta Ranpur ini juga memiki kelebihan dapat berputar 360 drajat di atas permukaan air dan memiliki dua pintu di atas dan di belakang.

Semula hibah ranpur amfibi tipe LVT7A1 akan dikirim ke Indonesia dalam tiga tahap, yaitu tahap pertama akan dilaksanakan pada Oktober 2008 sebanyak 15 unit, tahap kedua tahun 2009 sebanyak 15 unit dan tahap ketiga tahun 2010 sebanyak 5 unit.

LVT7A1 Korea SelatanNamun pada pelaksanaannya pengiriman tahap pertama baru tiba pada tanggal 7 Desember 2009 dengan jumlah Ranpur 10 Unit LVT7A1 dengan mempergunakan kapal jenis LPH Dokdo dan dikawal oleh satu Frigate dari Angkatan Laut Korea Selatan.

Sehubungan dengan akan diterimanya hibah ranpur amfibi tipe LVT7A1 ini, pihak TNI AL akan mengirimkan 15 personelnya untuk mengikuti maintenance dan operasional Training dengan komposisi 5 personel untuk maintenance Training selama 1 bulan dan 10 personel untuk Operational Training selama 1 minggu. Menurut rencana 15 personel ini akan diberangkatkan ke Seoul pada tanggal 21 November 2009 dengan waktu kembali yang berbeda sesuai dengan keikut sertaannya dalam training.

LVT7A1 Korea Selatan

(Source : DMC)




----------------------

Support Palestine